Tampilkan postingan dengan label tugas softskill. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas softskill. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 November 2017

Review Jurnal


REVIEW JURNAL
Judul
Parenting Attitude and Style and Its Effect on
Children’s School Achievements
Jurnal
International Journal of Psychological Studies
Volume & Halaman
Vol. 2, No. 2 hal. 217-222
Tahun
2010
Penulis
Abdorreza Kordi dan Rozumah Baharudin
Reviewer
Alfrida Ramadhani
Tanggal
26 November 2017

Abstrak
Jurnal “Parenting Attitude and Style and Its Effect on
Children’s School Achievements” mengulas studi empiris tentang prestasi sekolah anak-anak. Kontribusi sikap dan gaya mengasuh anak (parenting) diperiksa dalam kaitannya dengan prestasi sekolah anak-anak. Hubungan yang kuat antara prestasi sekolah anak-anak dan sikap dan gaya parenting dilaporkan dalam jurnal ini.

Abstrak yang disajikan penulis hanya menggunakan Bahasa inggris  Secara keseluruhan isi dari abstrak ini langsung menuju ke topik bahasan yang dibahas dalam jurnal ini, yang menurut saya cukup mudah dipahami pembaca.
Perkenalan (Introduction)
Dalam paragraf pertama, penulis menjelaskan tentang tiga jenis gaya pengasuhan (parenting) menurut konsep dari Baumrind (1971) yaitu otoriter, permisif dan otoritatif. Dari berbagai jenis gaya pengasuhan, studi orang tua di Asia telah menunjukkan gaya pengasuhan otoriter.

Dalam paragraf kedua, penulis menjelaskan bahwa keluarga adalah sumber sosialisasi pertama anak, jadi pola asuh dan pengaruh keluarga bisa sangat mempengaruhi pemahaman, sikap dan prestasi sekolah anak.

Dalam paragraf ketiga, penulis menjelaskan perbedaan prestasi yag disebabkan oleh perbedaan pola asuh pada anak Asia dan Amerika. Anak Asia biasanya tampil lebih baik secara akademis dibanding anak Amerika karena orangtua Asia menekankan proses adaptasi terhadap sikap, nilai, dan perilaku budaya yang dominan. Anak Asia dituntut memiliki nilai-nilai “kesalehan” pada diri mereka, serta memprioritaskan kepentingan keluarga daripada kepentingan pribadi. Sedangkan pada anak Amerika, nilai-nilai kebebasan individual lebih ditekankan.

Dalam paragraf keempat, penulis menjelaskan mengenai pentingnya peran keluarga dan pola asuh (parenting) bagi masa depan anak. Peran keluarga dan pola asuh menentukan akan menjadi seperti apa seseorang di masa depannya.
Pembahasan
Pada bagian pembahasan, penulis menggunakan tinjauan literatur sebagai sumber data.

Dalam paragraf pertama, penulis membahas gaya pengasuhan.

Dalam paragraf kedua, penulis membahas permasalahan yang sering diperdebatkan mengenai pola asuh, yaitu pola asuh yang bagaimana sebenarnya yang terbaik?

Dalam paragraf ketiga, penulis membahas mengenai pengaruh pola asuh otoritatif terhadap kematangan psikososial, yang kemudian akan mempengaruhi bagaimana siswa tampil di sekolah, hingga akhirnya berpengaruh pada prestasi siswa.
Dalam paragraf keempat, penulis membahas dampak keterlibatan orang tua dan pengaruhnya terhadap aspek-aspek pengasuhan yang spesifik.

Dalam paragraph kelima, penulis membahas penelitian yang terkait dengan pentingnya gaya pengasuhan dan prestasi akademik di sekolah.

Dalam paragraph keenam dan ketujuh, penulis membahas penelitian mengenai persepsi siswa terhadap gaya pengasuhan yang diterapkan orang tua mereka. Lalu, kesimpulan penelitiannya adalah, temuan menunjukkan bahwa pola asuh mempengaruhi prestasi akademik remaja.

Dalam paragraph kedelapan, penulis membahas gaya pengasuhan orang tua dan sekolah-sekolah di China yang otoriter serta dampaknya terhadap prestasi belajar anak, serta penelitian yang terkait dengan hal tersebut.
Dalam paragraf kesembilan, penulis membahas penelitian yang menemukan keterlibatan orang tua berhubungan positif dengan prestasi akademik siswa.
Dalam paragfraf kesepuluh, sebelas, dan duabelas, penulis membahas penelitian mengenai aspirasi orangtua terhadap prestasi anaknya.

Dalam paragraph ketigabelas, penulis membahas mengenai ketidakmampuan anak untuk belajar dan merespons sistem peraturan di sekolah yang mungkin terkait langsung dengan bagaimana orang tua mereka mengajar mereka untuk menanggapi otoritas dan masalah interpersonal mereka. Jadi, hal tersebut berkaitan dengan pengasuhan orangtua mereka.

Dalam paragraph keempatbelas, penulis mengungkapkan suatu hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pemantauan orang tua yang rendah secara tidak langsung mempengaruhi penyalahgunaan zat remaja dengan meningkatkan kemungkinan lebih banyak waktu yang dihabiskan dengan menyimpang teman sebaya.

Dalam paragraph kelimabelas, penulis membahas mengenai berbagai instrumen yang bisa digunakan untuk menilai pengasuhan orangtua (parenting).

Kesimpulan
Pada bagian kesimpulan, penulis menyimpulkan bahwa orang tua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi sekolah anak mereka. Terutama ketika mereka terlibat dalam pendidikan anak-anak mereka dan memantau pekerjaan anak-anak mereka setelah sekolah.

Kemudian menurut penulis, gaya pengasuhan yang memiliki dampak terbaik pada prestasi akademik adalah gaya pengasuhan otoritatif atau disebut juga gaya pengasuhan berwibawa, yang akan membuat anak menjadi otonom, berorientasi pada prestasi, dan mampu mengontrol diri sendiri. Gaya pengasuhan otoritatif dikaitkan dengan tingkat remaja yang lebih tinggi prestasi sekolahnya.

Sikap dan gaya pengasuhan anak mengarah pada prestasi sekolah anak-anak. Disimpulkan bahwa sikap dan gaya pengasuhan orang tua memiliki dampak kuat pada anak-anak mereka. Karena itu, prestasi anak bisa jadi tercermin dari sikap dan gaya orang tua mereka.

Menurut saya, kesimpulan penulis baik, namun kurang mewakili keseluruhan isi jurnal.
Kelebihan Jurnal
1.       Literatur yang digunakan banyak.
2.       Cukup banyak hasil penelitian yang dipaparkan.
3.       Tulisan cukup mudah dipahami.
Kekurangan Jurnal
1.       Penulis tidak melakukan penelitian sendiri



Selasa, 31 Oktober 2017

20 Tahun Kehidupanku

Halo, perkenalkan nama saya Alfrida Ramadhani, kalian bisa panggil saya Al. Kali ini, saya akan menceritakan tentang 20 tahun kehidupan saya.

Hmm... sebelumnya saya mau bilang, mungkin cerita ini akan sedikit tidak beraturan. Saya harap kalian yang membaca cerita ini bisa maklum.

Kehidupan saya bisa dibilang... biasa saja. Malah mungkin membosankan bagi sebagian orang. Tapi saya tidak merasa bosan sih.

Waktu masih kecil, banyak orang yang menyukai saya. Iya, soalnya saya dulu imut banget. Kata orang-orang itu, iya orang-orang itu. Hehe... terus saya sempat juga merasakan fase kehidupan dimana saya memiliki wajah yang mirip dengan Sherina, mantan penyanyi cilik itu. Banyak orang yang bilang saya mirip dia, cuma saya memang lebih muda sih, hohoho... Hmm... itu kan cuma wajahnya saja, bagaimana dengan kemampuan menyanyinya?

Saya pernah diceritakan oleh ibu saya, waktu kecil saya pernah diundang ke pesta ulang tahun seorang anak temannya. Nah disitu, dengan pedenya, saya menyanyi waktu MC memberi tawaran pada siapa saja yang bersedia untuk bernyanyi. Kemudian setelah itu, orangtua saya sempat ditawari oleh orang agensi (rupanya di acara itu ada tamu yang bekerja di suatu agensi) untuk bergabung di agensinya, siapa tahu bisa jadi penyanyi cilik (zaman itu penyanyi cilik masih hits). Tetapi orangtua saya menolak, mereka ingin saya jadi anak biasa saja.

Itu sedikit tentang kehidupan saya waktu kecil, sebelum sekolah. Masa kecil saya memang dihabiskan bersama ibu saya. Ibu saya yang merupakan ibu rumah tangga sering mengajari saya menyanyi, menyanyikan lagu untuk saya, serta memutarkan lagu-lagu anak. Makanya saya jadi bisa menyanyi.

Mulai masuk ke masa sekolah, kehidupan saya mendadak suram. Iya, anda tidak salah baca, mendadak suram.

Jenjang pendidikan pertama saya adalah di tingkatan Taman Kanak-Kanak atau disingkat TK. Saya bersekolah di sebuah TK di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Waktu TK, saya adalah seoarang anak yang bodoh, anak yang sulit diatur, dan suka membangkang. Hmm... sebenarnya saya melakukan itu semua karena ada alasannya sih. Dulu saya masuk TK tingkat B di usia 4,5 tahun, padahal normalnya anak yang masuk TK B minimal berusia 5 tahun. Orangtua saya awalnya ingin memasukkan saya ke TK tingkat A, namun ditolak oleh salah satu guru di TK tersebut karena saya dianggap terlalu tua. Saya malah disarankan masuk kelas TK B. Akhirnya, saya yang belum punya pengalaman belajar di sekolah sama sekali masuk ke TK B.

Sebenarnya orangtua saya pernah mengajari saya belajar sebelum masuk TK, namun sekadarnya saja, karena mereka pikir nanti di TK A saya akan diajari lagi semua pelajaran TK dari awal. Namun ternyata, saya tidak pernah melalui yang namanya tahapan TK A. Saya langsung masuk ke TK B yang tingkatan kesulitannya lebih tinggi dari TK A. Saya harus langsung mengikuti 'kehidupan' tingkat B, tidak ada lagi yang namanya pelajaran dasar. Alhasil, saya jadi nampak sangat bodoh di kelas saya.

Dan parahnya, guru yang 'menjerumuskan' saya ke TK B, bukannya bertanggungjawab membantu menyejajarkan kemampuan saya dengan teman-teman sekelas saya, malah membully saya karena saya bodoh -_- saya sering diledek, disindir dan ditertawakan karena tidak mengerti pelajaran atau tidak mengerti instruksi yang dia berikan -_- kemudian, jika nilai saya jelek (yaiyalah jelek, namanya juga nggak ngerti) saya biasanya dimarahi oleh guru tersebut. Gara-gara sikap guru tersebut, akhirnya saya malah membangkang, menolak diatur guru tersebut, dan sering kabur di tengah pelajaran. Hahaha :')

Selain bermasalah dengan pelajaran dan dengan guru, saya juga bermasalah dengan teman-teman saya. Saya kurang paham kenapa, namun rasanya saya tidak cocok dengan mereka. Selain itu, saya juga mendapat stereotip negatif dari beberapa orangtua murid, sehingga ada orangtua yang tidak mengizinkan anaknya bermain dengan saya. :( ditambah lagi, guru saya berperan besar menjauhkan saya dari teman-teman perempuan. Setiap jam makan siang, saya sering diberikan tempat duduk di tempat anak laki-laki. Ya, saya nggak peduli sih sebenarnya mau duduk dimana. Cuma kalo dipikir-pikir lagi, seharusnya kan saya duduk di tempat anak perempuan. Apalagi saya dan anak laki-laki juga tidak akur, sering berkelahi.

Begitulah, masa TK saya samasekali tidak bisa dibilang penuh keceriaan seperti anak TK pada umumnya.

Namun saya heran dengan diri saya sendiri, mungkin saya masih polos atau entah kenapa, saya tidak pernah sama sekali mengadukan perlakuan guru saya, maupun keadaan saya dan teman-teman saya kepada orangtua saya. Mereka baru tahu kelakuan guru tersebut ketika saya sudah lulus dan pindah rumah. Dan, tentu saja mereka tidak akan tahu jika saya tidak cerita, karena ketika ada pertemuan orangtua dengan guru, guru tersebut selalu berakting seolah-oleh beliau adalah guru paling baik sedunia. Guru tersebut tiba-tiba bersikap sangat ramah pada saya di depan orangtua saya dan berkata yang baik-baik kepada orangtua saya :) #fakesmile

Sisi positifnya, sepertinya guru tersebut tidak melaporkan kebodohan saya atau kenakalan saya di sekolah kepada orangtua saya. Sisi negatifnya.... gausah dipikir lagi lah, ambil hikmahnya saja. :)

Begitulah cerita masa TK saya yang penuh dengan kebodohan dan permusuhan dengan guru maupun teman-teman :) masa yang suram.

Kemudian, saya dan keluarga pindah rumah, dari Pontianak ke rumah yang sekarang, di Citayam. Lalu saya masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya, yaitu Sekolah Dasar (SD). Saya bersekolah di sebuah SD swasta yang ada di dekat rumah saya.

Dan, tidak diduga, masa SD saya justru bisa dibilang cemerlang. Di SD, bakat saya di bidang akademik mulai terlihat. Sejak kelas 1 hingga kelas 6, saya menjadi langganan juara kelas. Saya sering mendapat ranking 1 dan beberapa kali mendapat ranking 2 di kelas. Selain itu, ketika kelulusan, saya menjadi peraih nilai UN tertinggi di sekolah saya. (Maaf ya bukan bermaksud sombong, emang disuruh cerita, he he)

Saya dan orangtua saya samasekali tidak menyangka akan seperti itu. Namun menurut saya pribadi, itu adalah efek guru dan suasana belajar. Guru dan suasana belajar di SD rupanya mampu mengoptimalkan potensi akademis saya dibanding di TK. Of course. :)

Selain juara kelas, saya juga beberapa kali diminta mewakili sekolah mengikuti olimpiade tingkat kecamatan atau kabupaten, walaupun nggak ada yang lolos sih, hehe... Saya juga pernah menjadi "dokter kecil" di sekolah, walaupun karena tidak berminat ujung-ujungnya saya kabur dari tugas tersebut. (Hmm... kalian tahu dokter kecil? Di sekolah kalian ada dokter kecil juga nggak?)

Kemudian di bidang non-akademik, saya juga ada sedikit bakat, tepatnya bakat menggambar.

Di lingkungan rumah, ketika ada lomba memperingati Hari Kemerdekaan RI, saya pernah beberapa kali mengikuti lomba menggambar dan mewarnai. Dan di tiap lomba yang saya ikuti, saya selalu meraih 3 besar, walaupun tidak selalu juara 1. Sedangkan di lingkungan SD, saya pernah mendapatkan juara 1 pada Lomba Mewarnai dari Sakatonik ABC yang dulu mengadakan lomba di sekolah saya. Selain itu, saya juga pernah juara 2 lomba membuat kaligrafi. Dan, kaligrafi buatan saya banyak yang dipajang di kelas.

Saya rasa, kemampuan menggambar saya menurun dari ayah saya, ditambah lagi saya juga mengikuti ekstrakurikuler menggambar di sekolah. Jadi, bakat saya pada saat SD cukup terasah.

Lalu, selain ikut ekstrakurikuler menggambar, saya juga pernah ikut ekstrakurikuler musik. Berkat ikut ekskul musik, saya jadi cukup paham nada, hafal lagu-lagu nasional dan daerah, serta bisa memainkan pianika dengan cukup lancar.

Begitulah cerita singkat seputar masa SD saya, kemudian berlanjut ke jenjang berikutnya, masa SMP. Saya bersekolah di sebuah SMP negeri di Depok, Jawa Barat.

Masa SMP saya... Tidak secemerlang masa SD saya. Prestasi saya di bidang akademis tidak bisa dibilang buruk sih, walaupun tidak seperti dulu. Saya rasa, kemampuan saya cukup stabil. Saya memang tidak selalu juara kelas, walaupun masih beberapa kali masuk 3 besar, namun saya selalu masuk 10 besar di kelas saya. Saya juga pernah ikut seleksi untuk perwakilan olimpiade, namun tidak terpilih, hehe...

Untuk ekskul, nah di sinilah menurut saya penurunan yang terjadi. Saya pernah ikut ekstrakurikuler basket selama 1 tahun. Saya hanya bertahan selama 1 tahun, karena "olahraga memang bukan dunia saya". Setelah itu saya pernah ikut ekstrakurikuler MIPA, namun ekskul tersebut lebih banyak off. Jadi, anggap saja saya tidak ikut ekskul.

Segitu saja kisah saya di SMP, selanjutnya adalah kisah saya di SMA. Saya bersekolah di sebuah SMA negeri, masih sama di daerah Depok, Jawa Barat.

Masa SMA saya menurut saya lebih baik dari masa SMP. Di SMA, saya kembali menjadi langganan juara kelas, walaupun kemampuan saya patut dipertanyakan sih hahaha... Saya merasa belajar saya kurang maksimal. Apalagi, saya merasa salah jurusan juga di SMA hahaha... dulu saya mengambil peminatan IPA. Setelah direnungkan, ternyata cara belajar saya sebenarnya "lebih IPS" hahaha.

Saya juga pernah menjadi perwakilan sekolah mengikuti OSK (olimpiade tingkat kecamatan) di bidang astronomi, yaa... walaupun ujung-ujungnya tidak lolos sih hahaha... Dan menurut saya, sebenarnya patut dipertanyakan juga kenapa saya yang dipilih mewakili sekolah hahaha...

Untung bidang non-akademis, saya pernah mengikuti ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) gara-gara termakan gosip -_- dulu ada gosip ketika saya masih jadi murid baru, bahwa hanya ada 3 ekstrakurikuler di SMA saya, karena sekolah saya masih tergolong baru, yaitu paskibra, futsal dan PMR. Dan karena ekstrakurikuler diwajibkan di sekolah, mau tidak mau saya harus memilih salah 1. Akhirnya, saya putuskan memilih PMR, yang ujung-ujungnya saya tinggalkan setelah bergabung selama beberapa bulan karena tidak sesuai dengan minat saya. (ingat cerita dokter kecil sebelumnya? hehe)

Setelah pindah dari PMR, kemudian ada penerimaan peserta baru Paduan Suara. Nah, rupanya di sekolah saya ada ekstrakurikuler lain selain 3 ekskul yang saya sebut sebelumnya -_- Akhirnya, saya mendaftar Paduan Suara dan menjadi anggota sampai saya lulus. :)

Kemudian, setelah lulus SMA, cerita berlanjut ke masa kuliah saya. Saya berkuliah di Universitas Gunadarma.

Di masa perkuliahan ini, ada beberapa penyesalan yang saya alami, namun hal tersebut (agak) memacu saya untuk menjadi lebih baik.

Tingkat 1, saya habiskan hanya untuk fokus belajar dan bersenang-senang dengan teman saya. (Ini tingkatan yang saya sesali, seharusnya saya ikut volunteer atau apa gitu.)

Tingkat 2, saya mulai mengamati, tiru, modifikasi perilaku dan hal-hal positif yang dilakukan teman-teman saya. Saya yang tidak suka berorganisasi mulai mencoba ikut volunteer. Iya, volunteer saja, karena volunteer saja saya tidak terlalu tertarik.

Tingkat 3, saya mulai menjadi staff monitoring barcode di kampus. Kerjanya menginput absensi. :)

Yah, begitulah kira-kira kisah hidup saya yang terkait kreatifitas dan keberbakatan. Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari kisah hidup saya. Semoga kalian yang lebih muda dari saya dan tidak sengaja mampir ke postingan ini, tidak menyia-nyiakan masa muda kalian seperti saya ya. :)

Senin, 16 Oktober 2017

Workshop membuat Poster Bertema Parenting untuk Siswa MA AL BAROKAH Sukabumi




Disusun oleh:

Alfrida Ramadhani (10515524)
Feisal Luthfiana (17515669)
Sarah Apriani A. (16515389)

Kelas 3pa01


                LATAR BELAKANG MASALAH

Pernikahan dini merupakan hal yang biasa terjadi di Indonesia bahkan hal ini  masih terjadi sampai masa moderen seperti ini. Kebanyakan para pelaku pernikahan dini tersebut adalah remaja desa yang memiliki tingkat pendidikan kurang. Remaja desa kebanyakan malu untuk menikah pada umur 20 tahun keatas. Anggapan remaja desa lebih memungkinkan untuk menikah diusia muda karena disana ada anggapan atau mitos bahwa perempuan yang berumur 20 tahun keatas belum menikah berarti “Perawan Tua”. Persoalan mendasar dari seorang anak perempuan yaitu ketika dia memasuki usia dewasa, banyak orang tua menginginkan anaknya untuk tidak menjadi perawan tua. Menjadi perawan tua bagi kebanyakan masyarakat dianggap sebagai bentuk kekurangan yang terjadi pada diri perempuan. Untuk itu, dalam bayangan ketakutan yang tidak beralasan banyak orang tua yang menikahkan anaknya pada usia muda. Kondisi itulah yang menjadikan timbulnya persepsi bahwa remaja desa akan lebih dulu menikah dari pada remaja kota. Anggapan-anggapan tersebut muncul karena kurangnya pengetahuan dari masyarakat mengenai pentingnya pendidikan bagi remaja.Selain itu, ada juga alasan seseorang menikah dini seperti karena alasan agama, menjaga syahwat agar tersalurkan dengan benar, alasan ekonomi, atau sudah lama berpacaran sehingga penasaran dengan jenjang selanjutnya.

Pernikahan dini memiliki dampak yang cenderung negatif. Menurut sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM), Prof. Dr. Partini (dalam berdikarionline, 2016)  perempuan yang menikah di bawah usia 18 tahun berpotensi keguguran, anak dan ibu rentan terhadap penyakit, kualitas anak yang dilahirkan rendah, gizi buruk dan putus Sekolah. Disamping itu, menurut Partini, pernikahan usia dini juga membawa risiko menurunnya kesehatan reproduksi, beban ekonomi yang makin bertambah berat, kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, dan bunuh diri.Selain itu, pernikahan usia dini akan berdampak pada kualitas anak, keluarga, keharmonisan keluarga dan perceraian. Karena pada masa tersebut, ego remaja masih tinggi, padahal remaja yang menikah di usia dini harus menjalankan kewajiban-kewajiban yang seharusnya belum mereka lakukan, termasuk mengasuh anak jika mereka sudah punya anak.
Mengasuh anak bukanlah pekerjaan mudah. Banyak hal yang harus dilakukan dipertimbangkan dalam pengasuhan anak. Karena pola pengasuhan terhadap anak sangat berpengaruh terhadap masa depan sang anak.Pengasuhan anak atau disebut juga parenting, dapat dipelajari, dan memang seharusnya dipelajari oleh calon orangtua maupun orangtua, agar bisa diterapkan pada anak sehingga anak bisa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik. Masalahnya, pendidikan mengenai parenting masih sering disepelekan oleh banyak orang. Sebagian orang menganggap mengasuh anak adalah hal yang remeh. Hal tersebut mengakibatkan munculnya berbagai masalah terkait anak. Salah satu contoh yang akhir-akhir ini marak terjadi adalah anak-anak yang kecanduan gadget.

Berdasarkan latar belakang di atas, kami merasa ini adalah masalah yang penting untuk diatasi. Oleh karena itu, kami bermaksud merancang sebuah kegiatan yaitu “Workshop Membuat Poster Bertema Parenting untuk Siswa MA AL BAROKAH Sukabumi” sebagai sarana edukasi dan sosialiasi mengenai parenting kepada calon orangtua, sekaligus menambah keterampilan mereka di bidang seni.
Dalam hal ini kami membidik MA Al Barokah Sukabumi.

B.       PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, kami merumuskan permasalahan:
1)   Bagaimana menyadarkan siswa/iMA AL BAROKAH Sukabumi bahwa menikah muda membutuhkan persiapan yang matang.
2)   Bagaimana mengedukasi siswa/iMA AL BAROKAH Sukabumimengenai parenting yang baik.
3)   Bagaimana meningkatkan daya kreativitas siswa/iMA AL BAROKAH Sukabumimelalui kegiatan workshop pembuatan poster.

C.      TUJUAN PROGRAM
1)      Memberikan edukasi mengenai pernikahan dini.
2)      Menyampaikan ilmu mengenai parenting, yang diharapkan akan menyebabkan siswa/remaja:
a)      Menghindarkan siswa/i dari menikah muda, menikah di usia yang dianjurkan.
b)      Seandainya tetap ada remaja yang menkah muda, diharapkan mereka telah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai parenting.
3)      Menambah keterampilan siswa/i dalam membuat poster.

D.      LUARAN YANG DIHARAPKAN
Dari workshop ini diharapkan agar siswa/i MA AL BAROKAH Sukabumi mengetahui banyak hal mengenai nikah muda khususnya persepsi, resiko atau tanggungjawab yang harus dijalankan terkait dengan parenting dan siswa/i memiliki bekal parenting yang baik yang dapat dipraktekkan dalam pengasuhan anak nantinya serta ditambah dengan daya kreativitas yang dapat terasah melalui program workshop ini.

E.       KEGUNAAN PROGRAM

Kegunaan program dari workshop membuat poster bertema parenting adalah menambah wawasan baru bagi siswa/i di MA AL BAROKAH Sukabumi mengenai nikah muda dan parenting. Memberikan pengetahuan parenting yang baik agar meskipun pada akhirnya siswa/i MA AL BAROKAH Sukabumi menikah muda, mereka sudah paham mengenai cara mengasuh anak yang baik dan benar.


Selasa, 27 Desember 2016

Wawancara dengan Komunitas JaKampus Gunadarma


Nama kelompok:
Alfrida Ramadhani     (10515524)
Ghassani Aghnia        (12515869)
Nadia Faradilla           (14515916)

Roza Nabila               (16515288)


Hasil Wawancara dengan Komunitas JaKampus Gunadarma (Persija)


Narasumber :
1. Dian Fuji Lestari
Jurusan psikologi tahun 2011,
Join JaKampus Gunadarma tahun 2012

2. Frida Ristianty
Jurusan sistem informasi tahun 2014
Join JaKampus Gunadarma tahun 2014

Kedua Narasumber

Nama Komunitas: JaKampus Gunadarma
JaKampus Gunadarma ini perwakilan dari kampus Gunadarma, JaKampus ada pusatnya yaitu JaKampus Persija se-Indonesia. Jadi JaKampus Gunadarma ini hanya sebagai perwakilan Gunadarma saja. JaKampus Gunadarma itu enggak cuma di depok doang jadi ada di Kalimalang, Cengkareng, Karawaci, Salemba dan Depok. Kalau ngumpul rutin keseluruhan itu enggak, paling beberapa bulan sekali, Cuma rutinnya itu di kampus mereka masing-masing.

Komunitasnya tentang apa saja:
JaKampus Gunadarma ini komunitas atau wadah sebagai bentuk dari supporter sepak bola dari pecinta Persija Jakarta. Jadi JaKampus Gunadarma ini isinya pecinta Persija, dan sama yang di pusatnya juga kayak gitu.

Sejarah terbentuknya JaKampus Gunadarma:
Dulu berawal pada tanggal 4 November 2009, sudah berjalan selama 7 tahun. Kita namai JaKampus Gunadarma karna JaKampus itu berasal dari Gunadarma dengan semboyan yaitu “Atur kuliah mu untuk Persija”.

Tujuan membentuk komunitas:
Tujuannya itu pertama, kita di Universitas Gunadarma itu mahasiswanya banyak pecinta sepak bola apa lagi Persija, Persija kan istilahnya sepak bola besar di Indonesia, di ibu kota. Masa iya di Gunadarma enggak ada komunitas, akhirnya di bentuk. Pertamanya dibuat sebagai wadah supporter The Jack, buat ngumpulin di Gunadarma. Terus sebagai tempat sharing-sharing masalah kuliah, masalah Persija, silahturahmi juga. Intinya sih gitu aja.

Jadi pada saat kumpul itu enggak cuma ngomongin bola doang tapi ngomongin tugas, banyak sharing-sharing gitu, yang penting setiap kita kumpul ada informasi tentang Persijanya, setelah itu kita bebas mau sharing masalah kuliah, masalah cewe, pacar apa itu terserah.


Event apa saja yang pernah di laksanakan:
Event dari JaKampus Gunadarma itu kita pernah pertandingan futsal antar kampus, baru itu sih. Kalau buat acara gedenya, rencananya kita akan ngadain acara musik dan akan ngundang se-Indonesia. Itu sih rencana tahun ini 2016 cuma enggak kesampaian, mungkin tahun depan 2017, Insha Allah.

Basecamp:
Kita enggak ada basecamp, paling kita kalau setiap minggu ada kopdar (kopi darat) itu anak-anak JaKampus Gunadarma wajib datang buat kita kopdar, sharing-sharing. Biasanya hari rabu di DPR kampus E jam 4 sore. Rutin setiap hari rabu, kecuali kalau ada Persijanya main hari rabu kita enggak kopdar, kita pasti nonton bolanya.

Kalau kopdar udah pasti di kampus enggak pernah di tempat makan seperti MCD atau tempat lain. Kalau diluar selain kampus paling di kampus H Gunadarma atau di tempat-tempat futsal. Itu sekalian kopdar kalau ada futsal kalau mau latihan cuman kalau rutinnya kita di kampus E.

Anggota:
Sekarang yang ke data ada sekitar 85 sampai 100 orang. Dan anggota yang aktifnya ada 85 orang yang ke data dari tahun 2015. Kalau yang MABA ada sekitar 15an orang dan itu belum di resmiin.

Social media:
Twitter - @JaKampusGUNDAR
Instagram - JaKampusGunadarma
Path – JaKampusGunadarma

Yang di-share di social media:
Biasanya  ngeshare tentang kegiatan kita apa lagi kopdar setiap minggu itu pasti ngeshare terus kegiatan-kegiatan kita setiap ada acara. Seperti kemarin kita ada acara juga trofeo, merayakan ulang tahun The Jack juga. Pamflet-pamflet itu pasti kita ngeshare.
Kalau website resminya tidak ada.

Persyaratan gabung komunitas JaKampus:
Kita enggak ada persyaratan resmi atau gimana cuman kalau emang dari MABA ada yang mau gabung gitu tinggal hubungin kontak personal yang ada di sosmed terus minimal ikut kopdar selama sebulan baru bisa di anggap kalau mereka masuk ke anggota kita.

Acara rutin yang 1 tahun sekali:
Acara rutin paling ulang tahun Persija, ulang tahun anggota The Jack manianya sama paling kayak acara bulan Ramadhan (bukber).


Senin, 05 Desember 2016

Kecanduan Internet (Internet Addiction)

·        Apa itu kecanduan internet?







Kecanduan Internet atau Internet Addiction diartikan Kimberly S. Young sebagai sebuah sindrom yang ditandai dengan menghabiskan sejumlah waktu yang sangat banyak dalam menggunakan internet dan tidak mampu mengontrol penggunaannya saat online. Orang-orang yang menunjukkan sindrom ini akan merasa cemas, depresi, atau hampa saat tidak online di internet.
Hasil gambar untuk kecanduan internet
Gini amat ya hidup tanpa internet?

H. M. Orzack mendefinisikan Internet Addiction Disorder sebagai kelainan yang muncul pada orang yang merasa bahwa dunia maya (virtual reality) pada layar komputernya lebih menarik daripada dunia kenyataan hidupnya sehari-hari.

Internet Addiction Disorder (IAD) adalah tendensi untuk mengalami gangguan dalam penggunaan internet yang bersifat patologis. Ditandai dengan ketidakmampuan individu untuk mengontrol waktu berinternet, merasa dunia maya lebih menarik dibandingkan kehidupan nyata, dan mengalami gangguan dalam hubungan sosialnya.




  • Faktor penyebab kecanduan internet

1. Faktor Teknologi


Perkembangan teknologi zaman sekarang yang semakin canggih memaksa orang-orang harus memakai gadget untuk mengikuti perkembangan zaman. Mau tidak mau, orang-orang akan terpapar teknologi, termasuk teknologi internet. Internet semakin lama akan masuk semakin dalam ke sendi-sendi kehidupan manusia. Karena internet sudah mulai masuk dan menguasai sebagian aspek kehidupan manusia, maka wajar saja jika dampaknya adalah banyak orang yang mengalami kecanduan, karena internet sudah merupakan bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan manusia modern.



2. Faktor Keturunan



Anak-anak dari orangtua yang merupakan pengguna aktif teknologi, biasanya akan cenderung juga menjadi orang yang aktif menggunakan teknologi. Hal ini karena sejak kecil, bahkan mungkin bayi, anak-anak tersebut sudah sangat sering melihat penggunaan teknologi --misalnya penggunaan gadget untuk chatting, menonton video youtube dan sebagainya-- yang dilakukan oleh orang-orang yang lebih tua, yang ada di sekitar mereka, sehingga hal tersebut dianggap oleh anak merupakan hal yang memang sudah seharusnya.

Hasil gambar untuk kesepian karena gadget
Orangtua yang aktif bergadget ria.

Bahkan banyak juga orang tua yang memang sengaja memperkenalkan anaknya dengan gadget dan internet sejak dini, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan beberapa maksud. Misalnya, akhir-akhir ini lazim ditemui bayi baru lahir yang fotonya sudah bertebaran di media sosial milik orangtuanya. Orangtua tersebut biasanya ingin mendapatkan perhatian dan respon dari teman-teman sosial medianya, makanya mem-posting foto anaknya. Hal tersebut secara tidak langsung bisa memperkenalkan anak tersebut dengan teknologi, yaitu kamera di gadget milik orangtuanya.

Atau pada kasus anak-anak yang diberikan smartphone atau pc-tablet oleh orangtuanya, supaya anak tersebut bisa menonton video atau bermain games. Tujuan pemberian tersebut supaya anak tidak rewel dan mengganggu orangtuanya. Ada pula orangtua yang memang sengaja memperkenalkan gadget kepada anaknya agar anak tersebut bisa "eksis" dan tidak menjadi anak yang gaptek. Yaa.... macam-macam lah alasannya.

Karena anak-anak tersebut sudah mengenal dan terbiasa dengan teknologi sejak usianya masih amat belia, maka wajarlah jika ketika besar ia akan terus aktif dalam penggunaan teknologi. termasuk internet. Dan, aktif dalam penggunaan teknologi berpotensi menimbulkan kecanduan internet.



3. Faktor Sosial Budaya

Sering lihat ada suatu perkumpulan, namun anggota perkumpulan tersebut hanya sibuk menekuri gadget masing-masing? Itulah salah satu perubahan sosial budaya yang terjadi akibat perkembangan zaman.

Hasil gambar untuk dicuekin karena gadget
Misalnya kayak gini nih.

Hasil gambar untuk dicuekin karena gadget
Atau begini.

Zaman sekarang, orang lebih senang menekuri gadgetnya daripada berinteraksi dengan orang lain. Dan hal ini terkadang, mau tidak mau, bisa menular kepada orang lain di sekitarnya. Misalnya, ada seorang gadis bernama A yang memiliki empat orang teman akrab sedari SD yang bernama si B, si C, si D dan si E.

Pada awalnya, si A, si B, si C, si D dan si E sering ngumpul-ngumpul dan mengobrol untuk menjaga pertemanan mereka. Lalu, satu persatu mulai punya gadget dan akhirnya tinggal si A yang belum memiliki. Suatu hari saat ngumpul-ngumpul, si A mulai bingung karena teman-temannya membicarakan tentang trending topic di media sosial tertentu yang hanya bisa diakses melalui gagdet canggih. Selain itu dia juga agak kecewa karena selama berkumpul, teman-temannya lebih sering menatap gadgetnya daripada bercengkerama seperti dulu. Hingga ia kebosanan menatapi aktivitas teman-temannya dengan gadget masing-masing.

Akhirnya, sepulang dari pertemuan, si A memutuskan untuk mengganti handphone miliknya dengan smartphone terbaru agar tidak ketinggalan topik serta jika teman-temannya mendiamkannya seperti tadi, ia juga tidak akan kebosanan lagi.

Saya rasa ada orang-orang yang seperti si A. Dan, ada kemungkinan, setelah menggunakan smartphone dan mulai berkecimpung di media sosial, orang-orang yang bernasib sama seperti si A bisa menjadi kecanduan internet. Apalagi jika dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya yang memang sudah kecanduan.



4. Faktor Tuntutan Pekerjaan/Tugas

Mengikuti perkembangan zaman, tentunya aspek-aspek kehidupan yang dihadapi sehari-hari terus mengalami perubahan, termasuk dalam soal pekerjaan atau tugas. Akibatnya, tuntutan pada tugas atau pekerjaan pun bisa berubah.

Zaman dulu, segala sumber pengetahuan biasanya di dapat melalui buku atau artikel pada koran maupun majalah. Berita biasanya di dapat melalui koran, majalah, atau tabloid harian. Atau bisa pula memperoleh berita dari media elektronik semacam televisi dan radio, lebih canggihnya melalui komputer yang tersambung internet. Jurnal-jurnal biasanya dicetak atau dibukukan. Berkirim kabar lewat surat, telepon, sms, fax atau paling canggih e-mail. Berjualan langsung di tempatnya, pembeli yang datang ke lokasi penjualan.

Namun kini, sumber dan sistem tersebut mulai berubah karena internet mulai turut andil di dalamnya. Kini, sumber informasi dan internet bisa bergabung dalam satu genggaman, yaitu melalui smartphone atau pc-tablet yang portable. Akibatnya, ada perubahan-perubahan lain yang terjadi, misalnya untuk mengetahui berita terbaru, seseorang tidak perlu lagi membeli koran atau menonton televisi, cukup baca saja berita melalui smartphone.

  

All in one smartphone

Contoh lain pada pelajar. Pelajar zaman sekarang tidak perlu pergi jauh-jauh ke perpustakaan atau sibuk menenteng-nenteng buku jika telah memiliki e-book yang dibutuhkan sebagai bahan referensi tugas mereka.


Kemudian, karena ada perubahan cara mendapatkan informasi, cara mengerjakan tugas pun mulai berubah pula. Misalnya, pada zaman orang tua saya bersekolah, sering ada tugas membuat kliping dengan judul tertentu. Cara membuatnya adalah menggunting bahan/materi kliping yang dibutuhkan dari halaman koran, kemudian di tempel di kertas HVS lalu dihias sehingga kliping tersebut jadi rapi dan menarik untuk dibaca. Nah, pada zaman saya bersekolah, saya tidak pernah mendapat tugas seperti itu. Namun saya sering disuruh membuat makalah yang bahannya dapat dengan mudah ditemukan di internet, jadi tinggal di copy-paste saja. Kemudian tugas tersebut di kirim melalui e-mail kepada guru saya, terkadang ada juga yang menyuruh di-print. Dari situ terlihat bukan, adanya perbedaan tugas antara zaman dulu dengan sekarang?

Contoh lagi, pelajar zaman sekarang sering disuruh membuat slide presentasi untuk digunakan menyampaikan materi presentasi. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan aplikasi pengolah data dan internet. Pada zaman yang lebih lama, orang akan presentasi biasanya membuat rancangan presentasi di papan tulis sebelum memulai presentasi, atau membuat rancangan pada karton besar. Hal itu terkadang lebih ribet dan memakan waktu dibanding membuat slide untuk presentasi.



Itu contoh tuntutan dalam sistem pembelajaran. Dalam aspek pekerjaan pun banyak hal yang berubah sehingga menimbulkan tuntutan baru. Misalnya di bidang bisnis, ada perubahan pada sistem marketing/pemasaran. Pada zaman dulu pemasaran dilakukan hanya melalui sarana iklan di media cetak maupun elektronik. Namun kini juga ada strategi pemasaran melalui media sosial. Selain itu, mulai marak toko-toko online berikut beberapa sistem pembayaran modern, dalam beberapa tahun belakangan ini. Padahal di tahun-tahun sebelumnya, sebelum penggunaan teknologi dan internet meningkat pesat, hal seperti itu belum ada, perdagangan dan kegiatan berbelanja masih dilakukan secara konvensional. Saya yakin, pasti ada perbedaan antara sistem berjualan online dengan berjualan secara konvensional, sehingga menimbulkan tuntutan pekerjaan yang berbeda, misalnya seperti harus memiliki website atau akun media sosial, berpromosi via media sosial, dan sebagainya


Contoh lain lagi, dalam sistem transportasi. Saat ini telah berkembang dengan pesat sistem transportasi online, yang pada zaman-zaman sebelumnya tidak ada, masih sistem konvensional. Untuk menjalankan sistem transportasi online ini, tentunya ada tuntutan kerja yang berbeda dibandingkan sistem transportasi konvensional. Misalnya pada para pengemudi/driver nya. Jika pada sistem transportasi konvensional, mungkin tuntutan pada para driver hanya sebatas bisa mengemudi, memiliki SIM, dan tergabung ke dalam armada. Namun pada sistem transportasi online, driver juga memiliki tuntutan lain yaitu harus memiliki serta bisa mengoperasikan smartphone untuk mencari dan mengurus orderan. Dan tentunya, smartphone tersebut harus terhubung dengan internet.

Hasil gambar untuk transportasi online


5. Faktor Sosial Ekonomi

Keinginan akan internet pada orang yang telah bekeja atau memiliki penghasilan sendiri, biasanya lebih besar daripada orang yang belum bekerja atau tidak memiliki penghasilan sendiri. Jika pada orang yang belum bekerja, misalnya pelajar, keinginan akan internet biasanya masih memiliki batasan-batasan/kendala, misalnya terkenda jumlah uang saku maka tidak bisa membeli kuota banyak-banyak. Namun pada orang yang sudah memiliki penghasilan sendiri, karena telah punya uang sendiri, mereka bebas menggunakan/membelanjakan uangnya untuk keperluan apa saja, termasuk kebutuhan kuota internet dalam jumlah besar.

Selain itu, biasanya beberapa orang yang telah memiliki penghasilan sendiri juga akan lebih bebas dalam membelanjakan uang untuk membeli gadget sebagai penunjang aktivitas berinternet. Hal ini terkait dengan prestise di mata orang lain.

Hasil gambar untuk kesepian karena gadget

  • Tanda-tanda kecanduan internet

Tanda-tanda seseorang yang mengalami kecanduan internet adalah (Young, 1996b):

1.      Perhatian tertuju pada internet (memikirkan aktifitas online sebelumnya atau berharap segera online)
2.      Ingin menggunakan internet dalam jumlah waktu yang semakin meningkat untuk mendapatkan kepuasan
3.      Tidak dapat mengontrol, mengurangi, atau menghentikan penggunaan internet
4.      Merasa gelisah, murung, tertekan atau lekas marah ketika mengurangi atau menghentikan penggunaan internet
5.      Online lebih lama dari waktu yang diharapkan
6.      Mempertaruhkan atau berani mengambil resiko kehilangan hubungan dengan signifikan (orang terdekat, orang tua), pekerjaan, pendidikan, kesempatan berkarir karena internet
7.      Berbohong terhadap anggota keluarga, terapis atau yang lainnya untuk menyembunyikan tingkat hubungan dengan internet
8.      Menggunakan internet sebagai cara untuk melarikan diri dari masalah atau menghilangkan dysphoric mood (perasaan tidak berdaya, rasa bersalah, cemas, depresi).

Ahli-ahli psikologi yang lain (Suler, 1996) menyatakan tanda-tanda kecanduan internet sebagai berikut:
1.      Perubahan gaya hidup yang drastic untuk menghabiskan waktu dalm internet yang lebih banyak
2.      Penuh aktifitas fisik secara umum
3.      Sikap mengabaikan kesehatan sebagai akibat aktivitas internet
4.      Menghindari hidup yang penting untuk menghabiskan waktu yang lebih banyak dalam internet
5.      Kurang tidur atau mengubah pola tidur untuk menghabiskan waktu dalam internet yang lebih banyak
6.      Penurunan sosialisasi yang mengakibatkan kehilangan banyak teman
7.      Mengabaikan keluarga dan teman
8.      Menolak memperpanjang waktu yang tidak digunakan untuk internet
9.      Mengidamkan waktu yang lebih pada computer
10.  Mengabaikan pekerjaan dan kewajiban personal.


Pada penelitian Young (1996c) diperoleh hasil subjek merasa tertekan, gelisah dan lekas marah jika tidak berada didepan komputer. Sebagaimana pecandu alkohol, subjek juga mengalami withdrawl terhadap internet sehingga subjek mengurangi aktivitasnya yang lain untuk dapat online lebih lama. Hal tersebut disebabkan karena subjek merasa mendapatkan kegembiraan yang unik melalui aktivitas online.


  • Tingkat kecanduan internet
       
            Young (1996) membagi kecanduan internet dalam 3 tingkatan, yaitu: 
1.Mild. Pada tingkatan ini individu termasuk dalam pengguna online rata-rata. Individu menggunakan internet dalam waktu yang lama, tetapi individu memiliki kontrol dalam penggunaannya. 
2.Moderate. Pada tingkatan ini individu mulai sering mengalami beberapa permasalahan dari penggunaan internet. Internet merupakan hal yang penting, namun tidak selalu menjadi yang utama dalam kehidupan. 
3.Severe. Pada tingkatan ini individu mengalami permasalahan yang signifikan dalam kehidupan mereka. Internet merupakan hal yang paling utama sehingga mengabaikan kepentingan-kepentingan yang lain


  • Contoh Kasus Terkait Kecanduan Internet
Ini bukan contoh kasus kecanduan internetnya sih, tapi ini contoh kasus nyata dampak dari kecanduan internet pada seorang remaja.

Kecanduan internet, Remaja Pria Ini Terlibat dalam Misteri Pembunuhan Berdarah di China
Pada pagi hari tanggal 24 Oktober 2014, Zhu membuka pintu dan memasuki apartemen kakeknya di Neijiang, Sichuan, China dan menemukan sesuatu yang mengerikan. Kakeknya yang juga bernama Zhu (93 tahun) berbaring diam di tempat tidur, dengan wajah yang pucat, dan bagian atas tubuhnya berlumuran darah. Dengan cepat ia bisa menyimpulkan: kakeknya sudah meninggal.
Siapa yang tega membunuh kakek berumur 93 tahun?
Menurut Sina Games, ketika detektif dari Neijiang pertama kali mengunjungi tempat kejadian pada tanggal 24 Oktober, mereka bingung. Mengapa seseorang tega membunuh kakek berusia 93 tahun? Keluarga Zhu juga sama bingungnya. Selain hanya sesekali keluar untuk menjual pernak-pernik, Zhu jarang keluar apartemen, dan keluarganya merasa bahwa ia tidak mempunyai musuh atau membuat orang dendam padanya. Satu-satunya petunjuk motif kejahatan yang jelas di tempat kejadian: sebuah keranjang anyaman milik korban telah menghilang dari apartemennya. Polisi juga menemukan satu puntung rokok di teras apartemen.
Pemeriksaan awal di tempat kejadian perkara menunjukkan bahwa insiden ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan serangkaian perampokan yang terjadi di Neijiang selama bulan Oktober. Korban tinggal di lantai atas apartemen dan tersangka rupanya masuk dari atap melalui jendela pada malam hari, yang cocok dengan modus operandi dalam perampokan sebelumnya. Tapi ketika polisi melakukan penyidikan, pelaku pada insiden kali ini tidak sama dengan pelaku serangkaian perampokan yang terjadi sebelumnya. Laboratorium forensik Neijiang juga menemukan bahwa DNA yang diambil dari puntung rokok di lokasi pembunuhan kali ini tidak cocok dengan DNA tersangka dalam kasus perampokan lainnya.
Jadi, polisi kembali ke titik awal. Detektif kembali ke tempat kejadian perkara untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut dan menemukan bahwa di kebun sayur teras itu, tampak bekas sebuah batu bata yang menghilang dari tempatnya. Mengingat bahwa pemeriksa medis Neijiang telah memutuskan bahwa kematian Zhu merupakan sebuah pembunuhan yang disebabkan oleh trauma karena benturan benda tumpul di kepala dengan menggunakan benda persegi panjang – sehingga menyebabkan kerusakan tengkorak dan otak – detektif menduga bahwa batu bata yang hilang mungkin merupakan senjata yang digunakan tersangka. Sayangnya, mereka tidak tahu di mana pembunuh Zhu meletakkan batu bata tersebut.
Pesan yang diukir di atas batu
Tiga hari setelah pembunuhan Zhu yang terjadi pada 23 Oktober, detektif kembali lagi ke tempat kejadian, berharap menemukan batu bata atau beberapa petunjuk lain yang bisa mengarahkan mereka ke pelaku pembunuhan. Mereka berhasil. Dalam goresan samar pada batu teras apartemen, mereka menemukan pesan berikut. (Catatan: pada gambar di bawah, kami memperjelas tulisan dengan warna merah)
Meski tidak begitu jelas dan memiliki beberapa grammar yang salah, pesan tersebut masih bisa dibaca: “ZYL, maafkan aku.”
Detektif menduga bahwa mengingat konteks pesan dan mengingat bahwa nama korban adalah “Zhu,” huruf “ZYL” itu mungkin sebuah inisial. Sebuah penyelidikan cepat menemukan bahwa Zhu memang memiliki cucu perempuan dengan inisial ZYL.
Cucu perempuan Zhu tidak cukup kuat untuk dicurigai, mengingat bahwa ia baru berusia 14 tahun. Tapi inisialnya yang muncul di tempat kejadian perkara menyatakan bahwa pelaku memiliki hubungan dengan cucu perempuan Zhu, dan kemudian segera diketahui bahwa cucu Zhu sebelumnya telah membawa beberapa teman sekelas untuk mengunjungi rumah kakeknya.
Di antara teman sekelas yang diajaknya, seorang remaja pria bernama Li (17 tahun) menarik perhatian para detektif, terutama karena semua teman sekelas lain yang telah mengunjungi tempat kakeknya tidak ada yang menimbulkan kecurigaan. Li juga cocok dengan cerita yang didengar polisi dari salah satu tetangga Zhu, yang mengatakan bahwa dirinya telah melihat seorang pemuda berkeliaran di tempat kejadian sebelum terjadinya perkara.
Polisi menginterogasi Li pada 28 Oktober di sebuah warnet lokal, dan ia dengan cepat mengakui perbuatannya.
Bagaimana seorang remaja berubah menjadi seorang pembunuh
Li mengatakan kepada polisi bahwa ia baru saja kembali ke Neijiang setelah bekerja, tapi ia tidak ingin pulang. Apa yang Li ingin lakukan adalah bermain game online. Meskipun ia terus mengunjungi warnet, pada minggu-minggu sebelum pembunuhan, Li hanya punya sedikit uang sehingga ia tidak mampu menyewa tempat untuk tidur. Teringat akan kunjungannya ke rumah Zhu dengan beberapa teman sekelasnya, Li mendatangi teras apartemen Zhu dan tidur di sana selama beberapa malam. Zhu pernah sekali menangkap basah Li dan mengusirnya pergi.
Bagaimanapun, Li membutuhkan uang untuk terus bermain, dan ide untuk melakukan perampokan memasuki pikirannya. Teringat akan apartemen Zhu, ia memutuskan untuk menjadikannya target pertama. Tapi ketika Li sampai di apartemen, penghinaan yang dilakukan Zhu ketika mengusir Li merasuki benaknya, dan ia ingin balas dendam. Setelah awalnya ragu, Li akhirnya mengambil batu bata dan memasuki ruangan Zhu berulang kali tetapi tidak mampu melakukannya.
Akhirnya, setelah beberapa kali gagal, Li melangkah keluar ke teras, megisap satu batang rokok, dan mengambil batu bata lagi. Ia kembali melangkah ke dalam ruangan, memukul Zhu tiga kali di kepala dengan batu bata, dan kemudian meninggalkan apartemen dengan mengambil uang tunai senilai RMB 160 (Rp 317.000) dan anyaman keranjang Zhu. Ia melempar bata yang berlumuran darah dari atap bangunan. Barang bukti batu ata yang ditemukan di sekitar tempat kejadian mengkonfirmasi kebenaran cerita Li.

Meskipun terdengar gila, kejahatan yang dilakukan Li sebenarnya sesuatu yang cukup sering terjadi di China. Kecanduan game dan internet adalah masalah serius di negara tersebut, dan ini bukan pertama kalinya seorang pecandu game terpacu untuk melakukan perampokan dan pembunuhan demi mendanai kecanduan mereka.
(sumber: https://id.techinasia.com/pembunuhan-karena-kecanduan-internet-video-game-china)

  • Dampak kecanduan internet

a. Dampak kesehatan akibat kecanduan internet:


1.    Ketika kita mengakses internet, otomatis kita akan duduk di depan layar komputer ataupun laptop dalam waktu yang tidak sebentar, dan ini bisa menyebabkan gangguan penglihatan.

2.    Ketika duduk berlama lama di depan layar komputer / laptop, bisa menyebabkan penumpukan lemak di area tubuh tertentu.

 

3.  Aliran darah yang seharusnya mengalir akan mengalami penghambatan atau penyumbatan karena duduk dengan pola yang sama dan dalam waktu yang tidak sebentar.

4.    Pola makan individu akan menjadi tidak teratur, ini menyebabkan gangguan gizi, karena sudah terlalu asyik mengakses internet, sehingga mereka bisa tidak makan dalam waktu yang cukup lama.

5.    Bisa menyebabkan obesitas. Ketika seseorang telah mengalami kecanduan internet, maka individu tersebut akan betah berlama lama untuk duduk, menghabiskan waktu di depan layar komputer. Dan akibatnya akan menyebabkan obesitas karena terlalu lama duduk, tidak ada aktivitas fisik yang membuat lemak terbakar, sehingga akan mengalami obesitas.

6.    Menyebabkan insomnia, ini mungkin paling sering dialami oleh kalangan remaja, ketika sedang berseluncur asyik di internet, jam tidur mereka akan terganggu. Tidur yang seharusnya 8 jam setiap malamnya, berkurang karena kecanduan internet. Tidak sedikit dari mereka yang begadang hanya karena mengakses internet. Padahal bang haji rhoma irama sudah mengatakan dalam lagunya“begadang jangan begadang kalau tiada artinya”.  Mengakses internet di malam hari sehingga menyebabkan gangguan tidur, itu tiadalah artinya

7.    Bisa menyebabkan kematian. Kematian memang merupakan misteri Ilahi, tidak ada yang bisa meramalkan kapan kita akan mati, tetapi juga tidak sedikit mereka yang mengalami kematian mendadak karena kecanduan internet.



b. Dampak psikologis akibat kecanduan internet:

1.    Ketika individu sedang mengakses internet, mereka cenderung menutup diri dari lingkungan sekitar, tidak sedikit juga individu yang sudah kecanduan internet, mereka lebih memilih menghabiskan waktu di dalam kamarnya dengan seperangkat modem dan laptop tanpa menghiraukan atau memperdulikan lingkungan sekitar.

Hasil gambar untuk dampak kecanduan internet

2.    Menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.
Contohnya ketika 1 keluarga sedang makan malam, di 1 meja dengan meja yang sama, mereka tidak akan berinteraksi lebih banyak, tetapi lebih asyik dengan gadgetnya untuk mengakses internet  masing – masing, seakan akan, yang berada disana itu lebih dekat dibandingkan dengan keluarganya yang ada di depan matanya

3.    Berkurangnya teman. Ketika seseorang sudah kecanduan internet, dan sudah memiliki beberapa teman di internet, bisa jadi mereka akan lebih asyik bercengkrama dengan teman yang di internet. Biasanya mereka yang memiliki banyak teman dan cenderung ceria di internet, mereka itu adalah yang tidak memiliki teman di dunia nyata, sehingga mereka lebih asyik dengan teman di internet, padahal belum tentu yang di internet itu baik

4. Menjadi sulit berkonsentrasi untuk belajar, ataupun bekerja karena, fikiran akan terfokus kepada 1 hal yaitu terus saja memikirkan apa yang diakses di internet tersebut.



5.  Akan melakukan hal apapun untuk bisa mengakses internet, contohnya berbohong kepada orang tua untuk membeli buku, padahal uangnya untuk membeli pulsa internet.


6.    Keterampilan sosial berkurang, karena akan menyebabkan kesulitan untuk berinteraksi langsung dengan individu lainnya di dunia nyata



  • Cara menanggulangi kecanduan Internet


1.    Niat dan membulatkan tekad

Ketika anda sudah merasa bahwa anda kecanduan internet yang berakibat fatal pada diri anda, pastikan anda berniat untuk melepaskan diri dari internet,karena sesuatu yang kita mulai harus diawali dengan niat, jika niatnya baik, maka akan dimudahkan Tuhan untuk menjalaninya

2.    Mencoba untuk puasa mengakses internet

Puasa biasa di indetikkan dengan tidak makan dan tidak minum, begitu juga anda terapkan untuk tidak mengakses internet, minimal 1 hari cobalah anda untuk tidak mengakses internet. Maka hidup akan lebih terasa berbeda.

3.    Lakukan Hal yang bermanfaat

Ketika anda sedang melaksanakan puasa dari internet, maka gunakanlah waktu anda dengan hal yang bermanfaat, misalnya membersihkan rumah, membantu ibu memasak, membaca buku dan hal lain yang bermanfaat

4.    Tidak memegang atau menyentuh gadget yang dibawa saat sedang berkumpul

Ketika anda sedang berkumpul bersama kawan atau sedang ada rapat organisasi, pastikan anda mematikan gadget anda. Agar tidak menganggu konsentrasi dan bisa lebih fokus dengan lingkungan

5.    Mengatur waktu online


Aturlah waktu online anda seefektif mungkin. Boleh sesekali anda mengecek internet atau media sosial anda untuk berinteraksi atau mencari informasi, dengan batas yang diwajarkan.


  • Tips Berinternet yang Lebih Baik dan Lebih Aman bagi Kesehatan

1.      Tentukan waktu penggunaan internet, misalnya sehari maksimal 3 jam, atau jika Anda pekerja online maksimal 8 jam.

2.      Pilih konten yang Anda konsumsi di intenet, karena tidak semua konten cocok. Misalnya konten tentang pengembangan diri, carilah yang berhubungan dengan profesi Anda.

3.      Atur tingkat kecerahan layar desktop Anda saat menjelajah di intenet, misalnya 50 - 70 % tingkat kecerahannya.

4.      Lakukan perenggangan badan setiap 2 jam sekali

5.      Istirahatkan mata selama 5 menit setiap 1 jam, untuk menghindari kelelahan pada mata.

6.      Gunakan kaca pelindung pada monitor Anda untuk menghindari tingkat radiasi yang terlalu tinggi.

7.       Pilih situs yang sesuai dengan keperluan Anda, upayakan keragamannya karena makin beragam situs yang Anda buka makin beragam pula informasi yang Anda peroleh. Jangan cuma sosmed ya!







Sumber:
  • Basri, A. Said Hasan.(2014). “Kecenderungan Internet Addiction Disorder Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Ditinjau dari Religiositas”. Jurnal Dakwah, Vol. XV, No. 2. Hal 412-413.
  • Widiana, Herlina Siwi., Sofia Retnowati dan Rahma Hidayat.(2004).”Kontrol Diri dan Kecenderungan Kecanduan Internet”. Humanitas: Indonesian Psychologycal Journal,Vol. 1, No. 1. Hal 8.

  • http://nabelau.blogspot.co.id/2014/11/dampak-kecanduan-internet-cara.html."Dampak Kecanduan Internet dan Cara Penanggulangannya". Diakses tanggal 30 November 2016.
  • www.bloggerpontianak.net/2016/01/kecanduan-internet-berbahaya-bagi-kesehatan.html#sthash.baPn3D1v.dpuf."8 Dampak Negatif Kecanduan Internet bagi Kesehatan dan Tips Bijak untuk Mengatasinya". Diakses tanggal 30 November 2016.
  • https://putisalla.wordpress.com/2014/10/31/internet-addiction-kecanduan-internet/."Internet Addiction (Kecanduan Internet)". Diakses tanggal 30 November 2016
  • https://id.techinasia.com/pembunuhan-karena-kecanduan-internet-video-game-china."Kecanduan internet, Remaja Pria Ini Terlibat dalam Misteri Pembunuhan Berdarah di China". Diakses tanggal 4 Desember 2016.