Tampilkan postingan dengan label INFP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INFP. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Maret 2024

Fi-dom dan Ti-dom

Sebelumnya saya selalu kebingungan, apakah diri saya ini INFP atau INTP, karena menurut saya Fi dan Ti itu memang mirip, tapi entah di mana letak pastinya kemiripan mereka, pokoknya saya sadar kalau ada miripnya tapi entah apanya. Dan… kalau cuma main tes/kuis MBTI sih, saya selalu dapat hasil INFP atau INTP, tidak pernah tipe lain. Kalau cuma baca deskripsi INTP dan INFP, dua-duanya ada sisi mirip saya, tapi ada nggaknya. Atau kadang keduanya malah saya banget. Tapi saya sadar saya ini suka berpikir, terus nggak peka dengan perasaan orang lain, maksudnya tidak bisa keikutan merasakan perasaannya orang lain. Misal orang lain sedih, saya bisa paham mereka sedang sedih, namun hati saya tidak lantas akan ikutan ketularan sedih. Hati saya ya biasa saja gitu, nggak gimana-gimana. Bahkan bisa jadi jika saya sedang bahagia, ketika orang lain sedih ya hati saya tetap bahagia saja gitu, cuma memang tidak diekspresikan demi bersimpati kepada orang lain yang sedang berduka.

Kalau ngomong, apalagi dulu, saya juga bisa sangat blak-blakan sampai banyak orang sebal. Nggak ada lembut-lembutnya samasekali (tidak mirip seperti stereotip seorang feeler di mata umum). Saya juga sering kelihatan dingin, walaupun kalau sekarang sudah sangat jauh lebih baik.

Sekilas memang Fi-function itu mirip Ti-dom dengan Fe-inf nya. Tetapi ya kalau saya pikir-pikir selama ini, bisa jadi saya nggak peka itu ya karena saya Fi-dom sih. Tetapi semua awalnya masih serba ragu.

Mau tau hal apa yang akhirnya bisa bikin saya merasa mirip dengan TiNe (INTP) sampai sebelumnya sempat yakin bahwa saya INTP tapi enneagramnya 4w5 (enneagram yang konon katanya INFP banget) tapi akhirnya sangat yakin saya INFP?

Karena Fi-dom memang mirip dengan Ti-dom! Akhirnya saya menemukan letak kemiripan mereka. Dan karena sesama Ne-aux, jadi semakin mirip lagi.

Bagian mana miripnya?


Because of "WHY". Jadi… Fi-dom dan Ti-dom sama-sama tipe manusia yang suka mempertanyakan "kenapa" dari tiap hal, walaupun apa yang digali dan tujuan bertanyanya berbeda. Dan… mereka melakukan pendekatan pada dunia ini dengan fungsi Ne-auxiliary mereka yang sama itu.

Tipe lain tentu bisa juga ya mempertanyakan kenapa, tetapi… bisa jadi mempertanyakan kenapa itu bukan prioritas, atau tujuannya berbeda, atau malah cara menggali informasi yang dipertanyakan beda dengan Fi-dom dan Ti-dom.


Pada Fi-dom dan Ti-dom, mereka suka mempertanyakan sesuatu dan bahkan mungkin sampai "membongkar" sesuatu dan mencari cara kerja/mekanisme dari sesuatu jika dirasa perlu, kemudian disusun ulang, hanya untuk mencari keakuratan.

Bedanya Ti-dom benar-benar mencari keakuratan logika atau mekanisme akurat dari hal/benda yang dibongkar tersebut, sedangkan Fi-dom mencari keakuratan dari perasaan yang dia rasakan terhadap hal/benda yang sudah dia ubek-ubek tersebut: apakah setelah mengetahui SEMUANYA secara "benar" pasca mengubek-ubek tentang hal/benda ini, aku bisa menyukainya? Atau tidak menyukai hal/benda ini? Bisa diambil jadi prinsip/value atau tidak? Dan jika disukai/tidak disukai, diambil/tidak diambil menjadi prinsip tuh kenapa? Apa alasannya?

Ya, pokoknya Fi-dom memang ada kemiripan dengan Ti-dom, walau harus diakui Fi-dom tidak se "canggih" dan selogis Ti-dom, tetapi sama-sama bisa menjadi lumayan kritis dalam mempertanyakan sesuatu

Jumat, 08 November 2019

Apakah Introver Cocok Berpasangan Dengan Sesama Introver?

Tulisan ini saya pos di salah satu akun milik saya.

***

Apakah Introver Cocok Berpasangan Dengan Sesama Introver?

Sepertinya saya sedang stres, dan entah mengapa kali ini saya memilih platform ini untuk menumpahkan isi kepala saya.

Kenapa juga saya membuat pertanyaan ini, dan mengapa pertanyaannya seperti ini?

Jawabannya adalah… mungkin karena saya agak "lelah" sehabis menghadapi drama "beda alam" hahaha.

Nggak hanya sebuah, namun beberapa drama yang intinya sih sama, "beda alam".

Dia introver, kamu ekstrover. Atau kebalikannya.

Beda alam itu nggak mudah. Bisa kok bersatu, tentu saja, tapi nggak mudah.

Nggak semudah pasangan yang berada di alam yang sama. Bahkan di alam yang sama saja nggak mudah kok, apalagi beda alam?

Nggak semudah: berlawanan sifat akan menciptakan ketertarikan dan daya tarik-menarik yang bisa menciptakan persatuan.

Oke, anggaplah menciptakan ketertarikan dan persatuan itu mudah, namun bagaimana dengan mempertahankannya?

Apakah kalau misalnya terjalin hubungan, ingin sebatas hubungan untuk bersenang-senang, atau untuk jangka panjang?

Sebetulnya, hubungan apapun, mau di alam yang sama mau yang berbeda, pasti sama-sama butuh effort agar bisa bertahan. Antara lain butuh sikap saling pengertian, kesabaran, toleransi, bisa berkomunikasi yang baik, bisa berdiskusi dengan baik, berpikiran terbuka, bisa membuat kesepakatan jalan tengah, sesekali mau mengalah, dan tentunya ada kasih sayang.

Tapi effort untuk bertahan yang harus dikeluarkan pasangan "beda alam" kemungkinan lebih besar sih daripada pasangan yang berada di alam yang sama, kecuali jika bertemu pada saat sudah sama-sama berkepribadian matang.

Dan pada kasus yang beberapa kali saya jumpai, ekstrover kesulitan memahami pasangannya yang introver, dan para introver lama-lama lelah berusaha memahamkan ekstrovernya.

Biasanya sih perbedaannya di mindset, sudah sama-sama kaku di mindset masing-masing. Introver dengan kecenderungan individual dan subjektivitasnya yang lebih kental, sedangkan ekstrover dengan kecenderungan sosial dan komunalnya.

Jadi… apa hubungannya dengan pertanyaan yang saya buat?

Menurut saya, introver dengan introver itu kemungkinan besar cocok. Ya asalkan kaliannya bisa nyambung dan saling merasa nyaman aja sih. Setidaknya, alam yang sama membuat mindset kalian secara garis besar terdapat kesamaan lah, jadinya nggak beda-beda amat gitu.

Malah saya merekomendasikan introver—introver, dengan catatan minimal salah satu di antara kalian ada yang cerewet. Karena tidak semua introver itu pendiam, dan tidak semua pendiam itu introver.

Setidaknya kalian masing-masing tidak terlalu sulit menerjemahkan pasangan masing-masing, dan… tidak menyulitkan orang lain (maksudnya ekstrover) dalam menerjemahkan kalian.

Saya bukannya bermaksud melarang atau mencegah untuk menjalin hubungan "beda alam" ya. Tentu saja boleh, malah bagus kalau berhasil. Sangat bagus, kalian luar biasa!

Namun, ada baiknya sebelum memasuki hubungan, terutama "beda alam", plis tingkatkan dulu ini:

Sikap saling pengertian, kesabaran, toleransi, bisa berkomunikasi yang baik, bisa berdiskusi dengan baik, berpikiran terbuka, bisa membuat kesepakatan jalan tengah, sesekali mau mengalah, dan tentunya ada kasih sayang.

Sekian dari saya. Terimakasih buat yang sudah menghabiskan waktu membaca tulisan ini.


Saya pribadi pun dari dulu berusaha mencari pasangan sesama introver. Untuk berteman sih oke dengan siapa saja, tapi untuk berpasangan, kalau bisa ya introver saja. Dan saya tipe yang termasuk cerewet jika sudah nyaman dengan orang.

Senin, 07 Oktober 2019

Lelah Menjadi INFP (Fi Ne Si Te)

Lelah diriku menjadi INFP, sering berlebihan perasaannya.

Dan ketika perasaan tersebut menggumpal-gumpal, dahsyat. Makanya akan sangat menyesakkan dada.

Efek sampingnya pun macam-macam.

Salah satunya adalah kesulitan tidur, di manapun, kapanpun.

Ini semua karena Fi.

***

Lelah diriku menjadi INFP, sering berlebihan pikirannya.

Dan ketika pikiran tersebut liar, berjalan-jalan dengan bebas, sambung-menyambung menjadi satu dengan sendirinya.

Membuatku otakku tak bisa berhenti bekerja.

Rasanya lama-lama menjadi gila!

Efek samping dari kegilaan itu pun bermacam-macam.

Salah satu yang paling sering kualami adalah kesulitan tidur, di manapun, kapanpun.

Ini semua karena Ne.

***

Lelah diriku menjadi INFP, sering berlebihan memikirkan masa lalu.

Kalau masa lalunya bagus tidak masalah.

Kalau sekadar nostalgia bahagia, itu tak masalah.

Masalahnya adalah...

Mengait-ngaitkan masa lalu yang negatif dengan masa kini, bahkan masa depan.

Berpikiran negatif, menimbulkan skeptis yang keterlaluan.

Yang untungnya masih bisa ditutupi dengan "topeng".

Namun tetap saja, semua masalah itu tidak hilang, hanya terkamuflase.

Dan efek samping dari masalah itu tetap banyak.

Salah satunya ya kesulitan tidur, dimanapun, kapanpun.

Ini semua karena Si.

***

Satu yang cukup kusyukuri, fungsi Te yang ada di belakang.

Setidaknya karena itu aku tidak bisa diinjak sembarangan.

INFP itu lembut, namun jika diinjak dia tidak akan terima. Bisa saja dia menggigitmu balik.

Bahkan mungkin balas dendam.

Itu jika prinsipnya sudah menyetujui. :)

Maka, jangan pernah "membangunkan macan tidur".

Apakah Te ini tidak rese dan mengganggu kedamaian tidurku?

Oh, tentu saja dia tetap pandai mengganggu, sama seperti 3 fungsi sebelumnya yang mengganggu tidurku namun jelas punya sisi positif.

Te ini... ia membuatku menjadi sangat logis, bahkan terlalu logis ketika stres melanda. Dan karena logis maka... ia akan SIBUK MENCARI DATA PENDUKUNG UNTUK MEMBUKTIKAN ARGUMEN YANG IA BUAT SENDIRI. Bahkan meski permasalahannya amat-sangat-tidak-penting-sekali untuk diurusi.

Jadi yaa... waktu tidur bisa terpakai untuk mencari data :") hahaha.

***

Begitulah, (sepertinya) tidur nyenyak merupakan kemewahan yang sangat bagi seorang INFP.

:")

*dari aku, yang ingin tidur tapi hampir tak pernah bisa tidur nyenyak sepanjang hidupku

Rabu, 02 Oktober 2019

Bagian dari Midnight Poem (2019) : In A Dream


In A Dream

Itu adalah salah satu judul webtoon favorit saya. Kenapa favorit?

Karena selain ceritanya memang menarik menurutku, sangat, saya makin suka karena hanya webtoon itulah sepertinya yang paham benar bagaimana perasaan saya yang sebenarnya.

HA?

Iya, webtoon In A Dream meskipun kasusnya tidak seperti saya, namun karakternya menggambarkan perasaan saya dengan sangat akurat. Khususnya tokoh Oliver Kent Archer yang menurut sebagian orang macam bucin parah.

Hasil gambar untuk in a dream webtoon

***

In A Dream adalah sebuah webtoon asal Indonesia karya Angellina dan Cindy Chwa yang terdiri dari 3 season. Menceritakan tentang kisah cinta mendalam yang diikat oleh takdir reinkarnasi antara Oliver Kent Archer dengan Valerie. Karena reinkarnasi, mereka berkali-kali dilahirkan, lalu bertemu saat sudah remaja, saling mencintai, memiliki hubungan yang tidak mulus karena tidak direstui orangtua, namun mencoba mempertahankan hubungan hingga selanjutnya meninggal bersama di usia muda. Kemudian mereka lahir kembali, dan mengulangi alur yang sama.

Sweet, tapi tragis. Tapi sweet.

Sebenarnya ikatan mereka tidak alami. Dulunya, mereka (yang saat itu bernama Hideki dan Yuuki) meminta dibuatkan suatu tato kepada seorang Dewa bernama Zacheus untuk "mengikat" mereka ke dalam takdir reinkarnasi agar bisa selalu bertemu di kehidupan selanjutnya. Makanya mereka bisa bereinkarnasi berkali-kali.

Namun sebelum memasang tato, Zacheus sudah memberi tahu bahwa tato tersebut hanya tato untuk mempertemukan mereka (diawali dengan bertemu di alam mimpi) dalam kehidupan mereka selanjutnya, namun samasekali tidak menjamin perasaan di antara mereka dan apa yang akan terjadi selanjutnya, kecuali cinta mereka tak direstui (karena saat pertama kali meminta tato, hubungan Hideki dan Yuuki tidak direstui orangtua mereka) dan takdir meninggal muda (karena Hideki dan Yuuki nantinya meninggal muda, reinkarnasinya pun akan meninggal muda).



Romantis kan? Iya Yuuki, aku pun setuju :)


Nggak diragukan lho... XD
Mau satu yang kayak Kent!
Eh, tapi saya mau juga sih jadi seperti Kent :)





Scene ketika Hideki dan Yuuki membuat tato ikatan takdir.

Di satu sisi sweet, namun di sisi lain seperti kutukan. Karena mereka dipertemukan berkali-kali, saling jatuh cinta berkali-kali, saling mencintai berkali-kali, namun pada akhirnya harus meninggal muda, walau nantinya bertemu lagi sih.

Pada suatu generasi, yaitu generasi Oliver Kent Archer dan Valerie Frances, alur hidup mereka agak berubah. Nah, di sinilah alur webtoon ini dimulai. Sebetulnya alur webtoon ini campuran sih, tapi anggaplah begitu (dimulai dari situ), saya mau ceritakan dengan alur maju saja.

Yang biasanya mereka meninggal muda berdua, pada masa Oliver Kent Archer, yang meninggal hanya Valerie Frances. Ia meninggal karena kecelakaan. Mereka berdua hampir tertabrak truk, namun Oliver Kent selamat karena didorong oleh Valerie yang malah tidak terselamatkan.

Oliver Kent harus hidup menduda hingga tua, dan kehilangan sebagian ingatan akibat kecelakaan tersebut.

Suatu hari, muncul reinkarnasi istrinya bernama Valerie Agatha, yang sudah menjadi siswi SMA. Dan ia bertemu lagi dengan Oliver Kent sebagai pasiennya. Saat itu Oliver adalah seorang psikiater.

Valerie Agatha diduga memiliki penyakit mental akibat sering bermimpi berada di suatu bakery dan bertemu seorang laki-laki bernama "Kent". Valerie Agatha dan makhuk mimpi tersebut, si "Kent", pada akhirnya menjadi sepasang kekasih karena saling mencintai setelah berkali-kali bertemu di mimpi Valerie. Sayangnya, itu hanya di dunia mimpi. Namun saking cintanya pada Kent, Valerie sampai menenggak banyak obat tidur agar terus tertidur supaya bisa selalu bersama kekasihnya. Hingga ia koma.

Bucin? Ya gimana? Dia cinta. Cowok yang di dunia nyata tidak ada yang mampu membuat Valerie jatuh cinta, hanya Kent seorang yang mampu. Apalagi Valerie memang kesepian karena orangtuanya pergi bekerja di luar negeri sejak ia kecil. Di sekitarnya pun tidak ada orang yang tulus. Bahkan orang yang disebut sahabat pada akhirnya meninggalkan dia karena mereka saling salah paham soal cowok.

Karena keadaannya yang mengkhawatirkan, akhirnya orangtua Valerie mengutus seorang psikiater, yaitu Oliver Kent yang merupakan teman orangtua Valerie, untuk membantu Valerie mengatasi permasalahan mimpinya.

Ternyata eh ternyata, itu semua hanyalah taktik. Orangtua Valerie rupanya sudah tahu ada ikatan takdir antara Oliver Kent dengan Valerie Agatha. Mereka juga tahu bahwa Valerie Agatha adalah reinkarnasi dari Valerie Frances, yang ternyata adalah tantenya sendiri!

Ayah Valerie Agatha adalah Rhodes Arthur Gaille dan ibunya Kimberly Frances. Nah, Kimberly Frances adalah kakak dari Valerie Frances. Semasa muda, Rhodes-Kim dan Oliver-Valerie Frances sering jalan bareng, mereka bersahabat sekaligus bersaudara dan sering double date.

Hanya saja semua fakta tersebut tidak mereka ceritakan pada Oliver Kent yang lupa ingatan sebagian, dan pada Valerie Agatha yang memang belum tahu apa-apa.






Scene ketika Kimberly mengetahui fakta soal anak dan adiknya.

Tapi akhirnya mereka berdua tahu juga setelah berhasil mencerna mimpi Valerie dan ingatannya kembali!




Scene ketika ingatan Valerie Agatha kembali.

Dan... begitulah, tentu saja cerita tidak mulus, ada banyak cerita, termasuk cinta segitiga antara Valerie Agatha, Oliver Kent dan Noel yang tahu-tahu menjadi sahabat setia Valerie, berusaha menemani Valerie kemana pun.

Melihat realita yang sulit, awalnya dokter Oliver yang memutuskan menghindari Valerie Agatha, padahal Valerie sangat mengharapkannya.


Aaahhh... Valerie, I FEEL YOU!! Lebih baik diam aja, ikuti permainan dia, daripada dia pergi.
ITU baru penderitaan. :")

Eh ujung-ujungnya di season 3 malah Oliver yang mengharapkan bersatu kembali dengan Valerie, namun Valerie malah berusaha move on ke Noel, yang juga setia menyukai Valerie setelah 3 tahun lebih terfriendzone.

Di season 3 inilah makin terlihat bagaimana mendalamnya perasaan mereka masing-masing, terutama Oliver Kent Archer. Ah, sumpah, dia tuh... :")

Terlalu dalam. Cintanya terlalu dalam. Kesetiaannya terlalu dalam. Sempat dikira terobsesi pada Valerie, namun akhirnya ia membuktikan bahwa ia sangat rela berkorban demi kebahagiaan Valerie Agatha.

Valerie Agatha yang ingin memilih Noel awalnya sangat kesulitan karena ia terhubung tato dengan Oliver. Tiap kali Oliver atau Valerie merasakan perasaan menyakitkan, entah sedih, kecewa, marah, maka pasangannya juga akan merasakan sakit pada tatonya. Misalnya sensasi seperti terbakar.

Susah banget kan? Gimana Valerie mau move on kalau selalu tahu ketika si Oliver tersakiti? Gimana  mau move on kalau tatonya selalu sakit, dan cara menyembuhkannya ya dengan menenangkan Oliver yang tidak akan tenang kecuali bisa selalu bersama Valerie? Gimana mau move on kalau orang yang dicintainya belum bisa bahagia?

Aih, pokoknya deep parah, keduanya sama-sama saling mencintai sekaligus terluka amat dalam karena mau tidak mau tidak bisa bersatu. Valerie, selain memikirkan Noel, dia juga tidak mau meninggal muda lagi karena kasihan dengan orangtuanya, khususnya Kim. Karena masa dia kehilangan Valerie lagi untuk kedua kalinya?

Kehilangan adik saja sudah sangat menyakitkan, apalagi kehilangan anak?

Padahal sebetulnya Kim dan Rhodes sudah merestui jika Valerie ingin bersama Oliver (yang sudah om-om tapi badassss). Namun Valerie tidak mau, karena ia tidak ingin hanya menjadi bayang-bayang tantenya. Apalagi sudah ada Noel yang menerima dia apa adanya, meski Valerie adalah gadis yang memiliki kisah hidup dan takdir yang aneh.

Pokoknya, ujung-ujungnya, demi kebahagiaan Valerie Agatha, akhirnya Oliver Kent yang awalnya sempat egois mau berkorban. Ia rela tato dan ikatan mereka diputus dengan cairan yang bisa membuat lupa ingatan.

Dan awalnya, Dewa Zacheus (yang muncul lagi) menyarankan agar Oliver saja yang meminum cairan pelupa ingatan itu, toh ia telah "dicampakkan" Valerie Agatha, pasti menyakitkan. Zach saja sudah sempat menyuruh agar Valerie Agatha tidak melawan takdirnya dan kembali kepada Oliver Kent, namun ditolak mentah-mentah dan ia lebih memilih Noel. Karena keadaannya begitu, lebih baik Kent saja kan yang minum cairan itu?

Namun Kent malah memilih memberikan cairan tersebut pada Valerie, agar Valerie bisa melupakannya dan fokus pada Noel. Karena Oliver tidak ingin melupakan Valerie, ia tidak sanggup melupakan kenangan ratusan tahunnya mencintai Valerie, sejak menjadi Hideki hingga saat ini sebagai dokter Oliver yang mencintai Valerie Agatha. Lebih baik Valerie yang melupakannya, daripada dia yang disuruh melupakan Valerie.

AAAAAAAA.... OLIVER, I FEEL YOU SO MUCH!! Melupakan memang tidak mudah, tidak pernah mudah. T_T

Lebih baik tidak pernah mengenalmu daripada disuruh melupakanmu. :")

Dan... endingnya sih... Valerie lupa. Iya, lupa :")

Lalu ia masih bermimpi bakery, namun mimpinya kosong, maksudnya tidak ada orang lain selain dirinya. Dan ada sekat yang tidak bisa ditembus dan dilihat ada apa dibaliknya.

Ternyata, dibalik sekat tersebut ada Oliver! Ya, Oliver yang bisa melihat sekat tempat Valerie berada, bisa melihat Valerie disana, tapi tidak bisa menembusnya. :")

Hal ini adalah efek dari sebagian tato dan ikatan yang masih ada. (Kenangan dan tato Oliver masih ada).

Tapi... Oliver sangat lega karena keputusannya tepat. Tak bisa ia bayangkan, jika dia yang minum cairan tersebut, dan Valerie yang ada di posisinya, bagaimana perasaan Valerie??

Oliver pun memutuskan akan mencintai Valerie dalam mimpi selama sisa hidupnya.



Awalnya masih berharap di mimpi.
Kalau di dunia nyata Valerie sama Noel, setidaknya di mimpi mereka bisa bersama :)
Gue paham banget dah perasaan Oliver :")






Terpisahkan oleh sekat. :")

Namun pada akhirnya bersyukur. I FEEL YOU SO MUCH Olv!!
Paham banget, paham banget perasaan Oliver.


Tidak bisa mencintai dan memilikimu...
Berteman denganmu pun (sepertinya) sudah cukup
*eh, apaan?



Pada akhirnya setia mencintai satu orang aja kan? Iya, aku paham.
IYA AKU PAHAM.
Misalkan jadi Oliver gue juga akan mengambil keputusan yang sama!
Mana bisa sih disuruh ngelupain yang udah terikat takdir (apalagi udah ratusan tahun bersama) ?? AELAH! wkwkwk

Sementara Valerie dan Noel akhirnya menikah, dan hidup bahagia hingga... maut memisahkan.

Ya, Valerie Agatha meninggal duluan.

Dan hari kematiannya sama dengan Oliver Kent Archer.

Dan di alam penantian mereka sempat bertemu kembali. Sekatnya masih ada namun Valerie dan Kent sudah bisa saling melihat.

Kemudian, di kehidupan yang baru akibat reinkarnasi (yang ternyata terus berlanjut), mereka bertemu kembali. Hanya reinkarnasi Kent yang memimpikan reinkarnasi Valerie. Namun, karena reinkarnasi Valerie di kehidupan itu lagi-lagi mencintai reinkarnasi Kent, akhirnya... ia pun bermimpi juga. Di mimpi tersebut masih ada sekat, namun sekat tersebut bisa ditembus oleh reinkarnasi Kent karena Valerie telah mencintainya. :)

Akhirnya tato mereka muncul kembali, ikatan mereka ada lagi. Hanya ingatan reinkarnasi Valerie tentang kehidupan sebelumnya yang hilang, namun masa depan mereka tidak hilang. :)

***

Begitulah kira-kira kisah webtoon In A Dream. Lalu, apa hubungannya In A Dream dengan saya?

Yaaaa....In A Dream ceritanya bikin baper banget dong!! Dan tokoh-tokohnya juga pada baperan parah, perasaan mereka very deep! Terutama Oliver Kent.

Seperti saya yang perasaannya juga sangat mendalam. :")

Iya, jadi saya ini sebagai seorang INFP adalah "alien" yang pikirannya rumit dan perasaannya sangat mendalam. Sangat mendalam. Saya ulangi, sangat mendalam.

Wkwkwk.

Saya pernah patah hati. Karenamu. Kamu tidak tahu, tentu saja. Dan tidak perlu tahu.

Tapi blog ini perlu tahu, makanya saya cerita di sini. Hahaha.

Teman-teman saya juga banyak yang pernah patah hati, namun yang mereka rasakan tidak seperti saya. Tidak sesakit yang saya rasakan. Sakitnya tidak sekuat yang saya rasakan. Dampaknya tidak sedahsyat yang saya rasakan.

Saya sakit. Awalnya saking sedihnya sampai tidak bisa menangis. Lalu ketika sudah menangis, malah tidak bisa berhenti. Seminggu berturut-turut saya menangis parah. Seminggu kemudian masih menangis tapi sudah mendingan. Badan saya kurusan, ciri khas patah hati yang patah sepatah-patahnya. Saya baca berbagai artikel soal patah hati. Dan akhirnya saya sadar mengapa banyak orang yang tidak bisa move on bertahun-tahun, atau trauma, atau bahkan sampai ingin bunuh diri karena patah hati atau putus cinta. Saya tidak sampai ingin mati sih, namun saya jadi paham ternyata memang "sesakit itu".

Sedih, kesedihan yang sangat menyakitkan. Tubuh seolah-olah kehilangan rohnya, yang tertinggal hanya seonggok daging hidup. Lemas tubuh saya, namun tetap harus beraktivitas. Kemudian setelah beberapa waktu berlalu, saya pikir sudah waktunya "berdamai" dengan kenyataan ya, akhirnya saya memaksa pikiran saya untuk "berdamai", memulihkan mental.

Perlu waktu hampir tiga bulanan untuk saya memulihkan mental. Kemudian saya sempat merasa lebih tenang sih. Namun ketika psikosomatis (penyakit diakibatkan kondisi psikis yang bermasalah) malah menyerang, saya sadar bahwa ternyata saya memang belum benar-benar berdamai, pikiran saya bisa bohong, tapi tubuh saya tidak. Perasaan negatif saya jadi lari ke tubuh. :")

Itulah yang terjadi disaat-saat saya masih merasa kehilangan.

Saya baru sadar soal perasaan saya yang "lebay" itu, sebagaimana saya baru menyadari bahwa saya adalah "alien" yang pikirannya rumit dan perasaannya sangat mendalam setelah mengalami itu semua dan mencari tahu mengenai itu semua. Tentang cinta, patah hati, maupun diri sendiri.

Tidak ada orang di sekitar saya yang bisa paham saya, karena jarang merasakan hal yang persis. Mereka bisa bangkit setelah seminggu-dua minggu, dan samasekali tidak terkena psikosomatis. Hanya saya sendirian, hanya saya yang mengalami itu semua.

Saya juga... apa ya?

Kadang ada yang menyuruh saya untuk melupakanmu. Hey, mana bisa? Lagian, buat apa?

Ada pula yang menyuruh saya untuk meninggalkanmu. Hmm... aku masih ingin jadi temanmu bahkan meski (nanti) tak cinta lagi.

Atau menyuruh saya untuk membencimu. Gimana caranya, dan buat apa??

Atau menyuruh saya untuk realistis. HALAH, DI MIMPI LEBIH ENAK! In A Dream! Hahahahaha. XD

Atau menyuruh saya untuk segera mencari penggantimu. Move on. Bahkan dirimu sendiri. Sedih amat dah gue... coba woyyy lihat itu Oliver, perasaan gue persis kayak dia woyyy!!

Ah, sumpah, nggak ada yang paham bagaimana perasaan saya.

Namun ketika membaca ulang webtoon In A Dream, akhirnya saya sadar bahwa ada yang perasaannya mirip saya, meskipun fiksi. Oliver Kent Archer. :)

Ah, Valerie Agatha juga agak mirip saya sih (tapi miripan sama Kent). Saya sebaiknya melakukan hal yang sama seperti dia, hanya saja saya belum bertemu Noel. Hahaha. XD

Mungkin yang agak mirip lainnya adalah, sepertinya aku dan kamu terikat takdir juga. Tapi khusus untuk yang satu ini ada kemungkinan saya "halu" sih, walau kita sama-sama sudah saling merasa dan (mau tidak mau sih saya) mengakui bahwa kita adalah soulmate yang (mengikuti maumu) tidak akan jadi pasangan romantis. Cukup berteman saja.

:")

Tapi ya gitu, serius deh, saya merasa seperti diikat takdir denganmu. Entah takdir apaan wkwkwk. Oh iya, takdir soulmate itu sih! Atau kalau menurutku malah twinflame.

Pada akhirnya, aku berharap, meski nantinya aku sudah tak cinta lagi, dan sudah menemukan penggantimu, kita tetap bisa berteman.

Dan kamu, semoga menemukan wanita yang terbaik. Aamiin.

*ini doa kalau misalnya kita memang tidak berjodoh sampai akhir yaa... kalau jodoh ya nggak gitu doanya wkwkwk. Udah nggak sengarep dulu, tapi aku masih buka peluang untukmu. Selalu sih sepertinya, selama aku belum memutuskan bersama dengan orang lain. Oh, tapi jangan khawatir, aku juga mencoba berusaha mencari penggantimu kok walau sulit, sambil tetap sedikit berharap kamu. Dan... aku tidak mau memaksakan diri (lagi). Kalau belum move on ya belum, yaudah biarkanlah... karena aslinya aku ingin seperti Oliver!

Oiyaaaa... aku senang, dan bersyukur misalkan memang kau tidak merasakan apa yang (sempat) kurasakan: berpura-pura sudah tidak ada rasa padahal masih suka.

Lebih baik kamu sudah tidak ada rasa betulan daripada merasakan seperti itu. Sumpah, sakit. Biar aku saja. :)

Seperti Oliver yang membiarkan dirinya dilupakan oleh Valerie yang meminum cairan, daripada membuat Valerie merasakan sakit karena dilupakan olehnya. :)

:)


***

Berikut adalah scene dalam In A Dream lainnya yang sangat menyentuh saya!

- Di parallel universe. Misalkan yang meninggal tertabrak truk adalah Oliver Kent Archer, bukan Valerie Frances.





Sedih banget Valerie Frances masih bisa nangis padahal udah bertahun-tahun berlalu.
TAPI IYA GUE PAHAM KENAPA, GAUSAH DITANYA. :")


Aslinya sih Valerie itu setia dan nggak mau memutuskan hubungan lah! XD
Cuma karena keadaan aja makanya akhirnya Valerie Agatha... memilih realita daripada mimpi.
:")

- Ketika alam bawah sadar masing-masing yang berbicara. :")









Akhirnya tersadarkan ya Kent :")


Untungnya sih memang dicintai balik :")
nggak kayak saya yang cuma sempat disukai bentar banget sama dia
Tapi tetap saja menyakitkan, huaaaaa T_T


Sakit banget jadi Valerie, sakiiitttt T_T
Susah banget gila ngelepasin orang yang dicintai karena terpaksa (apalagi kalau tahu si dia sebenarnya mencintai juga).
Nangis beneran gue pas scene ini, baper banget!
Nyesek parah. T_T

Oliver Kent yang merelakan, gue yang nggak rela T_T
Cukup cintaku saja yang tidak bersatu dengan dia Pak Dokter, cintamu jangan T_T

Konyol tapi realita, waktu episode ini sama episode Valerie-Noel menikah, saya galau betulan, sedih betulan, sampai update status atau apa gitu. Sampai saya dikira lagi galauin kamu (iya, si kamu yang soulmate saya itu) padahal bukan. Saya lagi galauin nasib Pak Dokter. Huaaaaa... emang webtoon ini bikin baper parah, apalagi saya orangnya pun baperan parah. Udah deh, combo maut. Moodku hancur berantakan selama dua hari cuma gara-gara baca webtoon doang. T_T

4 hari deng, kan saya baca 2 episode. 1 episode mampu menyebabkan kegalauan selama 2 hari.

"Yaelaahh... gue kira kenapa. Kirain galau gara-gara Mr. X (ini sebutan buat kamu. Tenang, walaupun aku cerita-cerita tentang kamu ke beberapa temanku, tapi identitas aslimu kupastikan aman, cuma aku yang tahu) ternyata gara-gara Oliver doang!" komentar seorang teman saya yang juga pembaca In A Dream dan sesama tim Oliver.

Nggak doang dong! Lu nggak tahu aja INFP itu kalau baper separah apa? T_T

Nih deh kukasih sekalian meme INFP :

Dibaikin dikit aja langsung mau baikin berkali-kali lipat. :")

Ini nih, sereaktif ini, sebaper ini aslinya!! :")
Ada omongan manis dikit aja... kepikiran terus baper T_T
INFP tuh gabisa dibaikin tapi gabisa juga dijahatin wkwkwk.
#dasarINFP #dasarakuhh

Gitu deh kira-kira, INFP (aslinya) baperan parah. Tapi, nggak bego. Maksudnya nggak selalu bego. Kalaupun bego, biasanya itu pilihan yang memang disengaja, bukan karena nggak paham-paham kalo lagi dimanfaatin. :")

Dan... karena udah kebiasaan baperan, kadang malah udah terlatih menghadapi hal-hal yang bikin baper. Jadi misalkan tetap baper, bapernya sih tetap, namun reaksi dalam menghadapi kebaperan yang kami tunjukkan di depan orang lain nggak payah-payah amat lah. Malahan sebagian INFP terkenal sebagai jagoan pokerface lhoo... atau macam saya yang (mantan) heartless.

Padahal kalian nggak tahu aja isi hati saya, ada berbagai jenis gelombang perasaan yang menghantam hati saya (dan INFP lain) selama ini dibalik reaksi yang normal cenderung datar/cuek atau malah galak. Wkwkwk.

Dan juga... kami sensitif, baperan itu sensitif kan? Sehingga kelebihannya kami cukup peka menghadapi orang lain. :)

#ngapa malah bahas INFP? lanjutkeun In A Dreamnya!

- Ini gue demen banget kata-katanya! Setia banget!



- Kalau masih bisa bermimpi, BERMIMPI LAH!







Monmaap kiss-scene tidak disensor wkwkwk

***

#NOTE: mungkin saya sudah gila karena menulis beginian. Sok-sokan "berkorban", padahal dicintai saja tidak XD wkwkwk. Tapi ya itu, cintaku aslinya sedalam ini. Kalau saja kau tahu dan mau tahu, serta mau dicintai olehku wkwkwk.

Semoga deh nanti aku menemukan penggantimu, yang lebih layak untuk kucintai dan mau dicintai olehku (kalau kita tidak berjodoh, jodoh kan nggak ada yang tahu sampai bersatu nanti).

Sebenarnya menurutku kamu cukup layak untuk kuberi cinta, namun kamu sendiri yang menolak dan malah merendahkan dirimu sendiri. Jadi, bukan salahku kan? :")

Semoga, apapun yang terjadi ke depannya, itu yang terbaik bagi kita berdua. Aamiin. :)

~dan entah sampai kapan tulisan Midnight Poem ini masih berlanjut di orang yang sama, sekarang sih aku masih senang berada di mimpi~