Jumat, 19 Juni 2026

Sekufu

Makin paham kenapa jodoh itu sebaiknya/dianjurkan adalah cerminan diri, dan mengapa jodoh itu sebaiknya/dianjurkan sekufu, karena ini semua ujung-ujungnya tentang LIFESTYLE/GAYA HIDUP, akan cocok gak gaya hidup si pria dengan gaya hidup si wanita jikalau dibawa untuk hidup bersama 1 atap/1 rumah/1 ruangan?



Dan... kalau dikaitkan dengan agama & perintah Tuhan, di beberapa agama pernikahan termasuk sebagai salah 1 ibadah, dan... masalahnya adalah ibadah aja ada macam-macam, walau hukumnya juga ada beberapa, ada yang wajib/harus, ada yang sunnah/dianjurkan walau gak sampai wajib. Tetapi karena ibadah ada beberapa macam saja = manusia bisa memiliki "preferensi pribadi" jika ibadahnya di luar ibadah wajib kan?

Nah, kaitannya... dengan lifestyle tadi. Misal pakai contoh ajaran agama saya sendiri aja ya, agama Islam, misal di Islam sholat 5 waktu itu wajib, di luar itu adalah sholat sunnah. Sedangkan ibadah sunnah gak cuma sholat. Ada sedekah (versi wajibnya sedekah adalah zakat), terus bisa juga puasa sunnah (versi wajibnya adalah berpuasa di bulan Ramadhan, di luar itu puasa sunnah atau puasa qodho kalau punya utang puasa Ramadhan), bisa juga berdzikir.

Nah, jadi bisa saja beda orang beda preferensi ibadah sunnahnya, yang mana lama kelamaan akan membentuk lifestyle tertentu. Misal si A, di luar ibadah wajib, dia rajin sholat sunnah, jadi lifestylenya dia jadi sering sholat bahkan tahajud rajin, misalnya. Tapi mungkin di luar sholat sunnah tsb dia tidak rajin/konsisten melakukan ibadah sunnah lainnya. Dan misal si A orangnya cukup hemat & perhitungan, jadi dia memandang uang itu "berharga, dipakai secukupnya saja". Bersedekah pun jadinya "secukupnya saja" pakai versi standar si A, yang penting kan udah zakat.

Sedangkan si B di luar ibadah wajib, dia senang bersedekah & berbagi, tapi mungkin selain bersedekah & berbagi, dia tidak terlalu rajin/konsisten melakukan ibadah lainnya. Misal, bagi dia sholat tahajud di malam menjelang pagi itu berat, dia gak kuat. Dia mendingan disuruh "menghamburkan uang" dengan sedekah banyak-banyak aja, misalnya. Di luar sedekah si B ini juga orang yang royal kepada keluarga & teman-temannya.

Nah, kalau misal si A & B menikah, kebayang gak, misal mereka susah berkomunikasi dengan baik & susah kompromi dengan pasangan, semua merasa "paling benar", padahal semuanya benar, semua ibadah sunnah yang baik jika dikerjakan, tapi karena lifestyle mereka berbeda, kalau gak bisa berdiskusi dengan baik, bisa berantem sih. Misal si A anggap si B pemalas karena gak suka sholat sunnah, sedangkan si B bisaa anggap si A itu pelit karena sedekahnya gak seroyal si B. Padahal itu sama-sama masih baik, sama-sama masih rajin ibadah sunnah, cuma beda aja preferensinya. Mereka bisa saling melengkapi & mengingatkan untuk menambah amalan ibadah sunnah, kalau merema bisa berkomunikasi & diskusi yang baik, kalau bisa saling berkompromi, tapi kalau gak bisa ya berpotensi berantem. Bukannya si A jadi makin banyak sedekah di samping sholat sunnah, dan si B jadi rajin sholat sunnah juga disamping sedekah, malah berantem. -,-

Bayangin, itu yang sesama "orang baik" yang notabene lifestylenya masih mirip karena masih di seputaran "rajin melakukan ibadah sunnah" aja masih berpotensi cekcok, apakabar orang yang emang gap-nya terlalu jauh? Misal, orang yang sholatnya bolong-bolong & sesempatnya vs orang yang sholatnya selalu tepat waktu + lengkap, segala sholat wajib + sjolat sunnahnya dikerjakan semua. Itu kalau komprominya gak besar, sulit banget sih.

Karena sesama sholat aja, kalau yang suka tepat waktu, di mana ada adzan, di situ dia akan bergerak cepat mencari masjid/mushola, as soon as possible. Sedangkan bagi orang yang sholat dalam waktu tapi gak selalu tepat, biasanya bisa mikir "nanti aja sholatnya di rumah aja/di mushola kantor/di mana lah" atau "nanti aja sholatnya abis makan aja/abis kerjaan ini selesai/dsb". Itu bisa bikin gak nyaman kadang semisal sedang bepergian bareng. Yang 1 minta "ada mushola tuh, mampir yuk, pas banget udah adzan", sedangkan yang 1nya bilang "nanti aja sholatnya di rumah aja, ini kita lanjut perjalanan sampai rumah aja".

Ya pokoknya gt deh. Bayangin kalo yg sholat bolong-bolong bersatu dengan yg sholatnya rajin + lengkap, kalo pengertian & kompromi mereka gak besar. Si yang malas sholat (saya kebetulan alumni, alhamdulillah udah keluar dari sana, semoga istiqomah sampai mati, aamiin yaa rabbal aalamiin) bisa merasa insecure karena merasa "kurang baik/kurang suci", atau malah "tersindir" dengan si rajin sholat, terus misal si rajin sholat mengingatkan/mengajak sholat bareng aja si malas sholat bisa serasa lagi diatur & dipaksa, terus "gak diterima apa adanya, padahal aku udah bersikap baik (di luar perkara sholat ya)", jadi berpotensi berantem lah. Sedangkan si rajin sholat, sesabar apapun dia, lama-lama bisa muak juga, minimal dia merasa "Ya Allah, apakah pernikahanku ini adalah ujian? Apakah... aku dan pasanganku ini bisa jadi jodoh dunia-akhirat, atau kami cuma bisa bersama di dunia ini aja?", karena tujuan si rajin sholat ini mungkin udah lebih "deep" daripada si malas sholat. Ujung-ujungnya pasti dia/mereka akan merasa "hampa" juga, bahkan walau di luar perkara sholat mereka super romantis misalnya, tetapi diam-diam pasti ada yang "ditahan" juga dan merasa... gak bisa "bebas" jadi diri sendiri seutuhnya pas bersama pasangan.

Gitu deh, jadi sekufu emang penting, karena kaitannya dengan lifestyle. Dan walau menikah itu ibadah, dan kita emang disarankan menikah dengan orang yang seiman & seagama, terus dengan jemaat yang baik & taat/orang sholeh & sholehah, tetapi... jangan cuma lihat sholeh/sholehahnya aja, lihat juga... lifestylenya nyambung/cocok dengan kamu gak? Ini maksudnya termasuk lifestyle beragamanya yaa...

Kyk beberapa kasus, ada pasangan yang sama-sama Islam, sama-sama orang baik sebenarnya, sama-sama melakukan yang wajib dengan baik, tetapi yang 1nya rajin kajian tapi juga rajin nonton film & drama di TV/internet + rajin dengar musik (selama bukan konten propaganda maksiat), sedangkan yang 1 lagi rajin kajian & anggap semua itu haram mutlak = jadi berantem di rumah karena yang 1 maunya hidup tanpa film, drama, lagu-lagu, pokoknya yang haram-haram, sedangkan yang 1nya lagi mau hidup cukup Islami tetapi masih moderat, dan anggap film, drama, lagu tsb hukum haram/tidaknya tergantung isi kontennya.

Pokoknya gitu deh, kalau pakai bahasa jamannownya: sekufu hampir sama dengan kecocokan lifestyle, dan makanya karena itu sekufu dalam pernikahan ternyata memang sepenting itu, karena pernikahan menyatukan dua pasangan + dua keluarga + dua keluarga besar sekaligus :")


*19 Juni 2026