Tampilkan postingan dengan label midnight poem part 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label midnight poem part 3. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 April 2021

midnight poem part 3: end

Telah Berakhir
-adoralic-

Telah berakhir sudah
Kisah kita
Aku yang mengakhiri kemarin
Namun semua karenamu

Bukan langsung karenamu
Karena kau pandai bermuslihat
Namun kepekaanku
Mampu menembus tamengmu

Setidaknya intuisiku berkata
"Sudahlah, akhiri"
Selalu berkata demikian
Hingga betulan kuakhiri

Meski intuisi seolah fana, pada mulanya
Namun perlahan, intuisi mulai menunjukkan wujudnya
Perlahan menjadi nyata
Hingga tak ada alasan meragu lagi

Semua praduga yang kutepis
Kini kuamini semua dengan penuh keyakinan
Kita berpisah, keputusanku paling tepat
Bersamamu, memanglah hanya membawa ketidak baikan

Kau yang egois, sungguh egois
Namun berlagak polos dan tak berdosa
Dan aku yang sungguhan polos berlagak pandai
Hingga tertutupi semua

Bukan hanya itu, kututup semua
Praduga yang belum terbukti, biarlah
Asal tak ada buktinya, kita aman
Kita... aman... namamu, namaku

Tapi kini, karena dirimu sendiri
Ah, sudahlah...
Aku kecewa padamu
Berkali-kali kau kecewakan diriku

Intuisiku tiada yang salah
Dan keputusanku tak pernah salah
Kita telah berakhir
Aku yang mengakhirinya

Sampai jumpa... di alam sana
Semoga di sini aku tak perlu bertemu denganmu lagi
Dalam wujud apapun, entah nyata maupun maya
Biarlah kau hanya jadi bagian dalam kenanganku

*30 April 2021
Hai Master... puas?
Puas pura-pura padaku, lalu mencari yang baru dari sana lagi?
Puas terang-terangan di sana, padahal kututupi semua di sana biar tak ada yang tahu, agar nama kita bisa tetap baik?
Berhari-hari aku memikirkan ini, rasanya campur aduk. Yang jelas aku kecewa, hingga bermimpi kamu meninggal. Aku tak mengharapkan kematianmu, hanya saja... konon, kalau seseorang memimpikan temannya meninggal, itu karena saking sudah kecewa atau sakit hatinya pada si teman itu.
Semoga dirimu lekas menemukan jodohmu dari sana, dan jangan kau permainkan lagi. Aamiin. Cukup aku yang terakhir menjadi orang bodoh korban permainanmu.
Cukup sudah, hilang semua. Kamu dan... idolaku, keduanya sudah musnah.
Aku memang bodoh, dan kamu memang bukan orang baik, persis seperti kata-katamu sendiri. Karena orang pintar yang baik takkan pernah membodohi orang yang bodoh, bahkan meski ada kesempatan untuk melakukannya sekalipun.

Goodbye, semoga ini benar-benar menjadi sajak terakhirku untukmu. Aamiin.

Jumat, 29 Januari 2021

Bagian dari Midnight Poem part 3: Akhirnya Kusadari

Akhirnya kusadari, engkaulah satu-satunya...

Memang terkadang saking terlalu rumitnya hati dan perasaanku, aku butuh banyak waktu untuk menguraikan berbagai jalinan yang salin terpilin bahkan mungkin ada yang kusut.

Seperti misalnya kemarinan, aku akhirnya sadar bahwa aku bukanlah seorang INFP melainkan seorang INTP. Tapi memang INTP yang sangat mirip dengan INFP + perasaannya sangat mendalam, sama mendalam seperti INFP.

Lalu kemarinan juga akhirnya kusadari, engkaulah satu-satunya...

Engkaulah satu-satunya untuk saat ini, sayang... sayangku yang kuharap selamanya.

Aku mencintaimu. Yang lain aku juga suka, namun hanya suka.

Yang kucintai saat ini hanya kamu.

Karena memang jatuh cinta hanya bisa 1 orang per momen, aku makin yakin itu.

Kamu yang bahkan sudah kuhindari, kujauhi, karena suatu alasan bernama "mimpi buruk" yang bagiku bagaikan petir menyambar di siang bolong. :")

Namun... sejatinya cintaku padamu masih ada. Minimal sekali, minimal, sampai saat aku menuliskan tulisan ini.

Kamu apakabar, Masku sayang? Sungguh kumerindukanmu, sayangku yang (masih) kuharap selamanya.

Semoga suatu saat, jika ternyata di masa depan masih ada "kita", doa-doaku untukku, untukmu, dan untuk kita akan terkabul. Aamiin yaa rabbal aalamiin.

Aku mencintaimu, sangat menyayangimu (nggak tahu kenapa sejak hari pertama jadian rasanya ingin "mengabdi" padamu dan mengurusmu, menyayangimu), dan merindukanmu, Masku sayang. Sayangku yang kuharap selamanya.

Semoga... jika masih ada "kita" di masa depan, yang namanya mimpi buruk itu hanya akan menjadi mimpi buruk. Dan di masa depan, kita berdua akan terbangun dari mimpi buruk tersebut menuju kepada kenyataan yang indah, yang lebih baik, jauuuuhh lebih baik daripada saat ini. Atau setidaknya... akan ada lagi mimpi indah bagi kita berdua, dimana kita tak perlu terbangun dari mimpi tersebut selamanya.

*29 Januari 2021
Yang masih mencintaimu, yang merindukanmu walau tak lagi menghubungi.

Selasa, 29 Desember 2020

Midnight Poem part 3 (24)

Mimpiku
-adoralic-

Masih... masih... masih...
Mimpiku masihlah kamu
Kini lebih bagaikan "halu"
Namun bintang utamanya tetap kamu

Kamu... kamu... kamu...
Yang bahkan sudah lebih dari triwulan berpisah
Tapi rasanya baru kemarin sore
Rasanya terlalu cepat yang terjadi di antara kita

Kamu... kamu... kamu...
Masih kuangankan kamu dalam impianku
Meski tak bisa bersama kemarin
Semoga di masa depan kelak bisa bersama

Bahkan walau kamu telah bersama yang lain untuk sekarang
Seperti mimpi terakhirku tentangmu dan dia yang entah dia itu siapa
Mimpiku saat ini tetaplah kamu
Entah sampai kapan

Entah, dan aku sendiri enggan membatas waktu
Biarlah takdir yang mempertemukan aku
Entah dengan orang baru
Ataupun dengan kamu lagi

Kamu, yang masih kurindukan tiap hari
Kamu, yang masih kucintai hingga detik ini

*29 Desember 2020
Sedikit lagi sudah mau tahun baru, Masku sayang. Dan entah di tahun baru, apakah cintaku baru, atau masih kamu. Apakah mimpiku baru, atau masih kamu. :") hahaha...

Semoga kamu baik-baik saja apapun yang terjadi ya. Jangan kayak aku hahaha... tapi biarlah aku "halu" kamu, karena hanya itu yang bisa kulakukan saat ini, sisa-sisa cintaku padamu yang terakhir. :")

Rabu, 04 November 2020

Bagian dari Midnight Poem another side: Replay

Replay


Jadi, ini adalah keanehan yang terjadi antara hubunganku dengan mereka. Mereka adalah mantan-mantanku. Pertama, My Lovely Soulmate/Twinflame. Kedua, My Lovely Master.

Dulu, aku pernah berhubungan dengan My Twinflame.

My Twinflame (1) x Me (2)

Banyak hal terjadi, dan dulu banyak hal yang membuat saya bahagia, sedih, kesal, kecewa, tapi bahagia lagi, tapi nanti sedih lagi. Intinya, saya mencintainya dan terus mencintainya walaupun harus pura-pura tidak karena gengsi dan segala macam. Dan dia, rupanya diam-diam juga masih mencintai saya walaupun mengakunya sudah tidak.

Tapi bahkan misal kami saling cinta, dia tetap tidak mau ada apapun di antara kami selain teman.

Alasannya: insecure dan segala macam, lalu saya disuruh move on terus darinya. (Walau ketika saya move on betulan, dianya sedih juga, malah mungkin dia yang diam-diam sedih banget)

Dulu, walau saya tahu sih itu wujud kebaikan sekaligus sayangnya pada saya, makanya dia tidak mau bersama saya biar tidak membebani saya, namun saya tetap tak habis pikir pada dirinya yang repot-repot menyiksa diri sendiri.

Tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu.

Hingga suatu hari, setelah beberapa waktu berlalu, dan bahkan setelah sempat ada lelaki lain, saya pun menemukan lelaki lain lagi yang akhirnya bisa menjadi kekasihku betulan, yang secara resmi atau secara teknis kami memang berpacaran. My Lovely Master.

Me (1) x My Master (2)

Ajaibnya, dan baru makin saya sadari belakangan ini, dari awal hubungan saya dengan My Master ini rasanya mirip, hampir seperti mengulang kembali hubungan saya dengan My Twinflame, namun dengan posisi dibalik. Kali ini, saya yang ada di posisi/sudut pandang My Twinflame yang dulu, sedangkan My Master menempati posisi saya yang dulu.

"Perjalanan" saya dengan My Master dimulai bagai judul tulisan ini, Replay. Karena rasanya seperti me-replay kisah lama saya dengan My Twinflame, cuma pemain dan posisinya saja yang berubah. Sekarang menjadi kisah saya dengan My Master.

Tapi nggak sama persis, tentu. Cuma mirip. Lagipula, mau bagaimanapun, saya ya saya, My Twinflame ya dia, dan Masterku ya Masterku. Walau ada di posisi yang sama dengab My Twinflame, tapi ada beberapa pilihan berbeda yang saya ambil dibandingkan dengan yang dipilih oleh My Twinflame. Namun walau begitu, saya tetap dapat "pemahaman" mengapa dulu dia membeginikan saya, membegitukan saya, blablabla... soalnya saya sendiri akhirnya menghadapi situasi mirip dia dulu sehingga terbersit pula pilihan untuk melakukan seperti yang dia lakukan dulu, dan memang saya lakukan yang sama, walau ada pula beberapa pilihan berbeda yang saya ambil.

Begitulah, dan hingga kini saya masih tak paham mengapa takdir saya selucu ini sampai harus me-replay kisah lama saya dengan My Twinflame. :") hahaha...

Jadi curiga, jangan-jangan... nanti si Manis part 2 pun bakalan muncul? Hahaha... kalau dulu pemanisnya adalah My Marshmallow, sekarang mungkin pemanisnya adalah Sang Mawar. Mungkin, baru kemungkinan, karena dia sendiri belum muncul lagi, kalaupun sudah tapi saya belum ketemu dia dan memang sedang "malas" sekali mengurusi persoalan cowok.

Yah, begitulah kisah aneh saya dalam hal "Replay".

Senin, 12 Oktober 2020

Midnight Poem part 3 (23)

Semua
-adoralic-

Masih terngiang-ngiang
Semua kenangan denganmu
Semua
Semuanya

Mulai dari awal, benar-benar awal
Kala pertama kali kutemukan akunmu
Kala tanpa kusadari mengecek akunmu menjadi canduku
Padahal hatiku masih kepada yang lain

Kau memang menarik, amat menarik bagiku
Hingga suatu hari, aku "kelepasan"
Namun justru itulah titik baliknya
Yang mulanya kau tak menyadari keberadaanku, menjadi sadar

Lima bulan kemudian
Tiba-tiba kau menghampiriku
Rasanya bagaikan mimpi paling indah
Sungguh ku tak menyangka

Lebih tak kusangka lagi
Yang berawal dari mimpi indah
Akan diakhiri dengan mimpi yang buruk
Paling buruk, benar-benar yang terburuk

Sekarang, mimpinya masih berjalan
Yang paling buruk di antara yang terburuk
Semua masih berjalan
Menghantuiku, terutama di tiap sepiku

Kini, yang tersisa
Tinggal semua kenangan
Semua yang bisa kuingat
Dan... perasaanku padamu

Entah ini cinta yang mulai tercampur kebencian
Atau kebencian yang masih menyisakan cinta
Aku tak paham, kecuali satu hal
Masih ada cinta di dalamnya

*12 Oktober 2020
Dear My Master, I love you, but I hate you. :")
It's the real nightmare, real nightmare for me. How about you? :")

Sabtu, 03 Oktober 2020

Bagian dari Midnight Poem part 3: more than you see, more than you know

"(Maybe) More Than You See, (Maybe) More Than You Know."

Itu adalah bio profilmu yang lama kan?
Dan aku suka, suka banget kalimat itu. Sampai sekarang. Nggak tahu kenapa, efeknya keren aja di mataku, dampaknya "nggak biasa".

Dan anehnya, kebetulan yang aneh menurutku, kenapa kamu ganti kalimat profilmu itu sehabis kamu sama aku ya? 😅

Ah, tapi bodoamat wkwkwk. Pokoknya keren sih. :v

Kamu keren, kamu memang keren. Di mataku... dari awal kamu memang keren. Aku suka kamu.

Memang aku yang suka kamu, aku duluan yang suka kamu. Dan mungkin bahkan aku suka kamu sendirian, selamanya.

Atau... nggak, sempat keajaiban itu datang padaku. Kurasa, kamu suka aku juga kok, walau bukan suka yang seperti itu. Tapi aku percaya kamu soal ini. :") Atau... bisa jadi juga kamu suka padaku di tengah jalan. Yang awalnya biasa saja, lama-lama... Yah, apapun, kapanpun, pada akhirnya kita saling menyukai kan? :")

Tapi mimpi buruk itu datang padaku. Mimpinya... membuatku sampai nggak bisa bertahan denganmu lagi.

Walau hatiku tetap masih mencintaimu, sungguh-sungguh masih mencintaimu, namun pada akhirnya aku terpaksa menutup buku denganmu.

Tapi, aku rasa, move on darimu nggak mudah, nggak akan mudah.

Dua kali, dua kali. Sudah dua kali aku merasakan yang begini, ini yang kedua.

Dulu aku pernah begini, ternyata harus merasakannya lagi. Belum usai rupanya perjalananku. :") hehehe

Sakit, sedih, merana. Awalnya biasa saja, sok tegar, sok kuat, namun ke belakang-belakangnya... hahahahaha :")

Yah memang, bcz I love you, more than you see, more than you know. Bahkan kutinggalkan engkau juga karena mencintaimu. Biarlah aku masih mencintaimu diam-diam dari sini. :")

I love you, sayangku yang pernah kuharap selamanya. ♡ semoga kamu baik-baik saja, sehat-sehat saja tanpaku. Seperti dulu awal mula kita belum kenal. :")

Minggu, 27 September 2020

Midnight Poem part 3 (22)

Tutup Buku
-adoralic-

Kuakui...
Mimpi
Hanya sekadar mimpi
Hanya itu yang membuatku mundur

Mundur 'tuk kemudian
Menutup bukuku
Tutup buku denganmu
Duhai sayangku yang sempat kupikir selamanya

Mimpi yang terlalu menyakitkan
Membuat kecurigaanku bertunas
Bercabang, kemudian berkembang
Dan menjadi bunga prasangka yang nyata

Padahal hanya mimpi, padahal
Namun apa daya, kurasa memang pertanda
Bahwa ada sesuatu
Atau setidaknya... pertanda

Bahwa doaku terkabul dalam wujud yang lain
Aku harus melupakanmu
Kita tak ditakdirkan bersama
Namun saling mengikhlaskan dan kelak bersanding dengan yang lain

Aku harus melakukannya
Tutup buku akan kisah kita berdua
Dan mungkin kelak suatu hari
Membuka lembaran baru lagi dengan yang lain

*28 September 2020
Dear My Master, yah... yah... yah... memang tak bisa hilang prasangkaku terhadap mimpiku. Setidaknya... itu pertanda aku harus mundur, aku yakin itu.

Terimakasih, sekali lagi terimakasih untuk semuanya. Senang sekali pernah mengenalmu, walau mimpinya menyakitkan. :")

Jumat, 25 September 2020

Midnight Poem part 3 (21)

Akhirnya
-adoralic-

Alur kehidupan
Tiada yang mengetahui
Kecuali semua t'lah terjadi
Termasuk antara aku dan kamu

Oh, ya...
Kini kutersadar...
Meski tak semua terungkap
Tapi aku paham muslihatmu

Dan yang waktu itu, komet
Anggap saja komet
Bintang palsu yang jatuh dari langit
Meluncur dengan bebasnya

Konyol memang
Anak bumi yang awam ini
Tertipu oleh komet
Mengiranya bintang jatuh hadiah dari Tuhan

Tapi tak apa, tak apa
Kala kehilanganmu, namun menemukan Tuhan
Semoga...
Dirimu suatu saat mendapatkan Nya pula

*26 September 2020
Dear My Master, akhirnya aku terkalahkan oleh prasangka, mataku terbuka oleh kecurigaan. Tapi tak apa, tetap kudoakan dirimu. Semoga...

Terimakasih untuk semuanya, temanku. Yang pernah jadi bintang jatuhku, dan Tuan Ketiga Midnight Poem.

Minggu, 23 Agustus 2020

Midnight Poem part 3 (20)

Apalagi Kamu
-adoralic-

Seharian kemarin diriku bersedih
Sedih, karena mendadak ditinggalkan seseorang
Lagi-lagi aku ditinggalkan orang yang berarti bagiku
Dan ujung-ujungnya mengadu padamu pula

Sedih diriku karena kehilangannya
Biar bagaimana pun kami cukup mendalam
Kemudian kusangkut pautkan denganmu
Lalu mulai kuberpikir

Apalagi kamu
Bagaimana jika kamu yang pada akhirnya meninggalkanku?
Apalagi kamu
Ditinggal dirinya saja aku sesedih ini

Apalagi kamu
Bintang jatuhku yang kuharap tak kembali ke langit
Apalagi kamu
Sayangku yang kuharap selamanya

Kuharap kepergian dia pertanda yang baik
Dia memang pergi
Namun kamu tidak
Kamu menetap selamanya denganku

Aku yakin doaku akan dikabulkan Tuhan
Kita akan terus bersama, karena kita...

*24 Agustus 2020
Dear My Master, I love you ♡
Pasti amat sangat menyedihkan sekali misalkan kita suatu hari nanti harus berpisah :") tapi sampai sekarang aku masih yakin itu takkan terjadi. Aku yakin kamu jodohku, yang dikirimkan Allah untuk kuperjuangkan agar bisa menjadi "Sayangku untuk selamanya". Semoga doaku yang ini akan dibalas persis seperti doa itu, bukan dibalas dengan yang lain. Semoga memang kita yang terbaik, hingga Allah memberiku kamu, dan kamu diberikan aku. Aamiin yaa rabbal aalamiin.

Kamis, 13 Agustus 2020

Midnight Poem part 3 (19)

Terlalu Manis
-adoralic-

Apakah hanya aku yang merasakan?
Kita yang terlalu manis
Hubungan kita pada tiap harinya
Singkat namun terasa dekat

Apakah hanya aku yang merasakan?
Kita yang terlalu manis
Hampir tiap hari saling menyapa
Jika tidak terasa hampa

Apakah hanya aku yang merasakan?
Kita yang terlalu manis
Terlalu manis untuk dipisahkan
Terlalu sayang untuk saling melepas

Apakah hanya aku yang merasakan?
Kita yang terlalu manis
Terlalu manis untuk tidak menjadi satu
Terlalu manis untuk tidak bersama selamanya

Aku dan kamu, kita cocoknya selamanya
Dan aku percaya Tuhan akan mendengarkan kata-kataku

*14 Agustus 2020
Dear sayangku yang kuharap selamanya, yang terlalu manis untuk tak kucintai, aku masih sayang kamu. ♡♡♡ Semoga Tuhan juga sangat sayang dengan kita, hingga kita bisa dibersamakan nantinya di waktu yang terbaik. Aamiin yaa rabbal aalamiin. :)

Btw ini sebenarnya mau ditulis kemarin, apa daya lupa hahaha XD


Selasa, 04 Agustus 2020

Midnight Poem part 3 (18)

Kala Kumenangisimu
-adoralic-

Makin kumati, aku makin tak mengerti
Ketika pikiranku tenang, hatiku yang berkecamuk
Giliran hatiku tenang, pikiranku yang berkecamuk
Pada akhirnya aku hanya bisa menangis jika sudah tak tahan

Katakan saja ini lemah
Atau apapun semacam itu
Aku yang menangisimu
Masih sering terisak-isak kala mengingatmu

Apa yaa... apa yaa...
Bahkan aku tak tahu apa yang kusayangkan dari semua ini
Tak paham
Bukankah hal seperti ini sangat wajar terjadi ya?

Bukankah ini klise?
Bukankah ini kisah mainstream?
Bukankah ini realistis?
Bukankah ini jika dipikirkan serius malah menguntungkan aku?

Aku tak paham, sungguh tak paham
Mengapa air mata ini masih mengalir dengan derasnya
Bahkan walau pikiranku telah berdamai dengan realita
Dan mulai membuat rencana baru

Yang tanpa kamu
Tiada kamunya
Apa karena ini ya aku merasa sakit?
Padahal bukankah bersama denganmu memang tak realistis ya?

Bahkan bukan aku yang bilang begitu, kamu yang bilang
Kamu jua yang memilih untuk tak bersamaku kan?
Mengapa aku yang sedih?
Mengapa aku yang sedih sampai sebegininya?

Sakit, sedih, bukan salah siapa-siapa namun menyakitkan
Padahal aku jarang betulan ingin bersama orang
Tapi aku ingin bersamamu, apalagi ini kamu
Orang yang dulu tak berani kuharapkan muncul, dan suatu hari malah muncul

Pada akhirnya aku tersadar
Memang aku mencintaimu sungguhan
Dan gara-gara perasaan inilah aku jadi sebegininya
Padamu, bahkan meski tak realistis sekalipun

Otakku berkata tidak bisa, ia mengakui kata-katamu
Kita memang tak realistis, aku makin paham
Namun hatiku berkata "masih ada asa walau hanya setitik"
Masih ada, selama kamu belum sah termiliki yang lain

Otakku bilang, mulai lah lembar yang baru
Dia yang melepasmu duluan
Sedangkan hatiku berkata, ingatlah, sesungguhnya dia tak ikhlas kehilanganmu
Sesungguhnya dia sama sepertimu

Lalu aku harus bagaimana?
Otakku tahu, namun hatiku tak tahu
Mungkin hanya bisa mengadu pada Tuhan ya?
Tuhan, aku harus bagaimana bila terlanjur mencintainya sebegini?

Tuhan, apakah ini cinta?
Atau hanya sekadar obsesiku semata?
Tuhan... berikan yang terbaik buat kami berdua, dan bantulah bagi kami untuk ikhlas pada apapun hasilnya
Terutama bila memang kami sesungguhnya merasakan rasa yang betulan sama

*4 Agustus 2020
Bercucuran air mata, aku kebingungan. Serius, aku bingung. Bertanya-tanya: "Kenapa aku masih memikirkan, bahkan mengharapkan orang yang sudah melepaskanku?"

Kalau dipikir-pikir, mungkin bahkan harusnya aku bersyukur dilepas olehmu, artinya kesempatanku, duniaku, masih luas, bebas, seperti mauku dulu.

Tapi... kalau harus kehilangan kamu... apalah arti kebebasan itu? Dan... kalau aku dapat kebebasan namun kehilanganmu padahal tak ingin, apakah itu adalah sebuah kebebasan?

Memang cinta tuh selalu begini ya :") aku cinta kamu, Master. :" masih, sayangku yang kuharap selamanya.


Sabtu, 25 Juli 2020

Bagian dari Midnight Poem part 3: mewakili

Dear My Master,

Yang masih kucintai
Yang tiap baru bangun tidur masih menjadi orang pertama yang terlintas dalam benakku
Yang dengan anehnya bisa membuatku kangen
Yang masih kuharapkan bisa menjadi "sayangku" untuk selamanya
Bahkan meski kau tak mau, ku masih berharap, dan berdoa
Semoga akhirnya kita bersama, kau takkan pergi dariku
Sebagaimana aku tak ingin pergi darimu
Kita bersama, bersatu, menjalani kehidupan ke depan berdampingan, hingga menua bersama

Ah, iya... kutemukan ini, kata-kata yang sangat mewakili harapku...


Semoga, ketika pikiran telah berkelana dan berangan-angan
Ketika kata-kata telah banyak terukir 'tuk menjabarkan angan
Dan doa pun telah dilangitkan
Semua kata, doa, dan harap yang telah keluar itu akan mewujud menjadi nyata
Aamiin yaa rabbal aalamiin
Tuhan, tolong kabulkan pintaku ini, jika memang itu yang terbaik bagi semua pihak

*26 Juli 2020
Aku, yang mencintaimu lewat jalur keajaiban.

Senin, 20 Juli 2020

Bagian dari Midnight Poem part 3: Surat untuk pasangan di masa depan

Sesungguhnya (setidaknya) untuk saat ini saya berharap, bahkan mungkin sangat berharap, bahkan misal dianya tak berharap sedalam harapan saya sekalipun, pasangan saya saat ini yang akan jadi pasangan saya di masa depan, dan seterusnya. Sampai maut memisahkan kami, bahkan sampai di surga. Aamiin yaa rabbal aalamiin.

Jadi, anggap saja surat ini buat dia. Kalau bukan dia… belum terbayang sih.


Hai sayangku,

Sudah pernah kubilang kan, kita akan menjadi. Sudah kubilang, apa yang pernah kuangankan akan jadi milikku. Sudah kubilang kita ini ajaib. Berawal dari keajaiban, tentu harus diakhiri dengan keajaiban pula. Dan bisa bersatu denganmu, pada akhirnya adalah salah satu keajaiban di antara sekian keajaiban yang meliputi kita.

Segala lelah, sedih, risau dan kebingungan kita yang dulu, akhirnya terbayar. Tak sia-sia segala hal tidak menyenangkan yang telah kita lalui, akhirnya berbuah manis.

Berat, memang berat. Jalan kita tak mulus, bahkan seolah tak realistis. Adaaaaa saja rintangannya. Namun, ada pula keajaiban yang selalu menyertai, hingga kita mampu melalui.

Aku termasuk orang yang percaya pada keajaiban, mungkin karena aku sendiri adalah orang yang "ajaib". Dan ajaibnya, aku mencintaimu. Lebih ajaib lagi karena kamu merasakan yang tak jauh beda.

Semoga, ketika bersama denganmu, aku selalu bisa menjadi keajaiban bagimu, sebagaimana artimu untukku. Menjadi salah satu alasanmu tetap bisa tersenyum di dunia ini, kalau perlu jadi alasan utamamu. Sekaligus penghapus lukamu, atau pelipur laramu, jika ada.

Aku sayang kamu, selalu. Dan semoga… keajaiban ini selalu bertahan di antara kita, agar kita tetap terus bersama. :)

With Love,

Sayangmu, walau tak pernah kau panggil demikian.


Berangan-angan saja dulu. Tapi semoga saja betulan kesampaian. Aamiin yaa rabbal aalamiin.

Still praying and waiting seriously for miracle.

20/07/20

I Love you… My Master. ♡

Sabtu, 18 Juli 2020

Midnight Poem part 3 (17)

Wujud yang Lain
-aeliceyu-

Kian hari, kian kupikirkan
Kutak rela jika kita berakhir begitu saja
Bahkan meski aku dapat "jawaban" yang lain
Tetaplah kamu kini, dan masih, di hatiku

Aku mencintaimu, sayangku
Walau jika boleh jujur, hatiku mungkin masih bercabang
Aku mencintaimu, jatuh cinta sesungguhnya padamu
Namun sungguh memang ku seorang yang poliamori

Mencintai bagiku seperti bersahabat
Ku tak pedulikan jumlah orangnya
Yang kupedulikan hanya perasaanku
Setulus, seniat, dan sesetia apa diriku pada semua yang kucintai

Namun, jikalau mencintai dengan komitmen
Aku akan setia hanya pada kawan berikrarku seorang
Maka jika berikrar denganmu
Tentu cintaku hanya kuwujudkan padamu

Dan kau bukan pelampiasan, sungguh
Hatiku hanya bercabang, cintaku tak cuma untukmu
Namun tak berarti perasaanku padamu main-main
Sebagaimana pula perasaanku padanya

Dan kini, tentu kurasakan sakit di hati
Karena harus kehilanganmu, kekasihku yang amat kucintai
Kehilangan harapan merajut masa depan denganmu
Wahai bintangku yang sempat jatuh untukku

Tetapi tetap kupikirkan cara
Bagaimana agar kita dapat tetap merajut kasih yang tak terputus
Meski apapun yang terjadi nanti
Karena... sungguh... ku tak ingin kehilanganmu :"

Kurasa mungkin...
Kita bisa mengubah rasa cinta kita
Dalam wujud yang lain
Biar rasa suka dan sayang ini dapat terpatri abadi

Mungkin, kamu... kakakku?
Dan aku, mungkin, kini... adikmu?
Sudikah engkau...
Menjadi kakak tercinta bagi adikmu tersayang ini?

*18 Juli 2020
Dear My Master, bagaimana jika kita menjadi "kakak-adik" saja? Kakak-adek zone? :") hehehe... karena sumpah... aku tak rela menjadi mantanmu :")

Mungkin kita bisa seperti... ini, Master? :") ha ha ha... *sad

Rabu, 15 Juli 2020

Midnight Poem part 3 (16)

Sungguhkah Kita Berakhir Begini?
-aeliceyu-

Tak kusangka, rupanya begini
Awan mendung kelabu yang kulihat
Yang selalu menggelayutimu
Rupanya adalah tanda kita tak bisa bersama

Rupanya bintang jatuh hanya sementara
Karena bintang yang telah jatuh, ingin kembali pulang
Ia pikir jatuhnya tanpa masalah
Rupanya keadaan langit tak berpihak padanya

Ia... pada akhirnya akan pulang ke langit
Dan ingin mengajakku, namun hanya sebatas angan
Tak sungguhan mengajakku
Karena tak realistis baginya

Bintang jatuh... oh bintang jatuh
Mengapa kamu harus jatuh di hadapanku jika pada akhirnya begini?
Aku jadi kehilangan sekaligus dua...
Kamu yang di langit, dan kamu yang disisiku

Berat memang, selalu berat kehilangan
Apalagi jika kehilangan dua sekaligus
Namun... apa boleh buat?
Hanya saja... tak adakah keajaiban yang bisa mempersatukan kita?

Atau setidaknya membalik hatimu, agar sudi memperjuangkanku dulu
Seperti aku yang sebelumnya telah berjuang untukmu
Atau memanglah... seperti kata bunga tidurku
Jangan terlalu mempercayai bintangmu karena dia "seperti itu"

Pada akhirnya, kita berubah
Hubunganku dan kamu... berubah
Meski cinta ini belum berubah, namun demi kebaikanku...
Lebih baik pelan-pelan melepaskanmu

*16 Juli 2020
Dear My Master, kupikir di sana kamu memperjuangkanku, ternyata tak melakukan apapun dan hanya menunggu keajaiban? Hahaha :")
Apa boleh buat, tentu akan kutinggalkan orang yang tak ingin dipertahankan olehku.

Kamis, 02 Juli 2020

Midnight Poem part 3 (16)

Merindukanmu
-aeliceyu-

Merindukanmu, aku
Padahal baru sebentar saja tanpamu
Mengapa harus kurasakan sampai begini
Sungguh ini berlebihan

Walau bahkan kumencintaimu
Namun tak bisakah rasa macam ini terkendali saja?
Yang tenang...
Tak perlulah segala resah dan gelisah itu

Aku merinduimu
Padahal baru sebentar
Bagaimana bila lebih lama lagi?
Sungguh, bagaimanalah?

Namun, kerinduan yang menyiksa bagai candu tak terpenuhi
Yang membuat dalam hati dan kepala menggaungkan namamu
Yang seolah menyakitkan ini
Sesungguhnya sangat kuresapi dan nikmati tiap sentuhan sakitnya

Ingin kukembali padamu sesegera mungkin
Sekaligus ingin kumenjauh lebih lama darimu
Aku benci kerinduan ini
Sekaligus mencintai tiap keresahan yang nikmat ini

*2 Juli 2020
Dear my Master, I miss you :3
Tapi... kita "main-main" dulu ya. Sekarang, aku mau jaga jarak dulu, dan menyiksa perasaanku sendiri. Karena aku... benci sekaligus menikmati kesakitan ini. Aku rindu kamu, ini menyiksa, sekaligus menyenangkan. Makanya kujauhi dulu dirimu untuk sementara. Maaf ya. :)

Selasa, 23 Juni 2020

Midnight Poem part 3 (15)

Mirip
-adoralic-

Makin lama makin kusadari
Kau mirip sekali dengannya
Sosok yang kurindukan dan ingin sekali kupeluk
Sekaligus membuatku ingin menangis

Cil, kujuluki demikian
Ia adalah diriku yang lampau
Diri dari masa lalu
Aku yang sangat kusukai

Sayangnya, Cil tak sepenuhnya bahagia
Tentu, tak ada manusia yang bahagianya paripurna
Sebagaimana pula Cil
Yang menjalani cukup banyak kepahitan hidup pada masa belianya

Cil yang sangat kusukai, kurindukan
Sekaligus membangkitkan kenangan pahit
Cil yang telah lama menghilang dariku karena berbagai hal
Mengapa harus bertemu lagi?

Dan mengapa harus bertemu lagi dalam sosok dirimu?
Wahai Masterku yang kucintai...

*24 Juni 2020
Dear my lovely Master... mengapa kamu mirip dengan Cil? Makin lama makin mirip, sampai takjub sendiri aku dibuatnya.
Aku jadi makin menyadari, alasan mengapa kita "bertemu" dan "dipertemukan", dan mengapa kita harus bersama. Karena kamu memang bagian dari diriku yang hilang dan kurindukan. :")

Kamis, 11 Juni 2020

Midnight Poem part 3 (14)

Jika Kata Adalah Doa
-adoralic-

Teringat awal mulanya
Ketika daku membayangkan dirimu
Dan sebaris kata terbetik dalam hati
Untuk kemudian membuatku tersenyum geli

Teringat awal mulanya
Ketika kawanku berkata
"Tuhan tak mengizinkanmu bermain-main"
"Beliau menginginkanmu berada pada jalur yang benar"

Teringat pula kata kawanku yang lain
"Kau tak cocok mengejar, kau cocoknya dengan yang saling"
Dan kata-kata lain
Dari orang yang berlainan

Semua kata tersebut, semua menjadi terlihat
Maknanya, dan hubungannya
Dan mengapa aku harus mendengar itu semua
Ternyata kamulah kuncinya

Ketika kamu muncul, semuanya jadi terpampang jelas
Aku paham, paham, dan paham
Terlalu banyak kata terucap di masa lalu
Dan terlalu banyak yang terbukti setelah kemunculanmu

Mungkin kata memanglah doa
Ya, kata adalah doa
Maka jika kata adalah doa
Aku akan berkata

Aku dan kamu, kita akan bersatu, bersama
Selamanya, hingga di surga nanti
Tuhan kita merestui kita
Maka alam semesta-Nya pun akan mempersatukan kita

Aamiin yaa rabbal aalamiin

*12 Juni 2020
Dear my master, aku selalu menangis tiapkali membayangkan misalkan berpisah denganmu. Bahkan meski aku yakin kita akan bersama, tapi selama belum terjadi kan tak ada yang tahu.
Namun ketika teringat jika kata-kata adalah doa, dan bagaimana awal mulaku kepadamu, semua kata-kata yang bermunculan dalam hidupku dan mengarah padamu, hingga kamu betulan hadir, aku jadi tak sedih lagi.
Aku sayang kamu, i love you. Semoga kita bahagia bersama. Semoga kamu adalah orang yang akan mendampingiku di dunia ini hingga menua bersama. Aamiin. :)

Rabu, 10 Juni 2020

Midnight Poem part 3 (13)

Yakin dan Rindu
-adoralic-

Keyakinan ini mengakar kuat
Entah mengapa
Bahkan meski ada warta yang mengguncang
Namun keyakinan ini tiada memudar

Hanya saja tetap
Yang belum terjadi tetaplah belum fakta
Seyakin apapun, jika pada akhirnya tak terjadi
Namanya hanya tersebut sebagai wacana

Yakin, namun sekaligus memikirkan wacana
Kurasa siap menghadapi wacana
Namun pasti menyakitkan, pasti menyakitkan
Tiada pelepasan tanpa rasa sakit, kecuali tanpa rasa sedari awal

Membayangkan suatu saat pelepasan tersebut
Tiba-tiba kumenjadi rindu
Rindu, karena membayangkan t'lah melepaskan
Dan lagi-lagi kehilangan

Memang tiada yang kumiliki di dunia yang fana ini
Hanya saja...
"Kau takkan kemana-mana"
Itulah yang paling kuharapkan

Semoga... semoga...
Kau memang takkan kemana-mana

*10 Juni 2020
Dear My Master... kalau boleh berharap, tetaplah bersamaku, dampingi aku, dan beradalah di sisiku, hingga kita menua bersama.


Jumat, 29 Mei 2020

Midnight Poem part 3 (12)

You're My Fairy Tale
-adoralic-

Kumenemukanmu dalam kekaguman
Merajutmu dalam imajinasiku
Memuliakanmu dalam kepalaku
Mengagumimu dari kejauhan

Kemudian bagaikan mimpi
Kau datang padaku, dengan cara tak biasa
Tak biasa seperti tak biasanya kamu
Dan malah membuat hidupku mirip tayangan drama

Lalu, seolah masih kurang serupa dengan drama
Muncul lagi suatu keanehan yang lain
Anime itu...
Ah... anime itu...

Mengapa...
Mengapa tokohnya harus mirip denganmu
Dan mengapa aku harus mencari tahunya
Untuk kemudian menemukan fakta bahwa...

Mirip...
Bukan hanya kamu, aku pun
Pasangannya, gadis tokoh anime itu
Mirip aku, sebagaimana kamu mirip pria itu

Dan alurnya...
Mengingatkanku pada alur milik kita
Serta alur hidupku sendiri
Aku mirip dengannya, gadis anime itu

Dan caranya memandang pria itu
Mencintainya, menyayanginya, memperhatikannya
Itu adalah bagaimana diriku kepadamu
Serupa, bahkan meski kami tokoh yang berbeda

Ahhh... dan jangan lupakan... boneka itu
Sungguh, kutak paham mengapa
Bahkan hingga detail kecil sekalipun
Mengapa semua terlihat amat sangat kebetulan?

Kebetulan, apakah itu ada?
Jika ada, benarkah memang seperti ini?
Benar-benar mengejutkan
Sekaligus menakjubkan

Sungguh kutak paham, mengapa semuanya begini
Kecuali jadi menyadari sesuatu
You're My Fairy Tale

Karena setelah aku menemukanmu
Tiba-tiba semua hal ajaib yang seolah dongeng, muncul

*29 Mei 2020
Dear My Master, ini gilaaaa XD
If you're Elias, i think, i'll love you as same as Chise love Elias. :)