Senin, 26 September 2022

Kehilangan Teman

Aku pernah mencintainya, tapi kami cuma teman.

Atau mungkin sahabat, aku menyebutnya demikian.

Aku pernah mencintai dia, sahabatku, namun itu sesuatu yang dianggap salah. Bukan rasa cintanya yang salah, tetap bilamana perasaan itu dilanjutkan dengan perbuatan "ingin memilikinya", maka itu akan menjadi salah.

Kami berada di usia dan fase kehidupan yang jauh berbeda. Bahkan meski bisa bersahabat, bahkan meski saling mencintai, kami takkan bisa menjadi pasangan, kecuali telah berdiri di titik yang sejajar. Intinya, berbagai aturan yang ada di dunia ini akan menentang itu.

Jadi kami memang berteman, hanya berteman.
Meski tatapan mata kami dulu saling menyiratkan cinta dan kasih sayang, ketika senyum terindah kami suguhkan untuk satu sama lain, dan ketika kami sering mencuri-curi kesempatan agar bisa menghabiskan waktu berdua saja, seolah dunia hanyalah milik kami. Atau di kala kami berpelukan dan bergandeng tangan. Atau di kala dia menggambar untukku, atau aku berkisah untuknya, atau kami memainkan beberapa permainan bersama, atau saat dia mengikuti diriku kemana saja kakiku melangkah. Ah, indahnya momen kala itu, aku sangat merindukannya. I miss him and our moment, a lot.

Karena pada suatu ketika, salah satu dari kami harus berpindah lokasi, mengakibatkan aku harus berpisah dengannya, satu-satunya kawan terbaikku di tempat itu, kawan kesayanganku. Aku menangis, air mataku mengalir deras di hari itu, sangat sedih karena harus berpisah dengannya. Ia pun demikian, bahkan terlihat lebih sedih dan terpukul karena perpisahan kami, lebih daripada aku sendiri. Entah kapan dan di mana kami bisa berjumpa kembali (maksudnya berjumpa di dunia nyata, kalau di dunia maya kami masih bisa berhubungan). Apakah kelak kami akan bisa berjumpa kembali?

Di satu sisi aku lega, karena perpisahan kami akan menjadi suatu "batasan aman" bagi kami, yang memang tidak bisa bersama. Namun di sisi lain, menyakitkan… yang namanya perpisahan itu memang selalu menyakitkan hati :")
Pada akhirnya, aku ingin bilang pada kawan kesayanganku yang masih muda itu…

Aku sayang kamu, kawan. Aku merindukan bisa bercengkerama di dunia nyata denganmu seperti dulu. Aku rindu kebersamaan kita yang dulu. Dan… aku akan ingat kamu terus, semoga kamu tetap ingat aku juga. Entah nantinya kita akan bisa bertemu lagi atau tidak, yang jelas: senang bisa mengenalmu, kawanku. :)


*26/9/22
From A, to F, with H. I miss you :")

Senin, 08 Agustus 2022

Midnight Poem part 5 (1) : The Real Midnight Poem part 5, My Star ☆

Kau yang Seperti Bintang
-adoralic-

Sejak awal kau muncul
Aku menyebutmu bintang
Mengapa demikian?
Entahlah, mulanya intuitif saja

Namun ternyata, ucapan adalah doa
Nama pun demikian, nama adalah doa
Begitu pulakah dengan julukan?
Kurasa demikian

Awalnya biasa, namun terasa familiar
Seperti sudah mengenalmu, namun versi yang lain
Kau awalnya pendiam di hadapanku
Aku pun demikian

Diam dan tenang, biasa saja
Tidak jauh, tapi tidak dekat
Mulanya begitu, meski diam-diam kupikir kau sesosok yang karismatik
Lalu tahu-tahu kita berubah lebih dekat, lupa sejak kapan tepatnya

Puncaknya, kita mulai bermain bersama
Di saat senggangmu, dan senggangku
Kau yang menunggu teman pulangmu, aku menunggu waktu pulang
Kita menunggu berdua, bicara banyak

Tiba-tiba kau mengatakan sesuatu di tengah obrolan
Dengan gaya khasmu saat bercanda
Namun ucapanmu saat itu malah buat aku yakin
Jangan-jangan kaulah yang kucari selama ini

"Sebelum aku lahir, aku sudah bertemu kamu"
Ujarmu kala itu
"Hari ini aku bertemu kamu"
"Nanti juga bertemu kamu, kita akan bertemu terus"

Ya, kita akan bertemu terus
Aku dan kamu
Kalimat yang aku harap muncul dari seseorang yang kunanti selama ini
Nyatanya itu muncul darimu

Sejak itu, perasaanku mulai berubah
Yang awalnya hanya merasa familiar dan anggap kau karismatik
Berubah menjadi sangat tertarik, bahkan mulai suka
Adakah aku bisa terkoneksi dengan anak kecil?

Kemudian, beberapa hari setelahnya, kutemukan jawabnya
Mengapa kau dewasa meski berada dalam tubuh yang mungil
Mengapa kau karismatik padahal masih belia
Dan mengapa aku bisa "melihat"mu yang seperti itu

Ternyata oh ternyata, kamu pun bukan orang biasa seperti aku
Lucunya hidup ini
Pada akhirnya, apapun yang sefrekuensi akan saling menarik
Hingga di titik tertentu bertemu

Seperti aku dan kamu, yang telah bertemu (lagi)
Dan mungkin suatu saat perasaanku padamu?
Entahlah... perasaan ini sulit, aku malah menyukaimu
Tapi sekaligus menyenangkan, membuatku sedikit lebih hidup

Dan julukan bintang itu...
Kini kau adalah bintang, bintang kecilku
Bintang kecilku yang berkelip di gelap malamku
Sedikit memberikan cahaya dalam gelap hidupku

Cahaya yang mandiri, berasal dari dirimu sendiri
Cahaya yang asli, bukan cahaya semu
Dengan atau tanpa aku, kamu akan tetap bersinar
Dan dengan atau tanpa kamu, mungkin aku juga harus siap

Hingga kini, ajaib
Aku tak paham hubungan kita bagaimana
Dan akan ke mana arahnya
Apakah kau juga demikian?

Yang kutahu, aku ingin...
Ingin menyayangimu, ingin bersama kamu, ingin tersenyum bersamamu
Ingin menangis bersamamu tapi tanpa membuatmu menangis
Aku ingin lihat kamu bahagia, dan di dalam momenmu ada aku

Misalkan kamu menangis, aku ingin bisa menenangkan kamu
Misal kamu sakit, ingin melihatmu dan merawatmu
Misal... misal... ya, misal
Tapi, apakah itu mungkin?

Yang bisa kulakukan saat ini adalah sebatas...
Menjadi bestiemu
Bukan karena aku takut perasaanku ditolak kamu
Namun aku benci realita, dan tak ingin kamu terluka gara-gara itu

Kalau dirimu sendiri... berpikir apa tentang daku?
Hingga mengirimiku lambang hati merah, kemudian kabur
Entah kau paham artinya itu atau tidak, tapi aku yakin kau sayang aku
Sama seperti aku yang sayang kamu

*8 Agustus 2022
Dear Tuan Midnight Poem kelima, kau masih belia ya. Tapi di dalammu kakek-kakek 88 tahun nggak sih? Hahaha :p
Aku sayang kamu, terima kasih sudah hadir ke kehidupanku yang chaos ini, dan menjadi bintang kecilku yang berkerlip indah, memberikan sedikit cahaya cantik di dalam hidupku. ♡