Tampilkan postingan dengan label islamic post. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islamic post. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Juli 2023

Bagaimana kamu bisa begitu percaya pada agama mu adakah kisah dalam hidup mu yang membuat kamu yakin?

Kalau saya ya… ini kisah saya, bukan untuk memaksakan pemikiran, just sharing. Ini daripada suatu peristiwa, lebih mirip "sebuah perjalanan pemikiran". Terserah mau setuju atau nggak dengan pemikiran saya, ini pemikiran saya yang saya anut sendiri. Beda pendapat nggak apa-apa, asalkan nggak bikin sampai berantem/debat kusir aja, apalagi memaksakan pendapat 
Pertama, yang paling simpel, adzan. Saya dulunya sempat mengamati adzan. Sesimpel, lu/kita manusia mau sholat mau kagak—nanti aja dulu lah sholatnya mah, tapi bumi ini kan berputar, dan tiap hari ada pergantian waktu dari pagi ke siang ke sore ke malam. Dan pergantian waktu pada tiap wilayah itu berbeda-beda = zona waktu di seluruh dunia bisa berbeda kan? Terus kalau misal, ini misal, di seluruh penjuru bumi ini manusianya semua memeluk agama Islam, saya rasa tiap menit tiap detik, pokoknya tiap saat deh, tiap hari 24/7 itu pasti isinya adzan semua. Maksud saya begini, adzan itu kan menyerukan tentang:
-Kebesaran Allah (Tuhan)
-Syahadat/persaksian tentang Allah
-Syahadat/persaksian tentang Rasulullah SAW
-Ajakan sholat (sebagai wujud keislaman dan keimanan manusia, bukti berwujud perbuatan jika betulan mengimani dan mau menyembah Allah serta mau mengimani Rasulullah)
-Ajakan menuju kemenangan (dengan berislam dan beriman kepada Allah Swt)
-Pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Swt
Naaahhh kalau menurut saya pribadi setelah mengamati, ternyata adzan itu ajaib sih… dalam artian kalau dipikir jauh dan mendalam, itu beneran "panggilan" dari Tuhan sih menurut saya, Tuhan yang asli. Soalnya… siapa sih manusia yang kepikiran sistem "senarsis" dan se… apa ya… seterencana dan seideal itu (walau pada praktiknya tidak terjadi seideal itu) supaya nama Tuhannya bisa disebut-sebut terus setiap saat selama bumi ini masih berputar? Saya rasa adzan itu beneran seruan dari Tuhan sih, bukan bikinan manusia. Terlepas dari manusianya bakalan menjalankan adzan dan melaksanakan sholat atau tidak pada setiap harinya, pokoknya sistemnya sudah ideal seperti itu, seolah-olah Allah tuh mau menunjukkan banget "Ini gue lho Tuhan yang sebenarnya, gue Tuhan!" Makanya saya jadi percaya pada Tuhan yang disembah dalam agama Islam. Mana dalam sholat ada adegan/gerakan sujud segala. Yang saya tangkap, itu menunjukkan serendah-rendahnya posisi manusia pada saat menghamba/melakukan penghambaan terhadap sesuatu. Memang se-Agung itu berarti ya Tuhan dalam Islam = cocok menjadi Tuhan kalau menurut pemikiran pribadi saya. Sudah namanya (idealnya) disebut-sebut terus tiap saat, disembah dengan cara yang sedemikian menghamba, kurang powerful apa coba Allah Swt sebagai sosok Tuhan? *sekali lagi ini pemikiran pribadi ya
***Tuhan narsis? ***Yaaaa… setahu dan sepemahaman saya kalau di Islam konsepnya memang begitu, Tuhan Maha Segalanya (yang baik-baik), cuma Tuhan Yang Maha Segalanya, sehingga hanya Tuhan saja yang boleh sombong. Para makhluk-Nya itu cuma "dipinjemin" doang secuil kekuatan dan sifat-sifat baik yang menyerupainya. Jangankan sifat, badan aja hanya pinjaman dan titipan dari-Nya.
***Tuhan kok narsis??*** Ya suka-suka Beliau lah, kan Beliau yang menjadi Tuhan. Ya suka-suka Tuhan. Mau manusia jungkir-balik macem apa juga, mau jadi orang jahat kek, orang baik kek, percaya Tuhan kek, gak percaya Tuhan kek, mau nanti masuk surga kek, masuk neraka kek, tetep aja Tuhan itu ya Tuhan, dan manusia ya cuma manusia doang. Kalau di kepercayaan pribadi saya, Tuhan ya tetap hanya Allah Swt. Ya gitu sih, mau saya ngapain juga, yaudah Beliau tetep aja Tuhan. Saya pribadi berpikir, dunia panggung sandiwara ini sebetulnya hanyalah salah satu panggung Tuhan untuk menunjukkan bahwa Beliau Maha Kuasa, alias dunia ini hanyalah ajang pameran kekuasaan-Nya saja begitu. Tapi ini pemahaman pribadi saya aja sih, silakan aja kalau mau disagree dan nggak sepaham—tapi saya nggak menerima berantem/adu argumen/debat kusir yang ribut, apalagi sampai memaksakan pendapat.
Terus, saya kan juga senang mengamati manusia dan menebak-nebak sekalian alur pikiran manusia. Terkadang tebakan saya benar, terkadang agak benar, terkadang salah, terkadang bahkan salah banget. Tapi dari observasi saya sendiri, saya malah jadi bisa melihat/menyaksikan "drive"/pendorong/penggerak/stimulator/apalah pada diri manusia. Bisa disebut hasrat juga kali ya?
Lalu ketika saya amati, hasrat manusia itu sebenarnya mirip sifat Tuhan tapi dalam versi tidak sempurnanya. Ya balik ke omongan saya sebelumnya soal Tuhan meminjamkan secuil dari kekuatan dan sifat baiknya kepada manusia. Contohnya kayak… banyak manusia berlomba-lomba menjadi penguasa di dunia ini, dan ingin menjadi penguasa tertinggi, paling berkuasa diantara semua penguasa, menjadi raja-diraja, di atasnya kaisar kali tuh, gatau istilahnya apa. Pokoknya lihatlah itu dinamika perpolitikan di berbagai belahan dunia, banyak orang berlomba-lomba jadi penguasa. Kalau menurut pengamatan pribadi saya, itu seperti sifat Tuhan (Allah Swt) Yang Maha Kuasa dan Maha Raja tapi versi manusianya. Tapi yaaa… namanya juga manusia, nggak sempurna lah, nggak ada pemimpin manusia yang sebaik itu, pasti ada plus-minusnya.
Contoh lain, banyak manusia yang ingin menjadi sosok super-baik atau bahkan menjadi sosok hero/pahlawan dalam kehidupan orang lain, karena saking baik hati, pengasih dan penyayang serta sangat peduli pada orang lain. Saya melihatnya itu mirip sifat Tuhan (Allah Swt) Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tapi yaaa… balik lagi, namanya juga cuma manusia, nggak bisa cuma terus-terusan memberi, pasti ujung-ujungnya ingin kebaikan dan kasih sayang yang telah diberikan itu diterima dan dihargai oleh orang yang ia berikan kasih-sayang, kalau perlu tuh dibalas juga gitu kan. Yaaaa… namanya juga manusia.
Dan lain-lain, intinya manusia itu sering punya hasrat ingin menjadi SI PALING, ya SI PALING apa kek gitu yang mirip sifat Tuhan karena memang "dipinjamkan" oleh-Nya, ya misalnya mau disebut jadi si Paling Kaya lah (Tuhan Maha Kaya), si Paling Sabar lah (Tuhan Maha Sabar), si Paling Kuat (Tuhan Maha Kuat), si Paling Seniman/si Paling jago menciptakan suatu karya (Tuhan Maha Pencipta), dsb.
Contoh lain lagi, banyak manusia yang ingin menjadi sosok berfaedah/berguna/bermanfaat selama hidupnya, entah bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, apapun, APAPUN, apapun paham yang mereka anut. Bahkan walau mereka ateis atau agnostik sekalipun, tetapi jika mereka masih bermoral, itu biasanya sedikit banyak masih ingin hidupnya berguna dan bermanfaat agar lebih bermakna. Pokoknya selama masih manusia yang berakal dan kejiwaannya tidak terganggu tuh drive-nya saya amati para manusia condong akan seperti itu. Saya rasa itu sesuai dengan konsep di Islam yang mengatakan bahwa Tuhan (Allah Swt) tidak menciptakan suatu apapun dengan sia-sia.
Terus banyak juga manusia yang kalau bisa ingin hidup abadi selama-lamanya. Kalau sepemahaman saya, di Islam, memang ada yang namanya afterlife/kehidupan setelah kematian, dan… di afterlife itu… kita hidup abadi lho. Maksud saya, sebenarnya tanpa maksud menyinggung keyakinan lain, ada sebagian orang yang tidak percaya afterlife, tapi menjalani hidup di dunia ini dengan maksimal dan punya drive/hasrat kalau bisa sih inginnya hidup selamanya/lebih lama. Menurut saya pribadi itu agak aneh sih, dalam artian… kalau tidak percaya keberadaan afterlife, kenapa kita manusia kebanyakan punya hasrat/drive ingin hidup selama/sepanjang mungkin? Kalau ingin hidup dengan sebaik mungkin, tidak sia-sia, hidup maksimal, hidup berguna, bermanfaat dan bermakna, itu masih masuk akal. Tetapi untuk apa hidup lebih lama, untuk apa memperpanjang usia, kenapa tidak mau hidup secukupnya saja? Toh mau sesukses apapun, kalau sudah mati, ya sudah, kan (menurut keyakinan lain) tidak ada afterlife. Mati ya mati saja. Sama saja nggak sih mau hidup bagaimanapun? Apa merasa dirinya sendiri bermanfaat, makanya harus hidup lebih lama biar bisa lebih lama memberikan kemaslahatan bagi orang lain? Kalau begitu… terkait lagi ke poin "ingin menjadi Si Paling" yang sebelumnya dong? Atau gimana? Saya pribadi berpikir sifat ingin menjadi "Si Paling" ini secara langsung maupun tidak langsung pasti berkaitan dengan satu-sama lain. Misalnya "mau panjang umur supaya keluargaku tidak sedih jikalau aku meninggal", itu sedikit banyak pasti ada kaitannya dengan sifat welas asih kepada manusia lain. Atau misal "mau panjang umur supaya bisa tetap melindungi keluargaku", maka sedikit banyak itu ada kaitannya dengan sifat merasa kuat/merasa sebagai kekuatan atau penopang keluarga kan?
Entahlah pastinya gimana, tapi pokoknya saya pribadi untuk saya sendiri—dengan pemikiran saya yang entah aneh atau tidak—menganggap konsep afterlife itu justru membuktikan bahwa drive/hasrat manusia untuk hidup abadi itu sebenarnya memang sudah selaras dengan takdir bikinan Tuhan sih = Tuhan memang creator/perancang skenarionya = ujung-ujungnya semuanya terserah kehendak Tuhan lagi terserah kehendak Tuhan lagi = Tuhan memang ada, dan Beliau lah Tuhan, Tuhan yang asli. Nggak ada yang salah sih, wajar manusia ingin hidup selamanya, hidup dengan baik dan bermanfaat serta bermakna, melakukan perilaku-perilaku baik dilandasi oleh secuil sifat baik yang dimiliki manusia, memang Tuhan kasih drive itu secara terbatas kok untuk manusia.
Hmm… kalau Tuhan yang saya percaya itu Tuhan dalam agama Islam yaitu Allah Swt, jadi mungkin konsep pemikiran ini bisa bentrok dengan Tuhan dari kepercayaan lain ya. Tetapi pokoknya begitulah sedikit pemikiran saya soal Tuhan, makanya saya bisa percaya Allah Swt, karena memang konsep pikiran saya ya cocoknya dengan Tuhan yang disembah dalam agama Islam.
Ada lagi sih yang membuat saya cukup takjub, itu orang-orang sholat berjamaah, apalagi kalau sholat berjamaah di Masjidil Haram tuh yaaa… manusia udah kayak semut aja, sebanyak itu tapi gerakannya bisa kompak. Biasanya tuh manusia tuh bentrokan, gontok-gontokan, berantem lah, apalah, pokoknya kalau nggak cocok bakalan rawan ribut gitu kan. Terus ada kesenjangan sosial lah, apa lah. Tapi kalau orang-orang ikut sholat berjamaah, mau nggak mau, suka nggak suka, semua harus merapatkan shaf, bodoamat mau di sebelah lu orangnya selevel kek, nggak selevel kek, kayak kek, miskin kek, cakep kek, jelek kek, kulit hitam kek, kulit putih kek, orang alim kek, pendosa yang masih mau sholat kek, pokoknya semuaaa peserta sholat berjamaah, mau nggak mau, suka nggak suka, harus mengikuti tata-cara sholat berjamaah yang baik dan benar. Tuhan (Allah Swt) nggak membeda-bedakan makhluk-Nya ketika menghadap pada-Nya, itu sih klasifikasi manusiawi bikinan manusia sendiri. Ketika sedang sholat berjamaah, manusia diminta sesaat untuk menanggalkan klasifikasi nggak penting itu, berbaur, dan khusyu, ikutin imam. Semua gerakan manusia bisa serempak, puluhan, ratusan, ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan jamaah sholat (tergantung sholat dimana) itu bisa kompak, sama semua, mengikuti imam. Ya iya, namanya juga sholat berjamaah. Tetapi kalau dalam pemikiran saya jadinya begini… *Kalau bukan Tuhan (yang asli), manusia atau makhluk/sosok mana yang bisa bikin kompak manusia lain sekompak itu? Sholat berjamaah itu kan pada pelaksanaannya (maksudnya pas beneran lagi sholat) nggak mungkin main kubu-kubuan, beradu kepentingan, dsb. Sholat memang dilakukan berjamaah, tetapi pada perhitungan dan pengabulan doa kan ujung-ujungnya urusan personal masing-masing manusia langsung dengan Tuhan.*
Cuma ya gitu, Tuhan saja masih punya haters, atau kalau bukan haters tapi tetap masih ada manusia yang memilih tidak/bukan percaya dan tidak/bukan beriman pada-Nya, apalagi pemimpin yang berwujud manusia? Jadi yaa… wajar lah yaa dunia seperti ini, toh yang menghuni memang manusia seperti aku, kamu, kita, mereka, ya pokoknya kita manusia. Manusia sih banyak yang bisa berbeda pendapat, selera dan bahkan kepercayaan dengan manusia lainnya. Nggak masalah sih, itu manusiawi.
Kira-kira begitu pemikiran saya soal Tuhan, yang bikin saya jadi percaya pada Tuhan yang disembah dalam agama Islam.

**14/07/2023**
***N. Anuna***

Kamis, 06 Agustus 2020

Bagaimana Anda memandang urusan dunia dan akhirat?

Saya pribadi menganggap dua urusan itu berkaitan dan merupakan satu kesatuan. Kalau saya berbuat buruk di dunia, di akhirat saya bakal dapat balasannya. Dan sebaliknya, kalau saya betul-betul memikirkan akhirat saya, harusnya saya berusaha sebaik-baiknya memperbaiki kehidupan dunia saya sesuai dengan perintah Tuhan yang saya imani dan sembah. Tidak perlu dipilih dan dipisahkan, cukup berusaha dijalani sebaik-baik yang saya mampu dan mau mengusahakan.

Selain itu, saya percaya Tuhan yang saya sembah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun dan punya "cara-Nya" yang seringkali terasa tidak cocok dengan logika manusia. Saya juga percaya "keajaiban Tuhan" yang kadangkala muncul sebagai bentuk kasih sayang-Nya terhadap hamba-Nya, anggap macam bonus yang menyenangkan. Hanya saja keajaiban yang saya percayai ini tidak boleh saya jadikan opsi utama saya untuk mengurus urusan dunia, karena kan sifatnya cuma macam bonus yang tak selalu ada, karena Tuhanku juga menghargai ikhtiar/usaha. Cuma, percaya pada Tuhanku dan segala kuasa dan kemampuan Nya memberikan rahmat dan berkah di luar nalar manusia jika Dia menghendaki, bagi saya itu tetap harus. Jadi tak 100% mengandalkan Tuhan, tak 100% pula melepas Tuhan.

Ada juga sih berbagai macam hal buruk di dunia ini, saya percaya juga itu terjadi atas kehendak-Nya. Hanya saja, misal itu terjadi… haruskah saya yang "mempercayai Tuhanku" ini jadi menghujat-Nya? Lah malah merembet ya hahaha… tapi pokoknya saya punya jawaban pribadi saya untuk pertanyaan ini, dan saya nggak peduli jawabannya orang lain, karena keimanan pada akhirnya kan urusan masing-masing orang ya.

Intinya, urusan dunia akhirat bagi saya pribadi adalah berkaitan dan tak perlu dipisahkan, hanya perlu diusahakan sebaik-baiknya sesuai ketentuan yang ada dan mampu dan mau dilakukan, jika ingin hasil yang baik dikeduanya. Yang mampu dan mau ya, dan pada akhirnya yang paling sadar soal "seberapa mampu dan mau" itu kan diri sendiri.

Rabu, 21 Februari 2018

Mendingan Pakai Jilbab tapi Kelakuan Bobrok atau Baik dan Rajin Ibadah tapi Nggak Pakai Jilbab?

Well, kalo saya ditanya begini saya pribadi bakal bilang: "Dua-duanya sama-sama mendingan."

Kok???

Karena yang ditanya mendingan kan? ;)

Yang berjilbab tapi kelakuan buruk (yang sering disebut KERDUS-kerudung dusta) masih mendingan daripada yang kelakuannya buruk dan nggak berjilbab.

Yang perilakunya baik dan rajin ibadah tapi nggak berjilbab juga mendingan lah daripada yang nggak baik dan nggak rajin ibadah, udah gitu nggak berjilbab.

Sebenarnya menutup aurat, beribadah kepada Allah SWT dan berperilaku baik adalah 3 perkara yang berbeda. Jadi dosanya sendiri-sendiri gitu.

Kita misalkan saja, ini cuma permisalan ya (karena dosa itu kan nggak ada yang tahu takaran pastinya kecuali Allah SWT) :
-dosa nggak ibadah 1 poin
-dosa nggak berperilaku baik 1 poin
-dan dosa nggak menutup aurat itu 1 poin.

Jadi kalo ditotal seseorang maksimal dapat 3 poin dosa karena ada 3 perbuatan yang nggak boleh dilanggar (misalnya). Maka yang akan terjadi adalah:

1. Seorang wanita yang telah baligh, malas ibadah, namun ia berperilaku baik dan berhijab maka ia dapat dosa 1.
2. Seorang wanita yang telah baligh, rajin ibadah dan berperilaku baik namun tidak berhijab, dapat dosa 1.
3. Seorang wanita yang telah baligh, rajin ibadah dan menutup aurat tapi perilakunya nggak baik, dapat dosa 1.
4. Seorang wanita telah baligh, malas ibadah dan nggak menutup aurat tapi perilakunya baik malahan baik banget, dapat dosa 2.
5. Seorang wanita yang rajin ibadah tapi perilakunya kurang baik dan nggak menutup aurat, dapat dosa 2.
6. Seorang wanita yang malas ibadah, perilaku kurang baik tapi menutup aurat, dapat 2 dosa.
7. Wanita yang nggak melakukan tiga dosa tersebut poin dosanya 0.
8. Sebaliknya, orang yang melakukan semua: malas sholat, perilaku kurang baik, nggak menutup aurat, dapat dosa 3.

Kira-kira kayak gitu, kenapa? Karena memang itu adalah 3 perkara yang berbeda.

Coba periksa poin-poinnya kemudian balik ke alasan saya yg di atas. Yang dapat poin dosa cuma 2 mendingan daripada yang dapat 3 poin dosa kan?

Kalo pertanyaan mendingan sih jawaban saya gitu. Tapi kalo pertanyaannya: "Baik nggak sih mereka kayak gitu?"

Maka jawaban saya: "Mereka udah baik cuma belum maksimal. Karena kalo bener-bener baik berarti mereka bakal ada di poin 7 (rajin ibadah, berperilaku baik, berhijab)."

Orang yang benar-benar baik dan taat akan mencari tahu dan akhirnya akan mengetahui pengetahuan agama, sehingga mereka tahu apa yang dianjurkan dan dilarang agama, kemudian jadi tahu tentang masalah ibadah, perilaku (akhlak) serta kewajiban menutup aurat (bagi wanita).

Poin 7 adalah poin yang didambakan semua orang (kecuali yang nggak sepaham ya-kan ada yang bilang hijab tidak wajib) sekaligus paling susah untuk dicapai. Karena godaannya besar, jelas. Semoga kita para muslimah bisa mencapai poin 7 yaa. Aamiin. (Saya juga baru berusaha kok)

*karena ibadah bukan hanya sholat dan mengaji, makna menutup aurat bukan sekedar membungkus bagian tubuh dengan kain, dan berbuat baik itu sangat luas maknanya

Dan buat yang lihat kasus-kasus kayak gini, jangan nyinyir yaa, mending doain mereka supaya dapat hidayah biar jadi lebih baik. :)

Selasa, 20 Februari 2018

Kenapa sih Kebanyakan yang Pakai Jilbab itu Orangnya Gendut atau Jelek, Bukan yang Cantik, Mau Nutupin Jeleknya Ya?

Mungkin banyak dari kalian yang mengamati hal ini dan menanyakan hal yang sama ya. Kalo saya pribadi, saya nggak pernah bertanya-tanya sih, karena saya justru pelakunya. Saya gendut, saya jelek dan dari dulu saya pakai jilbab atau saya lebih suka sebut kerudung.

Saya pribadi nggak pernah ditanyain orang soal itu, tapi ternyata dulu saudara saya pernah ditanya seperti itu oleh temannya, dan dia bingung mau jawab apa. Dia lalu tanya ke saya, dan dulu saya bingung mau jawab apa.

Tapi akhirnya sekarang saya sadar setelah hijrah berusaha memakai hijab sesuai syariat.

Salah satu fungsi berhijab adalah menyembunyikan kecantikan (fisik) seorang wanita agar tidak menimbulkan fitnah/godaan bagi lelaki. Jika para wanita memakai hijab syar'i dalam aktivitasnya sehari-hari, memang sebagian wanita, terutama yang cantik fisiknya, kecantikannya akan tertutupi, contoh: bentuk kaki yang ramping dan indah, lekuk tubuh yang aduhai, perut ramping, payudara yang bentuknya indah, kulit yang halus bersih dll. Jadi yang kelihatan hanya wajahnya saja dan kedua telapak tangan.

Namun, tidak semua wanita terlahir cantik secara fisik. Ada yang biasa-biasa saja, atau cantik di suatu bagian tapi bagian lainnya kurang indah, misalnya (maaf): wanita yang tubuhnya langsing tapi kakinya besar, wanita yg cantik wajahnya tapi tambun, atau wanita yang kulitnya tidak mulus. Nah, untuk orang-orang seperti ini, jika memakai hijab syar'i seolah-olah menutupi kekurangannya ya? Iya memang benar.

Tapi sebenernya yang lebih tepat adalah: "Bukan mereka yang menutupi kekurangan fisik mereka, tapi Allah SWT yang memerintahkan demikian. Kenapa?"

Menurut saya, ini karena Allah SWT Maha Adil. Allah Maha Adil, tidak ada manusia yang diciptakan sempurna, semua diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada yang diciptakan dengan keindahan rupanya, ada yang diciptakan dengan kecerdasan tinggi, ada yang diciptakan dengan karakter yang mempesona orang lain dsb. Tapi pasti mereka punya kekurangan juga.

Karena itu Allah tidak menilai makhluk-Nya berdasarkan rupa, harta, dan kedudukan, namun berdasarkan imannya. Yaiyalah, orang yang ngasih rupa, harta dan kedudukan itu Allah kok. Tapi kalo perkara iman, manusia yang menentukan dan mengusahakan imannya sendiri. Mau beriman atau nggak, itu pilihan. Walaupun kadangkala Allah menurunkan rahmat-Nya dengan memberikan hidayah bagi sebagian orang.

Manusia diperintahkan untuk beribadah kepada Allah semasa hidupnya. Itu adalah tujuan penciptaan manusia, tujuan hidup manusia. Tapi hal ini banyak sekali terganggu dengan masalah-masalah lain, baik yang berat maupun masalah ringan. Salah satunya adalah masalah penampilan.

Karena itu menurut saya, Allah memerintahkan wanita berhijab salah satunya adalah untuk mempermudah manusia mengatasi masalah penampilan, sehingga daripada hanya fokus pada penampilan, lebih baik fokus pada kualitas ibadah kepada Allah dan juga hubungan kepada sesama. Kenapa dibilang mempermudah? Beberapa alasan saya antara lain:
1. Kalo laki-laki (dari dulu, maksudnya dari zaman dulu banget gitu) terbiasa melihat wanita hanya wajahnya saja, atau bahkan jika wanita bercadar hanya matanya saja, paling-paling ia hanya akan terpesona pada wajah wanita, sehingga tidak sampai sibuk "berpikiran yang aneh-aneh" (karena inspirasi fantasinya tidak ada). Apalagi kalo laki-laki menundukkan pandangan, Insya Allah lebih aman lagi. Laki-laki tersebut akan lebih bisa fokus menyibukkan diri beribadah dan berbuat baik, nggak mikirin cewek cantik muluuu gitu.
2. Perempuan nggak perlu terlalu was-was pada kejahatan seksual jika berpakaian syar'i, Insya Allah. Jadi jika wanita sedang bepergian untuk menuntut ilmu misalnya, ia bisa pergi dengan (cukup) tenang. Yaa walaupun zaman sekarang siapa aja musti hati-hati sih.
3. Dengan berpakaian syar'i jika bepergian keluar rumah, wanita nggak perlu ribet dengan urusan "dandan-dandanan". Bisa lebih cepat, ringkas, waktu untuk dandan bisa dimanfaatkan untuk hal yang lebih baik.
4. Bayangkan semua wanita berpakaian syar'i. Dari artis sampai orang biasa. Dari orang paling cantik sedunia sampai orang paling jelek sedunia. Dan anggaplah kita nggak tau bagaimana bentuk tubuh mereka semua saat memakai pakaian yang lebih terbuka. Nah kalo mereka berjejer, orang paling bisa menilai penampilan mereka hanya dari wajahnya, tinggi badan, suara, postur yang tidak terlalu jelas. Jadi nggak bakal ada lah keluhan-keluhan nggak terlalu penting kayak:

"Ih bete banget, aku gendutan ya, perut aku jadi buncit karena kemarin kebanyakan makan!"

"Gue gendut! Yang lain pada kurus-kurus banget, heran."

"Kaki aku gede banget ya, nggak kayak si A tuh kakinya langsing banget!"

"Pantat gue tepos amat deh, nggak seksi kayak si B."

"Kulit gue item banget kalo dibandingin sama dia."

"Kulit gue ada bekas tanda lahirnya." :(

"Pinggang gue gede amat sih, hadeehh... pinggangnya si C ramping bener udah kayak gitar spanyol."

"Udah pake bra busa masih aja tepos :( pengen punya payudara besar kayak si D."

Dll.

Pokoknya keluhan-keluhan kayak gitu bakal banyak berkurang, karena kan kita nggak tau siapa yang lebih cantik dari siapa dan siapa yang kebih jelek dari siapa. Paling cuma bisa menilai muka: "Oh dia lebih cantik dari gue, hidungnya mancung, kulitnya bersih banget, matanya belo."

Wajarlah ya kalo kayak gitu, berarti Allah emang menciptakan dia dengan kelebihan pada fisiknya.

Tapi Allah Maha Adil karena dengan menyuruh para wanita (anggap aja kita dengan si cantik) menutup aurat dengan sempurna (dan misalnya ditaati), kita nggak perlu merasa terlalu minder dengan si cantik karena beda penampilan yang terlalu "jauh". Selain itu juga biar si cantik nggak merasa "terlalu cantik" dan menganggap kita "terlalu jelek" dibanding dia sehingga jadi sombong.

Melalui perintah berhijab, Allah seolah-olah ingin menyampaikan:

"Cantik atau nggak itu nggak penting (karena Aku yang menciptakannya), kalian sama saja. Lebih baik fokus beribadah kepada-Ku. Karena itulah tujuan-Ku menciptakan kalian."

Lagian, jelek dan cantik itu dua-duanya bisa jadi anugerah bisa juga jadi musibah. Jelek bisa buat orang yang mengalaminya jadi banyak mengeluh dan tidak bersyukur pada Allah (musibah) bisa juga membuat orang bersyukur karena: "Alhamdulillah karena aku jelek jadi aku tidak perlu merasa sombong karena kecantikanku. Aku juga terhindar dari godaan para lelaki." (anugerah)

Cantik juga sama. Jika dengan cantik seseorang menjadi sombong atau terkena gangguan lelaki jahat, bisa dikatakan itu musibah. Jika ia tetap rendah hati pada sesama dan berakhlak baik, maka itu adalah anugerah buatnya.

Emang yang terlihat beda, tapi sama-sama ada baik buruknya. Adil kan? Dan Allah Maha Baik karena berusaha membantu kita agar tidak berfokus pada hal yang tidak terlalu penting (bila dibandingkan dengan tujuan hidup manusia) tapi bisa sangat menganggu tersebut.

Terus kalo menanggapi pertanyaan yang di judul, kenapa perempuan jelek atau gendut kebanyakan pakai jilbab daripada yang cantik, apa mau menyembunyikan jeleknya?

Bisa dibilang iya tapi bisa nggak juga. Ada kok perempuan cantik yang pakai jilbab, ada juga perempuan jelek yang nggak pakai jilbab. Itu sih bukan karena cantik atau jeleknya, tapi karena kesadaran diri aja mau patuh pada perintah Allah SWT atau nggak.

Cuma saya mau kasih tau, terutama buat laki-laki... memakai jilbab, apalagi yang syar'i, itu nggak mudah. Makanya banyak perempuan beragama Islam yang masih belum pakai. Kenapa?

Beberapa alasan yang bisa saya beri tahu:

1. Walaupun jilbab/kerudung/hijab adalah kewajiban, masih banyak yang belum tahu bahwa itu kewajiban. Karena memang sudah turun-temurun kewajiban berhijab seolah-olah dihilangkan dari tradisi. :( Jadi masih ada stigma juga bahwa hijab adalah pakaian takwa, orang yang memakainya berarti harus jadi orang baik, mengerti agama, akhlaknya baik dan rajin ibadah. Sementara banyak orang yang tidak/belum seperti itu dan juga tidak mau/belum mau berusaha menjadi orang seperti itu. Makanya banyak yang memutuskan nggak pakai hijab. :(

2. Emang ada golongan tertentu yang bilang hijab tidak wajib, entah apa alasannya, saya pribadi nggak mau tau sih. Tapi saya biarkan saja mereka yang bertahan dengan keyakinan itu setelah diberitahu, toh itu urusan masing-masing.

3. Berhijab itu menutupi/mengurangi kecantikan. Minimal menutupi rambut deh, iya kan? "Padahal rambut udah cakep-cakep hasil perawatan, udah bergelombang, smooth dan bervolume ini, masa ditutup sih? Entar kalo lepek gimana?"

Kalo berhijab syar'i yang memang sesuai syariat bukan trend hijab syar'i malah lebih parah lagi karena:
▪Diusahakan tidak bermake-up samasekali. Pakai pelembab bibir dan tabir surya saja ada yang menganggap termasuk berhias.
▪Boro-boro make up, baju berwarna terang atau baju berenda/bermotif dikit aja dianggap tabarruj/berhias menurut sebagian kalangan.
▪Baju gelap tidak mencolok.
▪Bahkan sebagian wanitanya bercadar, mukanya nggak keliatan dong.

Btw itu penampilan kalo keluar rumah atau bertemu laki-laki non-mahram yaa... kalo yang udah punya suami dan di depan suami mah beda lagi, boleh dandan secantik-cantiknya, tapi cuma di depan suami.

(*mahram: orang yang haram dinikahi, jadi non-mahram = orang yang bisa dinikahi)

Balik lagi, pokoknya berhijab itu mengurangi kecantikan. Padahal para wanita pada dasarnya ingin tampil cantik. Ketika wanita-wanita lain sedang berlomba-lomba tampil cantik, para wanita yang berhijab karena ketaatan pada Allah harus menahan hasrat untuk ikutan juga karena mereka lebih memilih taat. "Pengen ikutan tapi gabisa, soalnya kalo ikutan nanti dosaaaa..."

Berat kan?

4. Ribet. Iya, kalo mau dipikir-pikir emang ribet, walaupun kalo udah terbiasa lama-lama enak-enak aja, malahan enak banget.

Ya coba aja pikir: Cewek biasa yang ga berhijab keluar cuma pake atasan kaos/blus/kemeja terus bawahannya rok/celana terus udah. Tinggal pake aksesoris lain yang dibutuhkan, terus pergi deh keluar.

Cewek berhijab, minimal kalo yang belum syar'i, harus tetep pakai penutup kepala kan? Jadi nambah item yang wajib dipake lah.

Yang berpakaian syar'i lebih berat karena syarat pakaiannya lebih ketat lagi, contohnya, mereka nggak mungkin pake celana. Padahal pake celana itu dalam beberapa situasi lebih ringkes (walaupun pas saya udah pake rok mulu kemana-mana ternyata nggak juga sih, sama aja pake rok juga bisa-bisa aja buat ngapa-ngapain). Belum lagi kerudungnya harus dipastikan tidak tersingkap lah, apa lah.

Terus kan baju orang berhijab itu lebih panjang daripada yang gapake kan? Nah, coba bayangin kalo lagi panas-panasnya. Kalo dipikir secara logika, perempuan yang berhijab bakal lebih kegerahan dong? Padahal nggak juga sih. Ada orang kayak saya yang ga terlalu gampang gerah, tapi ada juga yang rewel banget kalo udah gerah dikit aja. Dan hijab harusnya tuh gabisa dibuka-buka sembarangan. Jadi makin gerah kan?

(Kesannya pakai hijab ga nyaman ya, tapi ini cuma kesan padahal belum tentu. Kalo mau tau pastinya, mending coba sendiri. Yang rutin ya, misalnya 2 minggu berturut-turut, baru komentar deh)

5. Susah ditaksir cowok. Nanti nggak ada cowok yang perhatian lagi. Nah ini juga salah satu alasan banyak cewek yang nggak mau berhijab. Karena emang banyak cowok yang suka ceweknya pakai baju biasa aja. Ngefansnya sama cewek-cewek cantik yang nggak pake kerudung. Mungkin biar bisa dinikmati kecantikannya dengan mata setiap saat, atau biar nggak beban moral/agama (ini cewek "baik-baik" masa gue pacarin?) atau dia nggak mau dikira cowok religius karena pacarnya berjilbab, atau nggak mau dikira pacaran sama ibu-ibu, nggak mau dikira "nggak toleransi", atau entah gimana, saya gatau pasti sih wkwkwk. Pokoknya tujuan cowok itu tidak disesuaikan dengan aturan agama Islam deh. Iyalah, dia aja sukanya cuci-cuci mata dan pacaran, mana sesuai sama agama? Mendingan sih cowok-cowok kayak gitu kalo bisa dihindari, jangan dijadikan pilihan utama. Tapi yaa... hak masing-masing sih.

Masalahnya, perempuan adalah makhluk yang suka diperhatikan, salah satunya adalah mendapatkan perhatian dari laki-laki yang naksir dia. Dan mungkin sebagian cewek nggak mau kehilangan perhatian kayak gitu, jadi dia pilih nggak berhijab untuk saat ini.

6. Mau jadi pusat perhatian. Nah ini juga mirip poin 5 sih. Dia mau jadi pusat perhatian, jadi perempuan yang paling cantik di antara perempuan-perempuan lain, dan jadi perempuan yang paling diidolakan dikalangan laki-laki. Makanya memilih tidak berhijab agar kecantikannya makin jelas terlihat.

Gitu deh kira-kira beberapa alasannya. Maaf kalo ada yang salah. Atau ada yang kurang?

Terus hubungannya apa? Hubungan yang saya tangkap adalah:

"Semakin cantik seorang wanita, dan semakin terbiasa wanita itu dengan kecantikannya, maka akan semakin sulit baginya untuk meninggalkan hal tersebut, karena jika ia meninggalkannya maka akan banyak kehilangan yang ia alami."

Yah walaupun nggak semua wanita begini, tapi rata-rata sih begini. Karena sepengalaman saya, tiap ada wanita yang baru mulai hijrah pakai kerudung ataupun wanita berhijab yang hijrah ke hijab syar'i, pasti pada nanya ke saya: "Aku cantik nggak pakai kerudung ini?"

Masih bingung? Gini deh, kan tadi saya tulis alasan wanita tidak berhijab, poinnya kira-kira:
1. Nggak mau/belum mau jadi wanita alim yang dekat dengan agama.
2. Nggak wajib kok berhijab.
Menurut saya, poin 1 dan 2 ini supaya bisa jadi pembenaran melakukan poin-poin lain, kayak:
3. Berdandan dan berlomba-lomba tampil cantik.
4. Nggak mau ribet.
5. Pacaran dan tebar pesona ke laki-laki.
6. Jadi pusat perhatian.

Poin 3, 5, dan 6 biasanya dimenangkan oleh wanita yang fisiknya cantik. Fisiknya cantik.

Dan kalo si wanita cantik itu memutuskan berhijab, maka ada resiko ia bisa kehilangan itu semua. Apakah ia sanggup kehilangan semuanya demi taat kepada perintah Allah SWT?

Sedangkan pada wanita yang fisiknya tidak cantik, belum tentu ia merasakan kehilangan, bahkan mungkin tidak ada kehilangan yang akan ia rasakan, karena mungkin ia tidak pernah merasakan kesenangan dari: berlomba-lomba tampil cantik, indahnya pacaran, rasanya jadi pusat perhatian.

Jadi, lebih mudah bagi wanita yang tidak cantik untuk taat pada perintah berhijab. Makanya lebih banyak wanita tidak cantik yang berhijab daripada wanita yang cantik. :)

Walaupun tetap ada wanita cantik yang berhijab dan wanita tidak cantik yang berhijab. Karena ada wanita cantik yang dia sangat bersyukur diberi kecantikan, makanya ia jaga kecantikan tersebut dengan cara yang diridhai Allah. Ada juga wanita yang tidak cantik namun berpikir ia ingin mempercantik diri dengan cara-cara yang tidak diridhai Allah.  Ini semua tergantung mindset orangnya, dan keikhlasan dirinya dalam menerima perintah Allah SWT.

Apakah cantik membuatmu lebih mudah taat atau justru lebih sulit?

Apakah tidak cantik membuatmu lebih mudah taat atau justru lebih sulit?

Kamu yang mana? Aku doakan, semoga kamu memilih yang terbaik di antara semua pilihan yang ada padamu. :)

Senin, 19 Februari 2018

Tips Sholat dari Mantan Orang yang Sholatnya Bolong Bolong

Dari dulu saya nggak pernah tau tentang hukum meninggalkan sholat. Saya cuma tau hadist sholat "Sholat itu tiang agama." tanpa tau maknanya. Sampai suatu hari akhirnya saya tau hukum meninggalkan sholat, dan sekalinya tau jadi takut banget lah, apalagi yang bagian kafir. Akhirnya mulai berusaha sholat lebih bener, nggak asal sholat doang, berusaha sholat di awal waktu dan berusaha nggak bolong2 lagi gara2 ini. T_T

Btw dosa meninggalkan sholat adalah:
-Shubuh: "1x meninggalkan sholat, Allah akan mencampakkan ke dalam neraka selama 60 tahun (tahun neraka)." :(
-Dzuhur: "1x meninggalkan sholat dosanya seperti membunuh 1000 orang Islam." :(
-Ashar: "1x meninggalkan sholat dosanya seperti meruntuhkan Ka'bah." :(
-Maghrib: "1x meninggalkan sholat dosanya seperti berzina dengan orangtua sendiri (kalo laki-laki seperti berzina dengan ibu, kalo perempuan seperti berzina dengan bapak)." :(
-Isya: "1x meninggalkan sholat Allah tidak meridhai orang tersebut tinggal di dunia." :(

NGERI BANGET kaaan???

Selain itu dalil yang menyatakan kafirnya orang yang meninggalkan shalat, di antaranya hadits:

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia kafir.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah dengan sanad yang shahih dari Buraidah Al Aslami)

(Sumber : https://rumaysho.com/2280-meninggalkan-shalat-bisa-membuat-kafir.html)

Karena itu akhirnya saya memutuskan berubah. :')

Udah beberapa lama setelah saya membiasakan diri, akhirnya keingetan lagi awal mula memperbaiki sholat. Kadang kalo dipikir-pikir: "Sholat itu (belum pake khusyu' yaa, baru gerak sama bacaannya aja) nggak susah sebenernya, gampang malah, cuma gitu doang. Dibikin kilat pun bisa (sholat ngasal maksudnya, secepat mungkin, cuma buat menggurkan kewajiban doang, walaupun gaboleh sih malahan dosaaa, tp seenggaknyaa... masih ada usaha dikit lah). Kenapa gue pernah sampe bolong sholat yaa?" -_-

Tapi ya emang namanya hati belum kesentuh, sholat bahkan yang cuma 2 rakaat dan secepat kilat aja tetep gabisa -_- adaaa aja alasannya buat nggak sholat. :(( Emang kayak gitu hati yg tersesat, terhasut oleh bujuk rayu setan. :(( Astaghfirullahaladzim.

Kalo kebetulan ada yg baca ini dan sholat kalian masih bolong-bolong, saya mau kasih tau kalo selama ada niat pasti bisa berubah kok, jangan pasrah begitu aja! Saya juga soalnya dulu parah, tapi berPROSES jadi lebih baik. Berproses, jadi yaa nggak instan, emang harus istiqomah. Tapi bisa kok, bisa banget!

Tips dari saya biar sholat bisa lebih bener, minimal "5 waktu full" dulu deh:
-Awalnya jgn dibawa beban kalo mau membiasakan sholat (walaupun sebenarnya itu adalah perkara yg sangat BERAT)
-Coba pikirin: "Ah sholat kan cuma gitu doang. Masa gue gabisa sih sholat 5 waktu? Orang lain aja pada bisa sholat 5 waktu, bahkan anak kecil."
-Pikirin juga: "Selagi gue bisa, gue harus sholat. Mumpung bisa, kan lumayan jadi sholat daripada biasanya nggak. Toh nggak rugi ini sholat malah dapat pahala."
-Buat sholat shubuh, pikirin: "Gue bangun pagi ah, banyak untungnya. Udara masih seger, mau ngapa2in nggak buru2, bisa main2 hp dulu, oiya sekalian aja sholat shubuh."
-Main main sama orang yang rajin sholat, atau kalo nggak main bareng ya coba ikut-ikutaan aja kalo orang-orang pada sholat.

Buat kalian yang nggak pernah sengaja meninggalkan sholat mungkin tulisan ini bikin bingung, nggak banget dan sesat. Tapi itu dulu adalah cara yg berhasil bikin saya terbiasa sholat sampe lama-lama rasanya aneh kalo nggak sholat. Gimana ya jelasinnya? Orang beda-beda sih, tapi sepengalaman saya, orang yang bisa sengaja meninggalkan sholat itu biasanya emang nggak merasa takut sama "Hukum Allah" karena belum merasakan atau kurang motivasi aja, misalnya kayak saya gitu. Di lingkungan saya dulu banyak orang yang nggak sholat, walaupun yang sholat juga banyak sih. Awalnya saya ikut-ikutan yang nggak sholat karena: "Ah males sholat. Yang nggak sholat juga banyak, yang lebih tua aja nggak sholat kok. Gue nggak sendirian." -_- Makanya pas saya mau berubah jadi lebih rajin sholat, karena udah malu dan takut kebanyakan dosa, saya memutuskan untuk mulai ikut-ikutan orang sholat. Karena saya nggak sholat karena ikut-ikutan orang lain, berarti biar saya sholat, saya harus ikut-ikutan yang pada sholat. Gitu sih pemikiran saya wkwkwk. Dan menurut teori, lingkungan emang berpengaruh karena bisa memotivasi dari luar (eksternal), terutama kalo motivasi internal lagi jelek.

Jadi daripada cuma diancam pakai "dosa meninggalkan sholat" yang percuma buat mereka yang sengaja meninggalkan sholat, malah bisa bikin mereka makin membenci sholat, mendingan coba rubah caranya jadi dimotivasi aja mereka biar bisa lebih tertarik untuk sholat. Siapa tau malah berhasil. :)

Kemudian, kalo udah terbiasa sholat, selanjutnya adalah memperbaiki sholat. Nah disini baru perjalanam masing-masing orang bisa berbeda, karema cara yang dipilih pasti berbeda. Ada yang sholatnya tetap gitu-gitu aja karena merasa udah cukup baik, "udah sholat kok". Ada yang berusaha lebih tumaninah. Ada yang mempelajari makna sholat. Ada yang sholat sambil membayangkan perjumpaan dengan Allah, dll. Pokoknya macam-macam usaja bisa dilakukan supaya sholat lebih khusyu' dan lebih bagus. :)

Semangat untuk selalu sholat dan memperbaiki sholat kita. Dan semoga Allah menerima sholat kita semua. Aamiin Ya Rabbal Aalamiin. :)

Minggu, 18 Februari 2018

Kisah Rasulullah (5)

Kisah ini saya dapat dari grup whatsapp. Karena menurut saya menarik dan bermanfaat maka saya pos saja :) selamat membaca

-

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

Bagian 5

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

*Bernadzar*

Abdul Muthalib bernadzar, "Kalau saja aku mempunyai 10 anak laki-laki, kemudian setelah semuanya dewasa, aku tidak memperoleh anak lagi seperti ketika sedang menggali Sumur Zamzam, maka salah seorang diantara 10 anak itu akan kusembelih di Ka'bah sebagai kurban untuk Tuhan."

Ternyata takdir memang menentukan demikian. Abdul Muthalib akhirnya mendapat 10 orang anak laki-laki. Setelah semua anak berangkat dewasa, ia tidak memperoleh anak. Dipanggilnya kesepuluh orang anak itu, termasuk si bungsu Abdullah yang amat disayangi dan dicintainya.

"Aku pernah bernadzar untuk menyembelih salah seorang di antara kalian jika Tuhan memberiku 10 orang anak laki-laki."

Kesepuluh anaknya terdiam. Mereka memahami persoalan itu. Mereka juga melihat kebingungan yang luar biasa di mata ayah mereka yang berkaca-kaca.

"Namun, aku tidak bisa menentukan siapa di antara kalian yang harus kusembelih. Oleh karena, aku berniat memanggil juru qidh untuk menentukannya."

Di hadapan patung dewa tertinggi Ka'bah, juru qidh (Nanak panah) meminta setiap anak menulis namanya masing-masing di atas qidh. Kemudian, ia mengocok anak panah tersebut di hadapan berhala Hubal. Nama anak yang keluar adalah Abdullah.

Melihat itu, serentak orang orang Quraisy datang dan melarangnya melakukan perbuatan itu.

"Batalkan keinginanmu, Abdul Muthalib! Mohon ampunlah kepada Hubal supaya kamu bisa membatalkan nadzarmu!"

Sanggupkah Abdul Muthalib menyembelih anak kesayangannya, apalagi tidak ada orang yang menyetujui niatnya itu?

*Menemukan Zamzam*

Malam harinya, dengan tubuh lelah, Abdul Muthalib tertidur. Tiba-tiba, dalam tidur, dia bermimpi mendengar suara yang bergema berulang-ulang, "Temukan Sumur Zamzam itu, wahai Abdul Muthalib! Temukan Sumur Zamzam! Temukan!"

Abdul Muthalib terbangun dengan keyakinan dan semangat baru. Esoknya, dia mengajak Harits menggali dan menggali lebih giat.
Rasa heran orang-orang Quraisy yang melihatnya berubah menjadi tawa.

"Kasihan Abdul Muthalib, mungkin dia sudah kehilangan akal sehatnya!" kata mereka satu sama lain.

Suatu saat, ketika mereka sedang menggali di antara berhala Isaf dan Na'ila, air membersit.

"Air! Harits! Lihat, ada air!" seru Abdul Muthalib saking kagetnya.
"Ayo kita gali terus, Ayah! Ayo gali terus!"

Ketika mereka menggali lebih dalam, tampaklah pedang-pedang dan pelana emas yang pernah ditaruh oleh Mudzaz bin Amr dahulu. Melihat penemuan itu, orang-orang Quraisy datang berbondong-bondong.

"Abdul Muthalib, mari kita berbagi air dan harta emas itu!" pinta mereka.

"Tidak! Tetapi, marilah kita mengadu nasib di antara aku dan kamu sekalian dengan permainan _qidh_ (anak panah). Dua anak panah buat Ka'bah, dua buat aku, dan dua buat kamu. Kalau anak panah itu keluar, dia mendapat bagian. Kalau tidak, dia tidak mendapat apa-apa."

Usul ini disetujui. Juru qidh mengundinya di tengah-tengah berhala di depan Ka'bah. Ternyata, anak panah Quraisy tidak ada yang keluar. Pemenangnya adalah Abdul Muthalib dan Ka'bah. Oleh karena itu, Abdul Muthalib dapat meneruskan tugasnya mengurus air dan keperluan para tamu Mekah setelah Sumur Zamzam memancar kembali.

Mengingat beratnya tugas itu. Abdul Muthalib sangat ingin agar dia mempunyai banyak anak laki-laki yang dapat membantunya.

*Pedang dan Pelana Emas*

Abdul Muthalib memasang pedang-pedang itu di pintu Ka'bah, sedangkan pelana-pelana emas ditaruh di dalam rumah suci itu sebagai perhiasan.

Bersambung

-

Kisah Rasulullah (4)

Kisah ini saya dapatkan dari grup whatsapp. Karena menurut saya menarik dan bermanfaat, maka saya share saja :) selamat membaca.

-

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

Bagian 4

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

*Harta Abdul Muthalib*

Setelah tumbuh dewasa, Abdul Muthalib pun menjadi seorang pemuka Mekah sebagaimana Hasyim, bapaknya.

Sementera itu, ketika Hasyim meninggal, hartanya dikuasai oleh Naufal, adiknya yang terkecil.
Setelah  dewasa, Abdul Muthalib hendak meminta harta ayahnya, tetapi Naufal menolak. Abdul Muthalib pun meminta bantuan kerabat ibunya yang tinggal di Yatsrib. Orang-orang Yatsrib mengirimkan 80 pasukan berkuda. Naufal pun ketakutan dan menyerahkan harta Hasyim kepada Abdul Muthalib

Pada zaman pemerintahannya, Abdul Muthalib melakukan sebuah perbuatan yang akan dikenang orang sepanjang zaman.

*Sumber Air Mekah*

Abdul Muthalib adalah pengurus air dan makanan bagi tamu-tamu yang datang ke Mekah. Setelah ratusan tahun Sumur Zamzam tertimbun, air harus didatangkan dari beberapa sumur yang terpencar-pencar di sekitar Mekah.

*MENGGALI SUMUR ZAMZAM*

Saat itu, Sumur Zamzam telah terkubur dan dilupakan orang selama ratusan tahun. Namun, Abdul Muthalib tidak pernah lupa pada sejarah Mekah, bahwa dulu pernah ada mata air yang menghidupi Mekah, mata air yang memancar keluar oleh kaki Ismail.

"Aku harus menemukannya!" pikir Abdul Muthalib. "Aku harus menemukan kembali Sumur Zamzam yang telah dilupakan orang! Apalagi aku bertugas menyediakan air dan makanan bagi penduduk Mekah."

Pikiran seperti itu tidak pernah hilang dari benaknya, "Aku harus menemukannya! Aku harus menemukannya!"

Setelah itu, Abdul Muthalib mengambil tembilang (alat untuk menggali bertangkai panjang) dan memanggil putra satu-satunya, "Harits, temani ayah mencari dan menggali kembali Sumur Zamzam!"

Harits mengangguk. Kemudian, mereka mulai mencari di mana dulu letak Mata Air Zamzam berada. Setelah beberapa kali mencoba menggali di beberapa tempat, Sumur Zamzam tidak juga ditemukan.

"Ayah, mungkin Sumur Zamzam memang telah hilang," kata Harits.

"Tidak Nak, Ayah yakin Sumur itu masih ada! Kita harus menemukannya! Orang-orang Mekah akan hidup lebih baik jika Sumur Zamzam ada di tengah kita!"

Dengan gigih keduanya pun terus mencari sumur Zam-Zam.
Orang-orang Quraisy, penduduk asli Mekah, melihat perbuatan mereka dengan heran.

"Mengapa engkau masih terus menggali, Abdul Muthalib? Bukankah dulu nenek moyang kita, Mudzaz bin Amr pernah menggalinya, tapi tidak berhasil?"

Abdul Muthalib menaruh tembilangnya dan duduk.
Ya, ratusan tahun yang lalu Mudzaz bin Amr mertua Nabi Ismail عليه ااسلام pernah mencoba menggali Zamzam tapi tidak berhasil.
Padahal, saat itu Mudzaz telah mempersembahkan sesaji berupa pedang dan pelana berpangkal emas agar Sumur Zamzam ditemukan.

Bersambung

-

Kisah Rasulullah (3)

Cerita ini saya dapat dari grup whatsapp. Karena menarik dan bermanfaat, maka saya share saja. :) selamat membaca.

-

*KISAH RASULULLAH ﷺ*

Bagian 3

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

*Perampok Kejam dan Tidak Sopan*

Mencuri dan merampok saat itu adalah hal yang biasa. Hanya sebagian kecil saja orang yang tidak pernah melakukannya. Perampok pun bukan cuma mengincar harta dan benda, tetapi juga orang yang dirampok. Perampok biasa menjadikan orang orang yang telah dirampoknya menjadi tawanan dan budak belian.

Saat itu perilaku bangsa Arab amat kejam, sampai melewati batas perikemanusiaan. Anak-anak perempuannya sendiri mereka bunuh. Ada yang dikubur hidup hidup ke dalam tanah, ada pula yang ditaruh dalam tong dan diluncurkan dari tempat yang tinggi. Mereka malu jika mempunyai anak perempuan.

Mereka juga suka menyiksa binatang. Jika seseorang mati, keluarganya mengikat unta diatas kuburan dan tidak memberikan makan serta minum sampai si unta mati. Mereka beranggapan unta itu kelak akan menjadi tunggangan si mati.

Musuh yang tertangkap diperlakukan sangat kejam. Mereka biasa mengikat musuh pada seekor kuda dan membiarkan kuda tersebut berlari sehingga orang yang diikat itu mati terseret-seret. Telinga atau hidung musuh yang kalah dijadikan kalung, serta tengkorak nya dijadikan tempat minum arak.

Orang jahiliyah juga tidak mengenal sopan santun, Mereka biasa berkeliling Ka'bah tanpa memakai pakaian.

Begitulah kebiasaan Orang Orang Arab saat itu.
Mereka adalah bangsa yang maju perdagangannya, pandai membuat perkakas, membuat obat, ahli astronomi, serta mahir bersyair. Namun mereka juga mempunyai kebiasaan buruk.

*Memakan Bangkai Binatang*

Dalam urusan makan dan minum pun tidak ada yang dilarang. Segala macam binatang boleh dimakan. Binatang yang sudah mati pun disayat dagingnya, dibakar, dan dimakan. Mereka juga suka meminum darah, binatang, dan makanan darah yang dibekukan.

*Muthalib*

Suatu hari, Hasyim pergi berdagang menuju Syam. Ketika melewati Yatsrib, (di kemudian hari disebut Madinah), Hasyim melihat seorang wanita baik-baik dan terpandang.

"Siapakah wanita itu?" tanya Hasyim kepada orang-orang Yatsrib.

"Dia adalah Salma binti Amr."

"Suaminya telah tiada. Kini dia seorang janda."

Mendengar itu, Hasyim melamar Salma dan Salma pun menerimanya. Mereka lalu menikah. Hasyim tinggal di Yatsrib beberapa lama. Ketika Salma mengandung, Hasyim melanjutkan perniagaannya. Namun, itulah kali terakhir Salma melihat suaminya karena Hasyim tidak pernah kembali lagi. Ia meninggal dunia di Palestina.

Salma melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Syaibah. Sementara itu, sepeninggal Hasyim, kedudukannya sebagai pemuka masyarakat Mekah dipegang oleh adik Hasyim yang bernama Al Muthalib.
Al Muthalib juga seorang laki-laki terpandang yang dicintai penduduk Mekkah. Orang-orang Quraisy menjulukinya dengan sebutan Al Fayyadh yang berarti Sang Dermawan.
Suatu hari, dia mendengar bahwa Syaibah, keponakannya yang tinggal di Yatsrib, sedang tumbuh remaja.

"Aku harus menemuinya," pikir Al Muthalib,
"dia adalah anak kakakku. Dulu ayahnya adalah pemuka Mekah, maka dia harus pulang untuk melanjutkan kekuasaan ayahnya menggantikan aku."

Ketika Al Muthalib bertemu Syaibah di Yatsrib, dia tersentak,
"Anak ini benar-benar mirip Hasyim."

"Mari Nak, ikut Paman ke Mekah," peluk Al Muthalib.

"Tetapi, jika ibu tidak mengizinkan pergi, aku akan tetap tinggal di sini," jawab Syaibah

*Syaibah*

Nama Syaibah diberikan karena ada rambut putih (uban) di kepalanya sejak dia kecil. Selain Syaibah, Hasyim telah memiliki empat putra dan lima putri yang tinggal di Mekkah.

*ABDUL MUTHALIB*

"Tidak. Aku tidak akan membiarkannya pergi" jawab Salma.
"Dia buah hatiku satu-satunya. Wajahnya lah yang senantiasa mengingatkan aku akan wajah ayahnya".

"Aku juga menyayangi Hasyim", jawab Al Muthalib,
"bukan cuma aku, tetapi penduduk kota Mekah juga menyayanginya. mereka pasti akan senang sekali menyambut kedatangan putra Hasyim. Begitu melihat wajah anak ini, rasa sayangku timbul kepadanya. Seolah-olah aku melihat Hasyim hidup kembali dan berdiri di hadapanku.
Izinkan aku membawanya pergi. Sesungguhnya Mekah adalah kerajaan ayahnya dan Mekah adalah tanah suci yang di cintai oleh seluruh bangsa Arab. Tidakkah pantas putramu pergi ke sana dan melanjutkan pemerintahan ayahnya?".

Salma memandang Syaibah dengan mata berkaca-kaca. Hatinya ingin agar putra satu-satunya itu tetap tinggal di sisinya. Namun, ia tahu masa depan Syaibah bukan di Yatsrib, melainkan di Mekkah. Akhirnya, ia pun mengangguk, "Baiklah, kuizinkan ia pergi."

Dengan amat gembira, Al Muthalib mengajak keponakannya itu pulang. Syaibah duduk membonceng unta di belakang pamannya.
Ketika mereka tiba di Mekkah,  orang-orang menyangka bahwa anak yang duduk di belakang Al Muthalib adalah budaknya.

"Abdul Muthalib (Budak Al Muthalib)! Abdul Muthalib!" panggil mereka kepada Syaibah.

"Celaka kalian! Dia bukan budakku, dia anak saudaraku, Hasyim!"

Namun, orang-orang telanjur menyebutnya demikian sehingga akhirnya nama Syaibah pun terlupakan. Setelah itu, dia dikenal dengan nama Abdul Muthalib. Dia kelak menjadi kakek Nabi Muhammad ﷺ.

Bersambung

-

Kisah Rasulullah (2)

Saya dapat cerita ini dari grup whatsapp. Karena menurut saya menarik dan bermanfaat, maka saya share saja. :) selamat membaca.

KISAH RASULULLAH ﷺ

Bagian 2

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

*Nenek Moyang Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم *

Salah seorang nenek moyang Nabi Muhammad bernama Hasyim bin Abdul Manaf. Ia adalah pemuka masyarakat dan orang yang berkecukupan. Masyarakat Mekah mematuhi dan menghormatinya.

"Wahai penduduk Mekah, aku membagi perjalanan kalian menurut musim. Jika musim dingin tiba, pergilah berdagang ke Yaman yang hangat. Jika musim panas, giliran kalian pergi ke Syam yang sejuk!" demikian keputusan Hasyim.

Hasyim tambah disayangi penduduk Mekah karena pada suatu musim kemarau yang mencekam, ia pernah membawa persediaan makanan dari tempat yang jauh. Padahal, saat itu makanan amat sulit didapat.

"Terima kasih, wahai Hasyim! Engkau menolong kami dengan pemberian makanan ini!" seru penduduk Mekah.

Di bawah kepemimpinan Hasyim, Mekah berkembang menjadi pusat perdagangan yang makmur. Pasar-pasar didirikan sebagai tempat berniaga kafilah-kafilah dagang yang datang dan pergi silih berganti, baik pada musim panas maupun pada musim dingin. Demikian pandainya penduduk Mekah berdagang, sampai-sampai tidak ada pihak lain yang mampu menyaingi mereka.

Akan tetapi, di samping kemajuan yang besar itu, masyarakat Arab juga mengalami kemunduran luar biasa. Itulah sebabnya mereka dijuluki masyarakat jahiliah alias masyarakat yang diliputi kebodohan. Itulah juga sebabnya sampai Allah mengutus rasul terakhir-Nya di tempat ini.

*Pembagian Urusan*

Beberapa jabatan pemerintahan di Mekah di antaranya:
_Hijabah_ : Pemegang kunci Ka'bah,
_Siqayah_ : Penyedia air dan makanan buat para peziarah,
_Rifadah_ : Mengatur pembagian dana dari orang kaya untuk fakir miskin, _Qiyadah_ : Mengatur urusan peperangan.

*Percaya Takhayul*

"Oh, tidak! Burung itu terbang ke kiri! Aku pasti akan tertimpa sial!" umpat seseorang, orang itu kebetulan melihat seekor burung yang terbang di atas kepalanya berbelok ke arah kiri. Sepanjang hari itu, dia jadi murung karena yakin bahwa dia bernasib sial walaupun belum tahu kesialan macam apa yang akan menimpanya.
Orang-orang Arab pada masa jahiliyah amat percaya pada takhayul. Contohnya, mereka percaya jika burung yang mereka lihat terbang ke kiri, nasib sial akan menimpa mereka. Sebaliknya jika burung kebetulan terbang ke kanan, nasib baik akan datang. Kepercayaan semacam ini disebut At Tathayyur

Selain itu, mereka percaya bahwa jika seseorang mati, rohnya akan menjadi burung. Mereka juga percaya bahwa di dalam perut manusia ada ular. Ular inilah yang menggigit di dalam perut sehingga orang merasa lapar.

"Lihat cincin tembagaku ini", kata seorang kepada temannya dengan bangga, "Cincin ini adalah pemberian seorang dukun kepadaku. Tidak sia sia aku memberinya uang banyak agar membuatkan cincin ini. Jangan coba-coba menantangku berkelahi sekarang. Berkat cincin ini, aku merasa jauh lebih kuat!".

Masih banyak kebodohan serupa yang mereka perlihatkan. Mereka juga amat taat menyembah berhala-berhala berbentuk patung. Jika mereka meminta pertolongan kepada berhala, tidak segan-segan mereka mengorbankan binatang ternak dan mengoleskan darahnya di tubuh berhala. Bahkan mereka terkadang sampai hati mengorbankan anak- anaknya sendiri demi mengharap keridhaan berhala.

Selain melakukan kebodohan-kebodohan itu, mereka masih melakukan banyak sekali hal hal yang merusak.

*Awal Mula Penyembahan Berhala*

Awal mula penyembahan berhala di Mekkah, ketika seorang bernama Amar bin Luhay membawa berhala besar bernama Hubal yang dibelinya dari daerah Syam. Di Mekkah, berhala Hubal ditaruh di Ka'bah dan disuruhnya orang orang datang menyembahnya.
Menjelang menaklukkan Mekkah oleh Nabi Muhammad saw. Ka'bah dipenuhi oleh tiga ratus enam puluh berhala yang terbuat dari batu, kayu, perak, bahkan emas.

*Gemar Mabuk dan Berjudi*

Bangsa Arab pada masa itu sangat gemar meminum arak. Hampir semua orang adalah peminum kecuali beberapa saja yang tidak.
Para pelayan datang membawakan baki dan botol-botol minuman. Orang orang datang berkumpul sambil tertawa.
Para penari datang disambut tepukan dan sorak sorai. Ketika minuman mulai membuat mereka mabuk, seseorang kembali berseru, "Bawakan alat alat judi kemari!"

Orang pun membawakan alat-alat judi berupa bilah-bilah kayu dan sebuah kantung kulit. Beberapa ekor unta dipotong, yang kalah berjudi harus membayar unta-unta tersebut. Selain berjudi dengan memotong unta, mereka juga berjudi dengan bermacam macam cara.

Demikianlah minum sambil berjudi adalah kebiasaan yang amat digemari oleh bangsa Arab saat itu. Bahkan, setelah Nabi Muhammad SAW mengajarkan Islam, masih banyak pemeluk baru agama Islam yang masih suka meminum arak sampai turunlah perintah Allah yang berangsur-angsur mengharamkan orang meminum minuman keras.

*Barm*

Judi memotong unta adalah judi yang paling digemari orang Arab Jahiliyah. Bilah-bilah kayu dikocok dalam kantung dan dibagikan. Orang yang mendapat undi kosong dinyatakan kalah dan harus membayar unta yang dipotong. Daging unta kemudian dibagikan kepada fakir miskin. Orang yang tidak suka berjudi semacam ini dipandang sebagai seorang kikir, yang biasa disebut barm

Bersambung

-

Kisah Rasulullah (1)

Saya dapat cerita ini dari grup whatsapp, karena menurut saya menarik dan bermanfaat makanya saya share. :)

*_KISAH YANG SANGAT MENARIK DARI KEHIDUPAN SEORANG KEKASIH ALLAH_*

*KISAH RASULULLAH  صل الله عليه و سلم*

Rindu kami padamu ya Rosul, rindu tiada terpera
Berabad jarak darimu ya Rosul terasa dikau disini
Cinta ikhlasmu pada manusia bagai cahaya suarga
Dapatkah aku membalas cintamu secara bersahaja....
     (Bimbo)

--- Kerinduan yang amat sangat...

*Bagian 1 Pendahuluan*

*Jazirah Arab*

Jazirah Arab itu sebenarnya tidak hanya terdiri atas gurun pasir. Ada banyak tanah subur yang telah dihuni sejak lama. Tanah-tanah subur itu terutama terletak di daerah pantai, seperti Yaman, Yamamah, Hadramaut, dan Ahsa. Di bagian tengah Jazirah Arab ada sebuah wilayah subur lain bernama Najd. Wilayah ini dikenal sebagai tempat asal kuda Arab yang termahsyur di mana-mana.

Najd dan Yamamah juga terkenal sebagai penghasil gandum. Demikian banyak gandum yang dihasilkan sehingga konon mampu memenuhi kebutuhan seluruh penduduk Jazirah Arab yang ketika Nabi Muhammad dilahirkan berjumlah sekitar 10 juta- 12 juta jiwa.
Di kota Madinah terdapat bukit -bukit yang baik untuk ditanami. Sementara itu, kota Thaif terkenal karena buah-buahannya.

Di luar daerah-daerah subur, Jazirah Arab dipenuhi gunung dan bukit-bukit batu yang besar. Tidak ada sungai mengalir. Suhu udaranya sangat panas. Karenanya, penduduk Arab umumnya suka mengembara. Mereka suka berpindah ke tempat mana saja yang dapat memenuhi keperluan hidup sehari-hari berserta hewan-hewan ternak mereka.

*Unta*

Unta adalah kendaraan yang sangat diandalkan penduduk gurun pasir. Ia dapat mengarungi gurun selama 17 hari tanpa minum. Walaupun pelan, jika dipacu unta dapat menempuh jarak sampai 300 km dalam sehari. Unta mau melahap ranting dan rumput pahit yang di jauhi kambing. Unta juga mau minum air berlumpur dan mengubahnya menjadi susu bermutu tinggi yang dapat digunakan sebagai obat tetes mata. Dagingnya dimakan, bulunya dibuat tali, kulitnya dapat menjadi aneka alat, mulai dari sandal sampai atap dan perisai perang. Air seninya menjadi sampo pencuci rambut. Kukunya dibakar dan diulek menjadi tepung untuk obat luka atau adonan kue. Kotorannya dapat dipakai sebagai bahan bakar. Unta adalah karunia Allah untuk penduduk gurun pasir.

*Letak Mekah*

Di Kota Mekah inilah terletak Ka'bah, Baitullah. Ke arah Ka'bahlah seluruh Muslim di dunia menghadapkan diri jika sedang shalat. Di kota Mekah inilah nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, dilahirkan.

Kota Mekah adalah sebuah lembah yang tidak begitu luas, di tengah lautan pasir. Bukit-bukit mengurung lembah ini rapat-rapat. Begitu rapatnya sehingga cuma ada tiga jalan untuk keluar dan masuk Mekah. Jalan pertama menuju ke Yaman, jalan ke dua menuju ke Laut Merah, dan jalan ketiga adalah jalan menuju Palestina.

Ribuan tahun yang lalu, Lembah Mekah hanyalah sebuah tempat persinggahan rombongan kafilah, baik yang datang dari Yaman menuju Palestina maupun sebaliknya, yang datang dari Palestina menuju Yaman. Nabi Ismail lah yang pertama kali membuat Mekah menjadi sebuah kota.

*Pakaian Orang Arab*

Penduduk asli Jazirah Arab adalah suku Badui. Pakaian mereka longgar, hangat pada musim dingin, dan sejuk pada musim panas. Pakaian ini menjaga kulit dari sengatan matahari serta angin kering.
Pada zaman para nabi, pakaian ini terdiri atas dua helai. Satu helai melilit tubuh dari bawah ketiak. Satu helai lagi adalah sebuah jubah panjang sampai kaki dan terbuat dari bulu domba atau unta. Warnanya krem dengan lurik tegak berwarna hitam, biru, coklat atau putih.
Pakaian wanitanya panjang menyapu tanah dan sangat longgar. Selendang melilit pinggang, jubahnya berlurik merah, kuning, hitam atau biru. Cadarnya berwarna hitam atau putih. Tudung kepala berwarna merah, putih, atau cokelat melindungi mata, telinga, dan hidung dari debu dan badai pasir.

*Badui*

Suku Badui adalah penduduk asli Jazirah Arab. Mereka adalah prajurit pengelana yang tangguh. Tinggi mereka sedang, tapi kekar, cekatan, dan kuat menderita dalam alam yang keras. Jika ada anggota keluarga yang tewas, para lelaki Badui akan segera membalas pembunuhnya. Mereka berani dalam bertempur dan sabar dalam kekalahan.

Meski demikian, orang Badui terkenal ramah, senang memberi, dan sangat menghormati  tamu. Mereka juga tenang, sabar, dan tidak cepat marah. Orang Badui juga sangat mengagumi keindahan syair. Jiwa orang orang Badui mudah terpanggil pada kebenaran. Mereka adalah orang orang sederhana. Mereka duduk di lantai dengan wadah makanan di lutut. Dengan demikian, tidak bisa dibedakan mana majikan dan mana bawahan.

Sahabat fillahku, kepada orang-orang inilah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, diutus. Berkat bimbingan Nabi Muhammadlah orang orang Badui dari padang pasir yang sunyi ini mampu mengguncang dunia. Merekalah yang akhirnya menyebarkan agama Islam ke seluruh dunia. Merekalah yang membangun umat Islam menjadi umat yang besar dan dihormati.

Namun, jauh sebelum menyebar ke penjuru bumi, perjalanan umat Islam di Jazirah Arab dimulai oleh kisah Nabi Ibrahim عَلَيْهِ السَلاَمُ.
Beliau adalah nenek moyang Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Bersambung

-

Kamis, 31 Agustus 2017

Hijrah dan Hijab

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Hello blog and readers, apakabar semuanya? Semoga baik-baik aja ya :D

Apa sih yang kalian pikir kalo denger kata hijrah? Apakah pindah dari 1 tempat ke tenpat yang lain? Atau berubah jadi lebih islami? Saya sih kalo denger hijrah kepikirannya yang pertama. Tapi yang sayang maksud sekarang adalah hijrah yang kedua.

Jadi, apakah saya udah berubah jadi lebih islami? Hmm... nggak ngerti juga. Kayaknya sih nggak terlalu ya. Tapi kalo dibilang ada perubahan sih ya emang ada. Dan saya juga nggak ngerti inikah yang disebut hijrah atau bukan. Mudah-mudahan sih iya. Aamiin. :)

Awalnya, saya terpengaruh hijrah karena ada beberapa hal yang terjadi di sekitar saya dalam waktu berdekatan, salah satunya adalah karena beberapa orang di sekitar saya yang hijrah duluan. Pertama, ada teman SMA saya, sebut saja mawar, seorang muslimah. Awalnya dia muslimah yang biasa aja, seperti saya. Kita sama-sama udah pake kerudung dari SMA, tapi yaa.... gitu deh, kerudungnya masih kerudung yang gitu. Menutupi dada sih iya (kalo saya) tapi bajunya masih kadang lengannya panjang menutupi pergelangan, kadang nggak. Terus masih pake celana jeans. Gitu deh kayak cewek-cewek zaman sekarang pada umumnya.

Nah suatu hari saya liat postingan dia sosmed. Dan tahukah kamu? Disitu ada beberapa foto dia (dari jarak jauh, bukan selfie gitu) pakai gamis panjang + khimar + ............... niqab/cadar. Subhanallah.

Disitu saya merasa takjub. Dari dulu (waktu belum ngerti sunnah-sekarang saya ambil hukum cadar yang sunnah) saya emang nggak pernah benci sama orang-orang bercadar (niqabis) dan cadar/niqabnya walaupun juga nggak dukung sih. Jadi netral aja gitu. Soalnya saya yakin, mereka (niqabis) begitu karena ada alasannya. Emang sih muka mereka jadi ketutupan, bikin susah dikenal. Tapi menurut saya (dulu) kalo emang pas ada pemeriksaan-pemeriksaan atau emang di tempat-tempat yang gerak gerik wajib kudu harus selalu dipantau dan diwaspadai sih pake cadar itu salah, nyusahin gitu lho, bikin orang nggak tenang dan segala macam liat orang yang pake cadar. Harusnya gausah ada yang dicurigain malah jadi mencurigakan kan? Apalagi orang bercadar stereotipnya kan teroris -_- (tapi sekarang saya malah sedih + sebel ada stereotip kayak gini, jadi pro niqabis walaupun ga make cadar sih). Cuma kalo misalnya orang lagi di jalan raya, jalan kaki gitu mau ke mana kek, lagi di masjid, lagi di pasar yang ga terlalu desak-desakan, lagi di mall yang luaass, ya pokoknya di tempat-tempat yang suasananya santai gitu lah, saya rasa sih gaada masalah ya (harusnya). Lagian saya dulu juga mikir kalo cadar ngelindungin wajah sih, jadi enak juga buat orang yang risihan kalo mukanya diliatin sama mata-mata jelalatan orang lain. Wkwkwk. Jadi nggak digodain juga sama sembarang orang, lah orang-orang udah pada takut, risih, atau gasuka liatnya. Tapi kalo diceletukin atau dihina kurang tau sih (saya ga punya kenalan/temen yang bercadar, disekitar saya gaada yang bercadar sih, paling di kampus tapi orang-orangnya saya ga kenal tuh. Pokoknya saya belum pernah denger langsung pengalaman bercadar dari niqabis). Terus kalo bercadar jadi ga kena debu, jadi ga item juga badan (orang ketutup banget gitu). Pokoknya ada bagusnya juga. Apalagi kalo dipikir-pikir baju niqabis itu bagus, menutup aurat secara sempurna, daripada baju yang ketat-ketat atau minim-minim gitu kan? Saya (dulu) gasuka dua-duanya sih kalo disuruh milih untuk saya pribadi. Yang satu kelebihan bahan, yang satu lagi kekurangan. Cuma kalo bener-bener disuruh milih, ya saya pasti pilih pake cadar lah. Bajunya syar'i gitu, saking syar'inya malah kelebihan bahan. Kalo pake baju pendek-pendek malu kali, dosa pula. Udah mana ga cocok. Ngapain banget? Tapi yaa.... baju itu pilihan masing-masing pemakainya kan? Makanya dulu saya netral kalo soal cadar, dukung nggak, menghujat juga nggak. Soalnya itu balik ke keputusan masing-masing yang make.

Tapi kalo baju yang syar'i (gapake cadar) saya SETUJU BANGET! Awalnya saya juga gatau kalo baju muslimah itu ada aturannya. Dulu aja saya gatau kalo jilbab (kerudung maksud saya) itu wajib. Terus pas tau dan tau juga konsekuensi kalo nggak pake, akhirnya saya pake jilbab terus, itu juga belum konsisten saya pake tiap keluar rumah, baru ke sekolah, les, jalan-jalan atau pergi ke tempat yang ga deket-deket banget dari rumah. Kalo cuma ke warung deket rumah atau ke tetangga masih ga pake jilbab, mikirnya, "Ah tetangga ini, udah sering mereka liat gue ga pake jilbab". Hhhhh.... parah emang. Tapi dulu mah ngerasa keren kalo ga pake jilbab soalnya rambut yang bagus jadi keliatan (emang belum dapet hidayah wkwk).

Terus suatu hari, entah kenapa-mungkin hidayah, Alhamdulillah-saya ngobrol sama temen saya-muslimah juga, berkerudung juga malahan udah syar'i, tapi dulu saya belum tau apa itu syar'i dan bedanya sama yang nggak syar'i-dan dia bilang, "Sebenernya kan jilbab itu baju tau, kalo yang ini (nunjuk kain di kepala) namanya kerudung."

Saya: "Ah, masa sih?"

Temen: "Iya, beneran. Coba aja searching kalo ga percaya. Oiya, terus kerudung itu gaboleh ketat, gaboleh membentuk kepala sama leher, apalagi sampe telinganya nyeplak. Terus juga harus menutup dada sama bahu."

Saya: "Serius?? Ah masa sih? Yaudah nanti gue searching deh."

Akhirnya saya emang beneran searching. Dan itulah awal mula saya berkenalan dengan yang namanya HIJAB SYAR'I. Saya jadi tahu jika berkerudung (saya lebih suka nyebut kerudung karena sekarang kata "hijab" itu malah identik sama hijab fashion yang kebanyakan, ehm, sebenarnya bukan kebanyakan tapi memang tidak syar'i) itu ternyata syaratnya untuk bisa dibilang syar'i alias sesuai Syariat Islam. Terus kalo pake yang nggak sesuai gimana? Hmm.... D O S A  ._.

Jadi ya gitu deh, saya dulu dosa, bahkan mungkin sekarang juga masih dosa sih :( emang apa aja sih syaratnya?

Buat contoh visual, kalian lihat saja pakaian yang dikenakan muslimah-muslimah yang biasa aktif di rohis-yang biasa disebut ukhti. Nggak semua muslimah anggota rohis bajunya gitu sih, tapi kebanyakan gitu. Baju longgar, kerudung panjang sampai perut, pakai rok, pakai kaos kaki. Kira-kira gitu deh.

Kalo dijelaskan secara singkat syarat hijab syar'i (dan coba bandingkan dengan para ukhti) adalah:

1. Harus menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Selain kedua anggota tubuh ini wajib ditutupi termasuk juga telapak kaki. Jadi banyak muslimah syar'i yang memakai kaos kaki atau gamis yang menyapu lantai (gamis seperti itu boleh dipakai namun ada aturan panjangnya, (kalo tidak salah) maksimal 2 hasta dari mata kaki, lebih dari itu "ishbal"-ishbal itu berdosa)

2. Bukan pakaian untuk berhias seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa. Karena maksud perintah untuk mengenakan jilbab adalah perintah untuk menutupi perhiasan (daya tarik) wanita. Jadi seharusnya jilbab jangan malah jadi dihias/dipercantik dan membuat pemakainya jadi lebih cantik daripada tidak pakai. Oiyaaa... terus juga perempuan kalo keluar rumah lebih baik jangan pakai make up, kalo pakai jangan berlebihan. Karena make up termasuk perhiasan, soalnya membuat wajah jadi lebih cantik.

(Makanya ukhti-ukhti rata-rata mukanya ga make up, bajunya polos-polos hampir ga pernah ada motifnya. Terus kerudung/khimarnya juga bentuknya gitu-gitu aja, ga di model, emang karena biar nggak mencolok. Hijab syar'i itu sederhana.)

3. Pakaian tersebut tidak tipis dan tidak tembus pandang (karena dapat menampakkan bentuk lekuk tubuh) dan harus longgar, minimal tidak ketat (sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh).

4. Tidak diberi wewangian atau parfum. (Btw ga paka wewangian bukan berarti orang-orangnya bau ya. Orang-orang yang begini cuma nggak wangi semerbak, tapi juga nggak bau badan. Ada sih yang "katanya orang" bau badan, tapi seharusnya sih nggak gitu ya. Karena mengganggu orang lain dalam Islam ga boleh.)

5. Tidak boleh menyerupai pakaian pria dan pakaian kaum lain (selain kaum muslimin). Makanya para ukhti pakai rok atau gamis karena pakai celana menyerupai laki-laki. Selain itu salah 1 alasan kerudung/khimar mereka nggak di model juga karena ada model-model kerudung yang menyerupai orang kafir, misalnya model kerudung yang mirip biarawati.

Hei, gamis kan ada yang buat laki-laki juga, contohnya kayak yang dipakai orang Arab. Apa itu nggak saling menyerupai? Jawabannya: nggak, karena gamis untuk laki-laki sama untuk perempuan beda dari sisi panjangnya sama warnanya. Laki-laki kan batas panjang kainnya maksimal semata kaki. Sedangkan perempuan minimal panjang kain menutupi mata kaki. Gamis pria disana biasanya "ngatung" dan gamus wanita biasanya menyapu tanah. Selain itu warna gamis pria biasanya putih atau warna-warna terang, sedangkan gamis perempuan biasanya hitam atau warna-warna gelap agar tidak mencolok. Masih ada bedanya lah.

6. Bukan pakaian untuk mencari ketenaran atau popularitas (pakaian syuhroh). Kalo dengan pakaian itu bikin jadi terkenal atau populer, berarti pakaiannya mencolok kan? Jadi nggak boleh pake pakaian yang bisa mendongkrak popularitas. (Btw cadar nggak termasuk disini ya. Walaupun cadar bisa bikin pemakainya terlihat mencolok diantara orang lain yang nggak pakai, tapi cadar itu sesuai dengan syariat islam, jadi nggak dilarang. Dan mencoloknya cadar tidak dilarang karena cadar kan dipake justru untuk menyembunyikan daya tarik (kecantikan) pada wajah yang tetap terlihat, malah sesuai banget kan dengan tujuan hijab syar'i?)

*(7.)Pakaian tersebut terbebas dari salib. (iyalah ya, orang menyerupai kafir aja dilarang, apalagi pakai simbol-simbolnya. Ini gabung di poin 5 aja)

*(8.)Pakaian tersebut tidak terdapat gambar makhluk bernyawa (manusia dan hewan). (gabung poin 2 aja)

9. Pakaian tersebut berasal dari bahan yang suci dan halal. Tentu saja, Islam sangat memperhatikan kehalalan dan kesucian dalam segala aspek kehidupan.

10. Pakaian tersebut bukan pakaian kesombongan. Jangan memakai pakaian untuk menunjukkan kesombongan ataupun pakaian yang bisa membuat pemakaianya "merasa lebih" dari orang lain. Jangan pakai pakaian untuk dipamerkan.

11. Pakaian tersebut bukan pakaian pemborosan. Tidak boleh berlebih-lebihan dalam berpakaian, misalnya membeli pakaian yang sangat mahal. Lebih baik uangnya dishodaqohkan.

12. Kerudung tidak menyerupai punuk unta. Jadi tonjolan rambut gara-gara diikat harus disembunyikan sedatar mungkin.

(Referensi : https://rumaysho.com/163-pakaian-yang-mesti-engkau-pakai-saudariku.html)

Kira-kira kayak gitu syarat hijab syar'i. Dan... itu terkesan agak ribet untuk dilakukan walaupun sebenarnya sih nggak (asal ada aja baju, khimar dan kaos kakinya)

Hmm... btw masih banyak orang yang nggak percaya kalo hijab itu ada aturannya. Dikiranya itu aturan dari aliran mana lah. Tapi kok saya percaya? Apa saya penganut aliran tertentu?

Hmm... nggak sih. Saya nggak ikut aliran apa-apa. Saya nggak ikut suatu kajian, organisasi atau semacamnya gitu. Tapi saya mencari tau, dan setau saya aturan berhijab ada di Al Quran dan hadist. Tapi lebih banyak di hadist sih, makanya banyak orang yang nggak tau. Boro-boro tau yang di hadist, isi An-Nur ayat 31 aja banyak yang gatau, karena mungkin Al Qurannya gaada terjemahannya atau gimana.

Gitu deh. Lagipula, disaat menemukan hal seperti itu dan saya bingung, saya akan mencoba memakai logika saya untuk mengatasi kebingungan saya.

Beberapa logika saya:
1. Dalam Agama Islam dikatakan bahwa kecantikan seorang suami hanya milik suaminya. Nah kalo pake hijab syar'i, berarti hal tersebut terwujud kan? Perempuan jadi nggak terlalu terlihat menarik kecuali wajahnya aja. Coba kalo pake hijab fashion. Perempuan bisa kelihatan kecantikannya karena make up dan bentuk hijabnya, bisa juga karena motif bajunya yang terlalu mencolok, bajunya keren karena bentuk atau motif atau warna-warnanya yang menarik-bisa menimbulkan popularitas, bentuk badan indahnya kelihatan karena bajunya pas badan atau bahkan ketat, kakinya yang jenjang kelihatan. Nah yang liat kecantikannya yaa bisa siapa aja yang ketemu sama perempuan itu.

2. Salah satu fungsi hijab melindungi diri dari pandangan liar laki-laki dan gangguan laki-laki yang mesum-misalnya. Nah kalo pake hijab syar'i, yang bisa kelihatan cantik pasti cuma muka doang. Tapi kalo pake hijab fashion? Wajah cantik bermake up-menarik mata. Bibir seksi berlipstick-menarik hati. Pakaian dan kerudung bermotif cantik-menambah daya tarik. Bentuk dada yang seksi bisa kelihatan-menggoda iman. Bentuk pantat yang seksi kelihatan-menggoda iman. Bentuk badan yang kayak gitar spanyol kelihatan-menggoda iman. Bentuk kaki yang cantik kelihatan-menggoda iman. Wangi parfum yang segar-meningkatkan birahi. Nah lho?

Menurut kalian, hijab mana yang lebih bisa melindungi seorang wanita dari pandangan mata liar dan godaan lelaki?

3. Nuansa spiritual/religius. Mana yang menurut kalian terasa lebih islami? Sekumpulan ukhti berhijab syar'i yang sedang mengaji atau sekumpulan gadis-gadis berhijab modis yang sedang ngerumpi? Islam yang sebenarnya pasti nuansanya juga sesuai dengan namanya dong, islami.

Nah nah, poin nomor 3 di atas yang membuat saya sangat setuju dan yakin bahwa hijab itu harus sesuai syariat. Memakai hijab dengan asal-asalan bisa menghilangkan nuansa tersebut.

Dulu, sebelum kenal hijab syar'i, saya kadang bingung dan bertanya-tanya. Beberapa pertanyaan saya:

▪Ada yang aneh. Kenapa ya, padahal sama-sama pake kerudung, tapi kok tetep aja rasanya ada "gap" antara saya dan teman-teman saya yang "biasa aja" (kurang islami) dibanding sama ukhti-ukhti rohis itu? Kayak ada bedanya gitu. Emangnya kadar keimanan bisa kerasa ya?

▪Kenapa ya masjid sekarang rasanya aneh? Rasanya udah nggak kayak dulu, entah apanya. Udah gaada nuansa-nuansa itu, entah nuansa apaan. (gabisa dijelaskan dengan kata-kata)

▪Alhamdulillah, sekarang udah banyak perempuan pakai kerudung. Tapi kok banyak yang kayak nggak niat gitu sih kerudungannya? Terus kok rasanya.... gimana ya? Aneh. Udah pake kerudung tapi kok nggak berasa "alim"nya ya? (Bukannya bilang orang nggak alim, tapi yang saya sebut alim itu maksudnya nuansa islaminya, dulu saya nggak ngerti gimana nyebutnya).

Gitu deh kira-kira, dan seinget masih ada beberapa lagi tapi saya lupa.

Dan setelah mengetahui tentang hijab syar'i, akhirnya saya jadi tahu jawaban dari 3 pertanyaan di atas.

Hijab syar'i memang hanya salah 1 dari jenis pakaian yang ada di dunia. Karena hanya sebuah pakaian, hijab syar'i nggak bisa mengubah seseorang secara otomatis. Orang nggak bisa tiba-tiba jadi alim cuma karena pakai hijab syar'i. Pokoknya yang namanya baju itu nggak bisa membuat isi hati seseorang berubah begitu saja, kecuali......

Kecuali seseorang memantaskan diri dengan apa yang dia pakai. Misalnya muslimah yang pakai hijab syar'i jadi terpikir untuk lebih rajin beribadah, lebih rajin belajar agama agar kualitas dirinya bisa selaras dengan penampilannya. Atau contoh lain, seorang remaja perokok yang memutuskan untuk tidak merokok ketika sedang di sekolah dan di tempat-tempat lain selama ia masih memakai seragam sekolah, karena seorang siswa tidak pantas jika merokok dan biasanya selalu kena sanksi sosial jika ketahuan merokok.

Kalo orang yang nggak memantaskan diri mengikuti pakaiannya gimana? Yaaaa gitu. Pernah denger sebutan "kerdus" alias "kerudung dusta"? Atau pernah denger kalimat "jangan salahkan hijabnya, salahkan pemakainya"? Sebutan dan kalimat itu muncul karena pemakai kerudung/hijabnya nggak memantaskan diri. Misalnya disebut kerudung dusta karena orang pake kerudung tapi orang itu nggak berubah jadi alim, tetep aja jahat, nyebelin. Orang yang pake kerudung kan biasanya (stereotip sih) dianggap alim, tapi orang ini nggak. Jadi orang lain yang ngeliat orang tersebut jadi merasa "dibohongi". Kesannya jadi "biar keliatan alim padahal mah nggak" atau "itu orang pake kerudung buat nutupin aib doang".

Tapi terlepas dari kerudung dusta atau nggak, pakai hijab syar'i tetap WAJIB hukumnya dalam islam. Dan "kewajiban berhijab" sama "perilaku" seseorang itu bisa ada pengaruhnya sih, tapi nggak selalu. Lagian, life is a choice, hidup itu pilihan. Manusia bebas memilih, kecuali emang gaada pilihan sih. Misalnya ada aturan/kewajiban/keharusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Tapi bahkan kalo ada kewajiban pun, orang bebas memilih mau taat atau nggak kan sama kewajiban itu? ;)

Jadi jangan heran, walaupun dibilang hijab itu wajib bagi muslimah yang sudah baligh, bisa jadi tetap ada muslimah yang nggak pakai hijab karena memutuskan seperti itu. Terus untuk model hijab yang dipakai, misalnya seorang muslimah tahu hijab yang dipakai seharusnya sesuai syariat/hijab syar'i. Namun jika ia memutuskan untuk memakai hijab fashion, itu adalah pilihan dia. Atau seorang muslimah tau ada yang namanya hijab syar'i namun menolak percaya bahwa hijab yang dipakai haruslah syar'i, itu keputusan yang dia pilih. Ah, tapi saya bukannya mendukung hal-hal seperti itu sih, saya hanya memberitahu saja bahwa tiap orang pada akhirnya yang menentukan sendiri keputusan dalam hidupnya. Namun tugas kita sebagai "orang lain" dalam kehidupan "orang lain" untuk saling mengingatkan. Tetapi kita tetap tidak boleh memaksa.

Hmm... balik lagi ke hubungan hijab syar'i dengan nuansa islami. Memakai hijab syar'i itu kan berat. Bayangkan aja kita wanita harus merelakan kecantikan kita tertutup ketika gadis-gadis lain sedang berlomba-lomba menampilkan kecantikannya. Disitu diuji kesabaran dan ketabahan wanita dalam menghadapi godaan untuk menampilkan kecantikan. Makanya menurut saya hal tersebut membuktikan ketaatan wanita yang berhijab syar'i. Orang yang berhijab syar'i pasti penampilannya sederhana. Dari penampilan sederhana justru orang bisa lebih memperhatikan kualitas dalam diri seorang wanita daripada penampilan luarnya saja. Dan biasanya, muslimah sejati kualitas ilmu, akhlak, ibadah dan lain-lainnya pasti bagus, jadi inner beuaty nya akan sangat memancar, apalagi jika sang wanita memang berwibawa atau punya kharisma tersendiri. Saya pikir, itu lah yang membuat saya merasakan nuansa islami dari para wanita berhijab syar'i. Karena pakaian dengan kualitas dirinya cukup seimbang. Setidaknya mereka lebih berusaha menjaga diri mereka sendiri dibanding orang pada umumnya.

Saya jadi suka banget sama hijab syar'i setelah mengetahui hukumnya dan melihat para ukhti. Sayangnya saya belum bisa berpenampilan 100% syar'i :( doakan ya supaya suatu saat saya bisa 100% syar'i. Aamiin. Dan doakan juga supaya saya istiqomah yaa :D

Menurut saya hijab syar'i banyak banget manfaatnya, salah satunya bisa menjaga keseimbangan. Maksudnya keseimbangan apa? Maksudnya gini, kan ada orang yang terlahir dengan fisik rupawan dan ada yang kurang rupawan dari segi fisik. Dengan memakai pakain sesuai syariat, pasti perbedaan penampilan di antara mereka tidak akan terlalu "jauh". Itu menurut saya sih.

Dan masih banyak manfaat-manfaat lainnya. Pokoknya I ♡ hijab syar'i, I proud to be a muslimah, and Insya Allah, I can really ♡ Allah SWT and Rasulullah SAW.